Kolom Ganjar Kurnia: KANTOR YANG BISA DIBAWA PULANG

Di sebuah negeri yang serba ajaib, hubungan darah kadang lebih cepat sampai daripada surat lamaran. Meritokrasi berjalan kaki, sementara kerabat pejabat (termasuk teman separtey) bisa naik lift khusus. Katanya semua dipilih karena kemampuan. Tentu saja. Keluarga memang punya bakat istimewa: sejak kecil sudah memahami suasana rumah, lalu setelah dewasa langsung memahami suasana kantor. Lalu lahirlah kata nepotisme yang berakar pada bahasa Latin nepos. Kata nepos berarti “keponakan” atau “cucu/keturunan.” Istilah ini masuk ke bahasa Inggris sebagai nepotism, lalu menjadi nepotisme dalam bahasa Indonesia.

Nepotisme ini dalam prakteknya seperti pohon keluarga yang tumbuh di halaman kantor. Akarnya masuk ke ruang kepegawaian, dahannya menjulur ke meja pimpinan, buahnya berisi surat keputusan. Orang luar hanya bisa berdiri di pagar, membaca papan pengumuman: Dibutuhkan tenaga profesional. Ia membawa ijazah, pengalaman, dan harapan. Dari dalam terdengar suara, “Maaf, posisi sudah terisi.”

Kalau ada yang bertanya, “Apakah ini nepotisme?” jawabannya bisa panjang. Ada penjelasan tentang kebutuhan mendesak, pengalaman, loyalitas, dan pengabdian. Semua terdengar masuk akal, terutama bila disampaikan dari balik meja yang kebetulan ditempati keluarga sendiri. Bahkan kata keluarga bisa diterjemahkan menjadi sumber daya manusia yang sudah dikenal kualitasnya.

Kantor pun berubah menjadi ruang keluarga. Di ruang rapat, yang hadir memang mereka yang tercantum dalam struktur organisasi, tapi diantaranya ada juga yang tercatat di kartu keluarga. Kursi-kursi seperti punya hubungan kekerabatan. Meja rapat mungkin tidak punya anak, tetapi siapa tahu ia keponakan meja pimpinan. Kalau ada kebijakan yang meleset, jangan-jangan itu dianggap bukan salah keputusan, tapi hanya salah paham antarsaudara.

Sementara itu, pelamar dari luar sibuk mengirim berkas. Ia mengikuti tes, menunggu pengumuman, lalu belajar menerima kenyataan bahwa pintu sudah tertutup sebelum ia tahu di mana letak gagangnya. Ia bertanya kepada temannya, “Apa yang kurang dari saya?”

Temannya menjawab, “Mungkin kamu kurang lahir di keluarga yang tepat.”

Tentu, tidak setiap kerabat yang bekerja di lembaga publik otomatis tidak cakap. Ada yang memang kompeten dan sungguh-sungguh bekerja. Namun, jabatan publik tetap perlu proses yang terbuka, ukuran kemampuan yang jelas, dan jarak yang sehat dari kepentingan keluarga. Sebab kepercayaan masyarakat mudah retak ketika kesempatan tampak diwariskan seperti lemari tua: turun dari orang tua kepada anak, lengkap dengan kuncinya.

Belakangan ini ramai diberitakan bahwa seorang menteri mengangkat dua anaknya menjadi tenaga ahli di kementeriannya. Terbayang, kalau rapat di kantor belum tuntas, pembahasannya bisa dilanjutkan di rumah. Yang hadir sudah saling kenal, yang memimpin ya bapaknya, lalu notulensinya ditutup dengan kalimat: “Rapat setengah kamar tenaga ahli—menyepakati bahwa semua keputusan telah dibuat melalui proses diskusi yang sangat mendalam di meja makan keluarga, dan notulensi sudah diarsipkan di buku silsilah.”

Penulis: Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, akademisi dan budayawan, pernah menjabat rektor Universitas Padjadjaran, Bandung, periode 2007 – 2015.

Exit mobile version