Cakrawala

Sayangilah, Maka Engkau Disayangi

Written by Panji Masyarakat

Kasih sayang merupakan kebutuhan dan sekaligus berkekuatan yang paling penting dalam membentukan kehidupan fisik, emosional, dan spiritual manusia. Sedangkan kebeningan hati merupakan ruang yang memproduk kesejatian kasih sayang.

Drama kekerasan masih belum juga reda di negrei ini. Pelanggaran HAM kian meradang di berbagai tempat. Tampak banyak orang yang telah kehilangan akal sehatnya:  tak lagi mampu mengendalikan hasrat berkuasanya, kemudian membeli hasrat tersebut dengan pikiran-pikiran jahat, tindakan-tindakan gila, dan aksi-aksi menyeramkan yang meneror psikologi masyarakat.

Anomali dan anomi terjadi di mana-mana. Rakyat diajari mencintai tapi tak pernah dicintai. Rakyat dikhotbahi tentang keadilan dan kejujuran, tapi mereka  sendiri yang justru menjadi objek ketidakadilan dan ketidakjujuran. Agama yang mengajarkan kesejukan, oleh sebagian pemeluknya justru di tampilkan dengan wajah yang amat garang. Agama dikendalikan oleh kepentingan yang sangat nafsuistis dan hedonistis.

Mengapa suasana seperti itu terjadi? Menurut saya, penyebabnya adalah matinya kasih sayang. Peristiwa ini yang kemudian membawa akibat lanjut: hilangnya kebenaran dan keadilan sejati. Pujangga Jawa kenamaan Ronggowarsito pernah bersyair: “Keselamatan ada pada cinta,terlindung dalam hati yang bening,kebeningan hati yang seakan kosong tapi sebenarnya penuh berisih hasrat akan kebenaran.”

Dalam syair itu, Ronggowarsito menyebut cinta dan kasih sayang yang terlindung dalam kebeningan hati akan mampuh memberikan keselamatan sejati bagi umat manusia, karena di dalamnya terdapat hakikat kebenaran. Cinta sejati itu hanya bisa muncul lewat kebeningan hati, yang mampuh memberikan dan memberikan hakikat kebenaran.

Bagi para psikolog, kasih sayang merupakan kebutuhan dan sekaligus berkekuatan yang paling penting dalam membentukan kehidupan fisik, emosional, dan spiritual manusia. Sedangkan kebeningan hati merupakan ruang yang memproduk kesejatian kasih sayang tersebut untuk menangkap kebenaran.secara psikologis, manusia yang tidak mendapatkan kasih sayang, jiwanya menjadi gersang, tegang,dan perilakunya menyeramkan.

Harry Harlow pernah melakukan penelitian tentang anak yang kehilangan  kasih sayang. Ia menggunakan anak monyet sebagai percobaan. Anak monyet itu ia pisahkan dari induknya. Dalam perkembangan emosionalnya, ternyata anak monyet itu mempunyai prilaku yang menakutkan dan rentan penyakit. Situasi seperti itu menurutnya bisa terjadi pada manusia.

Oleh karena itu, kasih sayang merupakan aspek terpenting bagi kehidupan manusia –menjadi salah satufitrahnya. Manusia mempunyai kecendrungan untuk menyangi dan di sayangi, mengasihi dan di kasihi. Manusia tak bisa hidup secara sehat dan wajar tanpa kasih sayang.

Kasih sayang tidaklah selaluh bersifat biologis atau bahkan hedonis. Ia melampaui sekat-sekat primordialisme dan kepentingan ekonomi atau politik yang acap kali justru mematikan kasih sayang. Kasih sayang sejati bersifat kreatif, sangat memperkaya kehidupan,baik bagi penerima ataupun sipemberi. Ia tak parnah merugikan atau sirna,selaluh memberikan keuntungan dan kedamaian, serta membimbing manusia menuju tujuan kesejatian perjalanan hidupnya.

Dengan pandangan tersebut,bisa kita pahami mengapa Nabi Muhammad s.a.w. mengklaim bahwa imam seseorang sangat tergantung pada kasih sayang yang dimilikinya. Bahkan orang tidak bisa masuk surga selagi dirinya tidak menaburkan kasih sayang.Kiai dan sekaligus penyair  kondang asal Rembang, A. Mustofa Bisri, parnah mengatakan,’”Irham turham (sayangilah,maka engkau disayang).’’

Dalam kehidupan yang kian tegang seperti sekarang,mestinya kita tak jemu menaburkan kasih sayang kebumi,agar kebenaran dan keadilan tumbuh.seperti nasihat jalaluddin rumi,kita perlu belajar pada alam semesta. Langit, kata Rumi, adalah laki-laki dan bumi adalah perempuan. Bumi memupuk seluruh apa yang telah langit turunkan. Bila bumi kekurangan panas, langit mengirimkannya. Bila bumi ke hilangan embun dan kesegaran, langit memulihkannya. Langit berkeliling laksana seorang suami yang mencari nafkah  demi istrinya.sedang bumi sibuk urus rumah tangganya,ia merawat dan menyusui apa yang telah ia lahirkan.

Nabi-nabi dulu datang membawa firman-firman Tuhan untuk menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan dengan kasih sayang. Adalah naif, jika kini kasih sayang justru kita asingkan. Kalau masih sayang itu benar-benar kita tumbuhkan dan kembangkan, tanpa kepentingan apa pun, maka kekerasan akan mereda dan sirna, termasuk di negeri ini.***

Penulis: Islah Gusmian, alumnus UIN Sunan Kalijaga (Sumber: Panji Masyarakat,  1 September 1999).

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda