Suatu hari, seorang Muslim bersiap menuju masjid. Ia mengenakan pakaian bersih, merapikan penampilannya, lalu berangkat untuk menunaikan salat. Di rumah lain, seseorang sedang menikmati hidangan yang lezat. Ada pula yang membeli makanan berlimpah, tetapi sebagian justru berakhir di tempat sampah. Ketiganya mungkin tidak menyadari bahwa ada satu pesan Al-Qur’an yang menghubungkan seluruh aktivitas tersebut: keindahan, kenikmatan, dan keseimbangan hidup.
Pesan itu termaktub dalam QS. Al-A’raf ayat 31. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Ayat ini sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Bukan hanya urusan ibadah, tetapi juga cara berpakaian, menikmati makanan, mengelola keinginan, dan memperlakukan nikmat Allah.
Pertama, ibadah tidak identik dengan mengabaikan penampilan. Melalui kalimat Khudzu Zinatakum ‘Inda Kulli Masjid, Allah memerintahkan anak cucu Adam mengenakan pakaian yang pantas ketika memasuki masjid dan melaksanakan ibadah.
Pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga mencerminkan penghormatan terhadap ibadah. Menutup aurat, menjaga kebersihan, dan berpenampilan pantas merupakan bagian dari adab seorang Muslim ketika menghadap Allah. Perintah ini sekaligus mengoreksi tradisi masyarakat Arab Jahiliyah yang melakukan tawaf tanpa busana. Islam datang membawa kehormatan, kesucian, dan martabat manusia.
Kedua, menikmati rezeki bukanlah sesuatu yang dilarang. Allah melanjutkan firman-Nya dengan Wa Kulu Wasyrobu — makan dan minumlah.
Islam bukan agama yang mengajarkan manusia menyiksa diri dengan menolak kenikmatan dunia secara berlebihan. Makanan yang halal dan baik merupakan rezeki yang patut disyukuri.
Tubuh manusia juga memiliki hak untuk mendapatkan asupan yang cukup. Menjaga kesehatan bukan sekadar persoalan biologis, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia dalam memelihara amanah kehidupan. Namun, kebebasan menikmati rezeki bukan berarti manusia boleh memperturutkan seluruh keinginannya.
Ketiga, ada batas antara menikmati nikmat dan diperbudak oleh kenikmatan. Di sinilah pesan terpenting ayat tersebut: Wa La Tusrifu — janganlah berlebih-lebihan.
Israf bukan hanya soal makan terlalu banyak atau membeli sesuatu melampaui kebutuhan. Sikap ini juga dapat menjelma dalam gaya hidup konsumtif, pemborosan, kemewahan yang tidak terkendali, bahkan perilaku berlebihan dalam urusan duniawi maupun ibadah.
Ironisnya, manusia terkadang begitu mudah membuang makanan ketika orang lain kesulitan mendapatkannya. Ada yang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, melainkan sekadar ingin menunjukkan kemampuan. Ada pula yang terus mengejar kenikmatan, tetapi kehilangan kemampuan mengendalikan dirinya. Padahal, semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk mengelolanya secara bijaksana. Pada akhirnya, QS. Al-A’raf ayat 31 mengajarkan filosofi keseimbangan hidup.
Islam tidak melarang manusia tampil indah, menikmati makanan, atau memperoleh kesenangan dunia. Yang dilarang adalah ketika semua itu berubah menjadi perilaku melampaui batas. Sebab, kesalehan bukan diukur dari seberapa sederhana seseorang terlihat, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan keinginan, menghargai nikmat, dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kita boleh menikmati kehidupan, tetapi jangan sampai kehilangan kendali atas kehidupan. Kita boleh memiliki banyak hal, tetapi jangan sampai diperbudak oleh apa yang kita miliki. Sebab, orang yang benar-benar bersyukur bukan hanya pandai menikmati nikmat Allah, melainkan juga tahu batas ketika menikmatinya.
Dan ayat ini ditutup dengan peringatan yang sangat tegas: Innahu La Yuhibbul Musrifin. – “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
Referensi
- Al-Qur’an, QS. Al-A’raf: 31.
- Tafsir Kementerian Agama RI, QS. Al-A’raf: 31.
- TafsirWeb, [Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 31.
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
