Salam Redaksi

Depok, Maret 2019

Salam, Pembaca. Inilah pertemuan kita yang pertama, setelah hampir dua dasawarsa kita berpisah. Kali terakhir majalah ini mengunjungi sidang pembaca pada akhir 2001. Jadi, Panji Masyarakat (PM) versi digital ini adalah sebuah kelahiran kembali setelah 18 tahun absen dari peredaran.

Yang layak diperkatakan pertama kali tentunya masalah yang menjadi kekhasan media ini  alias “spesialisasi” PM. Berbeda dengan edisi  cetak Majalah Panji Masyarakat, khususnya terbitan 1997-2001 yang  mengejar aktualitas sebagaimana layaknya sebuah majalah, sekarang kami lebih fokus kepada konten yang lebih awet,  meskipun ada satu-dua topik hangat yang tetap kami angkat. Dengan begitu, PM digital atau panjimasyarakat.com ini lebih serius mencurahkan perhatian pada penulisan yang, dengan kemudahan yang diberikan Allah (dan dengan harapan sumbangan pikiran Anda), lebih berbobot, lebih manfaat, lebih awet, dan mudah-mudahan lebih arif.

Zaman memang telah banyak berubah, dan itu telah pula mengubah isi dan penampilan PM, sejak media ini pertama kali diterbitkan oleh Buya Hamka di tahun 1959. Meski begitu, waktu rupanya tidak serta merta menggerus visi kebangsaan dan semangat keindonesiaan Panji Masyarakat.

Tetapi ini bukan sebuah jurnal, tentu. Ini sebuah media Islam, tempat kami ingin mempersembahkan hal-hal yang kiranya tidak Anda dapati di tempat lain. Sebuah platform bersama yang, menurut sebagian pembaca, “dibaca tak habis-habis”. Sebuah referensi. Sebuah panduan.  Memang konten yang Anda dapati sekarang masih edisi transisi karena sebagiannya merupakan sajian ulang dari yang pernah diterbitkan di majalah edisi cetak – dan itu berarti janji bahwa ikhtiar perbaikan masih akan kami lakukan.