Pelawak yang satu ini cukup lama bergelut melawan kemiskinan. Beruntung ia tidak jatuh ke dalam kubangan alkohol atau narkotika. Justru ia melesak dalam “pelukan” Tuhan. Miing, begitu nama kondangnya. Berjas hitam, kemeja biru laut dengan kerah warna putih, dengan dasi warna merah, ia menuturkan pengalaman religiusnya kepada Imam Setyobudi dari Panji, suatu siang di kantornya, dilengkapi perbincangan per telepon dengan Hamid Ahmad.
Pernah saya marah besar pada anak saya. Ceritanya, dia baru belajar karate. Eh, sampai di rumah, pembantu dijadikan sansak: ditendang-tendangi. Saya suruh dia duduk di bawah. Saya bilang, pembantu di rumah itu sama dengan saya pergi ke kantor. Saya bekerja di kantor, dia bekerja di rumah. Hanya beda medianya. “Kamu pikir kalau kamu dewasa nanti akan mampu membayar pembantu? Belum tentu.” Untuk memberi pelajaran, saya siram kepalanya pakai teh agak panas. Tapi sekali saja saya melakukan itu, tak akan saya ulang.
Itu penting untuk menanamkan nilai-nilai, agar dia bisa menghargai orang lain. Kalau di rumah anak kita tidak mampu menghargai profesi pembantu rumah tangga, jangan harap dia akan mampu menghargai orang lain. Tanpa mengajarkan anak bagaimana menghargai orang lain, ia akan menjadi sombong. Dia menjadi tidak tahu bahwa di dunia ini masih ada orang lain yang berhak hidup di atas dunia ini. Saya mengajarkan bahwa Allah tidak suka kepada hamba-Nya yang berjalan di atas muka bumi dengan congkak dan sombong.
Bicara soal pendidikan anak, saya menerapkan sebagian yang saya peroleh dari orangtua. Saya punya cerita. Entah berapa umur saya, saya ingat waktu itu bulan puasa. Saya diajak kakak yang nomor dua jalan-jalan ke kawasan perkebunan karet Belanda. Kurang lebih 6 km, jadi pulang pergi 12 km. Karena perjalanan begitu jauhnya, kami sangat lelah. Ada tukang cincau lewat, kakak saya memanggil, dan kami minum. Batal sudah puasa kami.
Celakanya kakak saya bercerita kepada Ibu, dan Ibu menceritakannya kepada Ayah. Saat berbuka puasa, keadaan biasa saja. Ayah tampak diam. Waktu makan sahur, saya diberi setagen, suruh mengikat kakak saya. “Kamu tahu kenapa diikat? Saya cuman ingin anak saya jujur. Saya tidak akan bahagia anak saya kaya raya tapi tidak jujur,” katanya. Terus ayah saya mengikat tangan saya ke belakang ke kursi.
“Ayo, jawab!” bentaknya. Dia hantam meja dengan rotan sepanjang lengan yang biasa dibawa kalau dia mengajar kami mengaji. Derrr. “Jawab! Kenapa saya ikat kalian?”
“Ya, saya salah. Dedi salah. Saya tidak puasa,” saya mengaku.
“Terima kasih,” kata ayah. “Besok-besok saya tidak mau kejadian ini terulang kembali.”
Dari situ, saya sampai tua sekarang puasa terus. Saya sendiri sudah belajar puasa sejak kelas satu SD. Sudah puasa penuh. Memang otoriter, tetapi cara seperti itu tidak saya adopsi seluruhnya.
ljtihad
Dalam urusan agama banyak orang bersikap taklid. Nurut agama orangtua. Dalam hal ini, justru saya bersyukur karena dilahirkan sebagai orang kampung, sehingga sejak kecil saya sudah mendapat gemblengan agama.
Ayah saya, Tubagus Edy Syadeli, disegani di kampung kami. Mungkin karena sikapnya, tapi bukan dari segi materi. Kami keluarga pas-pasan. Pernah di hari lebaran saya dan Didin, adik saya, mancing di empang, belakang rumah, sementara teman-teman kami bertamasya ke Pantai Carita.
Seperti anak-anak kampung saya lainnya, saya sekolah di dua tempat. Pagi di SD, siangnya di madrasah. Malam hari, selepas salat magrib, kami mengaji di rumah, ayah yang mengajar. “Sempat pula di rumah diajar beberapa guru ngaji. Kami juga sempat belajar mengaji di luar rumah bersama teman-teman. Ayah saya sangat menekankan, mengaji itu harus bener tajwidnya. Jadi, setiap selesai saya mengaji di luar, bacaan saya selalu diperiksanya.
Saya pun belajar dari orang tua soal nilai-nilai. Hasilnya? Sampai sekarang saya tidak suka kalau melihat orang tidak mau lewat jembatan penyeberangan tetapi cukup lewat di bawahnya. Saya benci terhadap orang seperti itu. Saya benci melihat orang mengendarai motor tanpa mengenakan helm. Kalau buat saya itu budaya rendah. Seperti saat kampanye itu banyak yang tidak mengenakan helm. Sampai SMP, orangtua masih mengatur saya. Bahkan sampai ketas dua SMP, baju main saya dan Didin masih seragam. Warnanya sama, potongannya sama. Sampai potongan rambut pun sama. Percaya tidak, sampai SMP ayah masih menggosok badan saya, menyabuninya. Saya baru lepas dari orang tua setelah lulus SMP. Saya ke Jakarta, menumpang di rumah kakak. Impian orangtua, saya kelak bisa jadi “tukang insinyur”. Saya pun masuk ke Sekolah Teknik Menengah (STM) Negeri III.
Banyak anak yang terkontaminasi oleh hingar bingarnya Jakarta. Alhamdulillah, saya sampai sekarang belum pernah sedikit pun melihat alkohol meleler di bibir. Saya boleh gondrong, tapi saya tidak pernah meninggalkan kewajiban agama. Saya biasa jalan kaki ke sekolah siang hari. Sebelum masuk sekolah, saya sempatkan dulu ke musala, salat zuhur. Begitu waktu istirahat tiba, saya sempatkan salat asar, dan salat magrib sebelum pulang.
Di Jakarta saya mulai terlibat pencarian jati diri, pencarian kebenaran. Istilahnya, sebagai muslim saya mulai berijtihad, tidak sekadar bertaklid dalam beragama. Lebih-lebih setelah saya semakin merasakan penderitaan karena kesulitan ekonomi. Apa yang harus saya lakukan? Saya sudah kadung diberi status oleh Allah sebagai makhluk yang mulia, sebagai khalifah di muka bumi. Artinya pemimpin di muka bumi. Masak hanya gara-gara orang tua kita sibuk terus minum pil BK? Kan tolol banget, lemah banget. Allah tidak suka pada makhluk yang lemah.
Ijtihad itu semakin menggebu, terutama setelah tamat dari STM pada 1978, karena tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliah, sementara orang lain bisa. Kebetulan, di Jakarta saya mulai tertarik dengan lawak. Lebih-lebih setelah adik saya menyusul ke Jakarta. Kami sering menonton lawakan di Ancol atau tempat-tempat Iain.
Saat itu kami masih kos di sebuah rumah petak yang sempit bilangan Tanjung Duren Jakarta Barat. Kami coba-coba membentuk grup lawak. Ikut lomba lawak pada 1978 hingga mencapai final. Setelah itu kami mulai lebih sering dapat undangan, tapi “Bagito” masih tetap-tetap grup lawak tingkat RT. Order yang mampir paling-paling untuk perayaan “kartinian” atau tjuhbelasan” dari sekolah-sekolah. Toh kami masih bisa bersyukur.
Bersamaan dengan booming lawak tahun 1980-an, Bagito diundang manggung di hotel Preanger, Bandung. Bayarannya lumayan besar, Rp100 ribu. Yang hadir termasuk Gubernur DKI Tjokropranolo dan Gubernur Jabar Aang Kunaefi. Apa lacur. Lawakan kami tak mengundang tawa. Seluruh personil Bagito malu berat.
Kami tak surut. Suatu kali, saya dan kawan-kawan ngeluyur ke Ancol, Jakarta Utara, adu lucu dalam lomba lawak tingkat remaja. Kami meraih juara pertama, hadiahnya Rp25 ribu dan sejumlah tiket gratis masuk Ancol.
Ada petugas acara di Ancol yang berbaik hati memberi kesempatan untuk tampil sekitar 30 menit. Kalau penonton menyambut baik, terus sampai 45 menit, kalau tidak, stop saja. Kami sempat main di panggung belakang Seaside Cottage, dan di beberapa panggung terbuka di Ancol. Bahkan kami pernah mengasong di night club atau kelab malam. Hotel Marcopolo dan Blue Moon Night, misalnya, mau menerima kehadiran kami. Bersambung
Penulis: Imam Setyobudi dan Hamid Ahmad
Sumber: Panji Masyarakat, 23 Juni 1999
