Sewaktu membaca berita wafatnya ulama terkemuka Prof. K.H. Syukron Ma’mun (84 tahun), pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta Selatan, pada Minggu, 18 Oktober 2026 (7 Jumadil Awal 1448 H), hal pertama yang terlintas dalam pikiran saya adalah kepergian seorang ulama yang konsisten menyuarakan dakwah: amar makruf nahi mungkar.
Sekalipun tidak pernah berinteraksi dengan almarhum, tetapi nama besar K.H. Syukron Ma’mun tidak asing bagi saya sebagai pemerhati dakwah. Peran dan kiprah dakwah beliau mengisi tempat tersendiri dalam budaya religius masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
Ketokohan K.H. Syukron Ma’mun selama puluhan tahun tak dapat dipisahkan dari sebuah organisasi besar, tetapi sosok pribadinya sebagai seorang ulama pejuang umat dihormati secara luas. Hal itu dibuktikan dari simpati dan ucapan belasungkawa yang mengalir dari berbagai lembaga dan organisasi keagamaan, di antaranya dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya K.H. Syukron Ma’mun diiringi doa semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Pernyataan duka cita juga datang dari Badan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang diketuai Prof. Dr. K.H. Didin Hafidhuddin dan Sekretaris Pembina H.M. Natsir Zubaidi.
Pemerhati sejarah dan mantan Sekretaris Pribadi Mohammad Natsir, Lukman Hakiem, saat saya tanya apa kesannya tentang K.H. Syukron Ma’mun, meski tidak dekat dengan beliau, tetapi mengagumi keistiqamahannya. Tahun 1995 Lukman Hakiem sama-sama berhaji atas undangan Rabithah Alam Islami. Saat wukuf, satu tenda dengan beliau. “Sebagai seorang alim, K.H. Syukron Ma’mun, tetap rendah hati, tidak menunjukkan kelebihannya dalam beribadah. Saat saya tanya, apa yang harus dilakukan selama wukuf, beliau menjawab santai: silakan mau apa saja. Baca Qur’an boleh, dzikir boleh. Mau jalan-jalan keluar tenda, boleh. Asal jangan keluar dari Padang Arafah,” kenang Lukman Hakiem.
K.H. Syukron Ma’mun, lahir di Sampang, Madura, Jawa Timur, 21 Desember 1941. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga pesantren. Menamatkan Sekolah Rakyat (SR) di desanya dan siang belajar agama di madrasah. Setelah lulus SMP, mondok di Pesantren Sidogiri, Pasuruan, dan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Di Gontor selama 6 tahun ia menamatkan jenjang pendidikan Tsanawiyah dan Aliyah berijazah. Pendidikan di Gontor Ponorogo diselesaikannya pada tingkat Kulliatul Mu’allimin. Ia melanjutkan ke Institut Pendidikan Daarussalam Gontor sampai diwisuda menjadi Sarjana Muda dengan gelar B.A. Pada awal Orde Baru, dua muballigh ternama yang bergelar BA yaitu K.H. Hasjim Adnan dan K.H. Syukron Ma’mun.
Ketika masih belajar di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, ia telah aktif dalam kegiatan dakwah di lingkungan masyarakat. Mubaligh yang dikenal sebagai “singa podium” itu semenjak muda telah aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU).
Setelah wisuda di Gontor tahun 1967 ia diajak oleh gurunya Dr. K.H. Idham Chalid mengabdi di Jakarta dan tinggal di rumah Kiai Idham Chalid bersama keluarga di Jalan Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta. K.H. Syukron Ma’mun mendapat kesempatan dikader langsung sebagai mubaligh dan calon pemimpin oleh tokoh besar K.H. Idham Chalid, selama 4 tahun tinggal di rumahnya. Politisi negarawan eks Wakil Perdana Menteri yang menjadi Ketua Umum NU dan terakhir sebagai Ketua DPR/MPR-RI dan Ketua DPA-RI itu kemudian mengamanahkan posisi Direktur Pesantren Daarul Maarif Cipete, Jakarta Selatan, kepada K.H. Syukron Ma’mun, sebelum ia membangun pesantren sendiri yaitu Daarul Rahman.
Mungkin lebih dari separoh atau tiga perempat usia K.H. Syukron Ma’mun didedikasikannya untuk dakwah dalam arti luas dan mengelola pendidikan umat. Saya menyebut “dakwah dalam arti luas”, karena bagi almarhum, bicara politik pun adalah bagian dari dakwah menuju peradaban berdasarkan petunjuk agama.
Pondok Pesantren Daarul Rahman berdiri pada tahun 1975 di Ibu Kota Jakarta. Pesantren ini merupakan salah satu jejak amal perjuangan almarhum. Lembaga pendidikan Islam yang kini memiliki beberapa cabang dirintis secara kolektif oleh K.H. Syukron Ma’mun, dibantu kawan-kawannya, antara lain: K.H. Abdul Qodir Rahman, K.H. Antung Ghozali, dan K.H. Masyhuri Baidlowi, dengan dukungan dari keluarga H. Abdurrahman bin Naidi sebagai wakif.
Kolumnis terkemuka Ahmadie Thaha (Cak AT) dalam artikel obituari K.H. Syukron Ma’mun, “Singa Podium Pemadu Mazhab Gontor – Sidogiri” menyebut Pesantren Daarul Rahman memadukan tradisi pesantren dengan pendidikan modern. Kiai Syukron boleh dibilang sebagai perintis perpaduan dua sistem pendidikan, Sidogiri dan Gontor. Pada peringatan 50 Tahun Daarul Rahman tahun 2025, Kiai Syukron Ma’mun secara simbolis mempertemukan keluarga pesantren Sidogiri dan Gontor sebagai bagian dari pengenalan sanad keilmuwan kepada santri dan alumni.
Sebuah cerita menarik terkait pengakuan negara terhadap ijazah tanda kelulusan yang dikeluarkan oleh Pondok Pesantren Daarul Rahman. K.H. Syukron Ma’mun pernah menolak penyeragaman kurikulum karena memandang kebijakan tersebut berpotensi mengabaikan kualitas pendidikan.
Menurut pandangan beliau ketika itu, pemerintah mestinya memberikan kebebasan kepada lembaga pendidikan untuk mengembangkan kurikulumnya sendiri, baru nanti pemerintah yang melaksanakan ujian negara. Ia mencontohkan Universitas Al-Azhar Mesir yang menurutnya dapat berkembang dan memperoleh pengakuan dunia tanpa harus sepenuhnya mengikuti kurikulum pemerintah. Bagi K.H. Syukron Ma’mun, hal terpenting dalam penyelenggaraan pendidikan adalah kualitas dan pengakuan masyarakat.
Konsekuensi dari sikapnya itu, karena menggunakan kurikulum sendiri dan tidak mengikuti ujian negara, maka ijazah lulusan Pondok Pesantren Daarul Rahman pada awalnya belum memperoleh pengakuan pemerintah. Persoalan ini kemudian menjadi bagian dari perjuangan panjang K.H. Syukron Ma’mun untuk mendapatkan pengakuan atas pendidikan pesantren yang dikembangkannya.
Setelah era reformasi, di masa Menteri Pendidikan Nasional Prof. H.A. Malik Fajar, tokoh pendidikan Muhammadiyah yang sebelumnya menjabat Menteri Agama, terbit Peraturan Pemerintah yang memberi pengakuan terhadap sistem pendidikan pondok pesantren sejalan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003. Bahkan semenjak H.A. Malik Fadjar menjabat Menteri Agama, lahir SK pernyataan kesetaraan ijazah lulusan pondok pesantren yang memenuhi persyaratan disamakan dengan tingkat Tsanawiyah dan Aliyah.
Pada masa awal berdirinya, Pondok Pesantren Daarul Rahman berlokasi di Jalan Senopati Dalam II, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, di atas tanah wakaf seluas kurang lebih 7.800 meter persegi yang berasal dari wakaf H. Abdurrahman bin Naidi. Status Pondok Pesantren swasta penuh, tanpa ikatan organisasi atau partai politik apa pun.
Sekitar tahun 2016 – 2017, Pondok Pesantren Daarul Rahman direlokasi ke kawasan Jagakarsa, tepatnya di Jalan Purwa Raya Kavling DKI, Cipedak, Jakarta Selatan, melalui proses tukar guling (ruislag) tanah wakaf. Ketika itu lokasi pesantren di Senopati telah dikepung gedung-gedung bertingkat dan pusat bisnis. Menurut pihak pengasuh, lingkungan tersebut tidak lagi kondusif bagi kegiatan pendidikan. Selain itu, kawasan pesantren kerap dilanda banjir. Atas pertimbangan demikian, pengurus pesantren mengurus izin untuk tukar guling tanah wakaf dengan pihak perusahaan swasta.
Kesungguhan berdakwah dan mengelola lembaga pendidikan Islam menjadi napas pengabdian K.H. Syukron Ma’mun selama beberapa dekade sampai akhir hayat. Ia menjadi khatib di masjid-masjid, mengisi pengajian di majlis-majlis taklim dan mengisi dakwah di perkantoran. Dalam rangka menambah ilmu, ia pernah mengaji kepada Habib Ali bin Husein di Bungur dan mengaji Kitab Hadis Shahih Bukhari kepada Habib Abdurrahman Al-Habsyi di Kwitang.
Selain di Jakarta, ia sering memenuhi undangan dakwah ke berbagai wilayah Nusantara, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sulawesi dan lainnya. Bahkan berdakwah ke berbagai negara ASEAN dijalaninya, seperti ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Dalam sebuah ceramah tersiar K.H. Syukron Ma’mun menceritakan pengalaman berkesan ketika mengunjungi ulama karismatik K.H. Abdul Hamid Pasuruan. Ia saat itu minta diajarkan doa terbaik dan diberikan wirid apa yang terbaik? Jawab Kiai Hamid, “Wiridnya Ustaz sudah bagus. Kalau ada undangan jangan ditolak. Jangan milih-milih undangan. Jangan mengecewakan orang.”
Pesan K.H. Abdul Hamid tersebut selalu dipegang oleh K.H. Syukron Ma’mun. Kiai Syukron mengungkapkan, “Sehingga di Jakarta saya disebut kiai kaku: diundang menteri kadang-kadang saya enggak datang, diundang gubernur saya tidak datang, karena ada undangan di RT, di mushalla kecil yang sudah bulanan mengundang saya. Engak tega saya hari H-nya saya menggagalkan itu. Saya mempunyai pendirian dari Kiai Hamid: Jangan mengecewakan orang.” Pesan dan ajaran K.H. Abdul Hamid Pasuruan menjadi pegangannya dalam menjalankan tugas dakwah sampai hari tuanya.
Kepada ajudan seorang pembesar yang menyampaikan undangan ceramah, seraya mengatakan apa tidak bisa dibatalkan jadwal ceramah di tempat lain, K.H. Syukron Ma’mun menjawab, “Seandainya anda jadi pengurus mushalla ini. Sudah mengundang saya setengah tahun, sudah saya tentukan waktunya, ketika sudah tiba waktunya yang ditentukan, saya batalkan. Ketahuan saya pidato di tempat lain, bagaimana perasaan saudara.”
Suara mimbar K.H. Syukron Ma’mun yang khas dan kadang menggelegar seolah menjadi pengingat bahwa suara ulama dan pesan-pesan agama harus terus berbicara di tengah perubahan zaman, memberikan pencerahan, serta menjawab berbagai persoalan kehidupan umat manusia. Pada saat yang sama, seruan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan mengajak umat menuju ridha Allah Yang Maha Esa perlu terus disuarakan, terutama di tengah beragam kepentingan yang berpotensi menimbulkan polarisasi dalam kehidupan umat dan bangsa.
Pengabdian dan perjuangan dakwah almarhum K.H. Syukron Ma’mun merupakan warisan keteladanan berharga dan langka, sekaligus sumber inspirasi bagi generasi masa kini dan mendatang. Menurut beliau, tugas ulama berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, ialah melakukan amar makruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebuah quotes almarhum, “Kalau kau ingin jadi orang mulia, muliakanlah apa yang dimuliakan oleh Allah.”
Semoga Allah Swt. mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadah dan pengabdiannya, serta menempatkannya di surga bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shaleh, mereka itulah sebaik-baik teman di akhirat. Amin ya Rabbal ‘alamin.
M. Fuad Nasar, Direktur Jaminan Produk Halal Kemenag RI.
