Salam, Pembaca. Inilah pertemuan kita yang pertama, setelah hampir dua dasawarsa kita berpisah. Kali terakhir majalah ini mengunjungi sidang pembaca pada akhir 2001. Jadi, Panji Masyarakat (PM) versi digital ini adalah sebuah kelahiran kembali setelah 18 tahun absen dari peredaran.
Yang layak diperkatakan pertama kali tentunya masalah yang menjadi kekhasan media ini alias “spesialisasi” PM. Berbeda dengan edisi cetak Majalah Panji Masyarakat, khususnya terbitan 1997-2001 yang mengejar aktualitas sebagaimana layaknya sebuah majalah, sekarang kami lebih fokus kepada konten yang lebih awet, meskipun ada satu-dua topik hangat yang tetap kami angkat. Dengan begitu, PM digital atau panjimasyarakat.com ini lebih serius mencurahkan perhatian pada penulisan yang, dengan kemudahan yang diberikan Allah (dan dengan harapan sumbangan pikiran Anda), lebih berbobot, lebih manfaat, lebih awet, dan mudah-mudahan lebih arif.
Zaman memang telah banyak berubah, dan itu telah pula mengubah isi dan penampilan PM, sejak media ini pertama kali diterbitkan oleh Buya Hamka di tahun 1959. Meski begitu, waktu rupanya tidak serta merta menggerus visi kebangsaan dan semangat keindonesiaan Panji Masyarakat.
Tetapi ini bukan sebuah jurnal, tentu. Ini sebuah media Islam, tempat kami ingin mempersembahkan hal-hal yang kiranya tidak Anda dapati di tempat lain. Sebuah platform bersama yang, menurut sebagian pembaca, “dibaca tak habis-habis”. Sebuah referensi. Sebuah panduan. Memang konten yang Anda dapati sekarang masih edisi transisi karena sebagiannya merupakan sajian ulang dari yang pernah diterbitkan di majalah edisi cetak – dan itu berarti janji bahwa ikhtiar perbaikan masih akan kami lakukan.
Banyak hal terjadi di antara kami dalam kurun waktu yang cukup panjang itu. Ada di antara kami yang tetap menekuni dunia kewartawanan, sementara yang lain beralih profesi meskipun tidak jauh dari kegiatan tulis-menulis. Meski demikian, keinginan kami untuk menghidupkan kembali Panji Masyarakat ini rupanya tak pernah kunjung padam. Umur boleh bertambah, tapi semangat tetap terpelihara. Begitulah kira-kira, sampai akhirnya, berkat perkenan Allah dan uluran tangan serta sumbangan pikiran beberapa teman, Panji Masyarakat bisa diusahakan terbit kembali dalam versi digital. Alhamdulillah.
Boleh dibilang, sebagian besar awak redaksi Panji Masyarakat yang sekarang adalah personel yang dulu-dulu juga. Beberapa di antara sahabat memang ada yang tidak bisa ikut bersama kami kali ini, lantaran sudah berpulang ke rahmatullah, di antaranya H. Rusydi Hamka dan Syu’bah Asa. Pak Rusydi adalah penerus kepemimpnan Buya Hamka di Panji Masyarakat, sedangkan Syu’bah adalah pengasuh dan penulis rubrik Tafsir, yang tulisannya kami muat kembali di sini.
Akhirul kalam, selain menjadi sebuah rujukan dan panduan, kami berharap media ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan pelbagai kalangan, platform bersama khasnya di lingkungan umat, dan menjadi bagian dari ikhtiar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Wassalamu ‘alaikum
Pemimpin Redaksi