Sabar itu Indah

Tidak ada yang lebih berat bagi jiwa seseorang yang ikhlas dalam dakwahnya, bersih dari hawa nafsu, dan mencintai kebaikan bagi sesama, daripada ketika ia memberikan nasihat yang tulus, namun mereka malah menuduhnya dengan hal-hal yang tidak ada pada dirinya.

Ketika ia menyeru mereka ke jalan Tuhannya dengan hikmah, namun mereka membalasnya dengan kekerasan. Ketika ia menasihati mereka dengan cara yang baik, namun mereka menyambutnya dengan keburukan. Ketika ia membantah mereka dengan cara yang lebih baik, namun mereka
menentangnya dengan cara yang paling kasar.

Ketika ia menunjukkan kebaikan kepada mereka, namun mereka menuduhnya melakukan kejahatan; dan ketika ia menyuarakan kebenaran di tengah-tengah mereka, namun tidak ada yang ia dengar dari mereka melainkan kebatilan.

​Bahkan, urusannya sering kali tidak berhenti sampai di situ. Kediktatoran dan kesewenang-wenangan sering kali meluas hingga merampas harta benda, menyiksa badan, merenggut kemerdekaan, mencederai kehormatan, hingga membunuh jiwa. Bahkan tanah tempat mereka tumbuh, membesar, dan dibesarkan di pangkuannya bersama bapak-bapak dan kakek-kakek mereka mereka diusir dari sana dengan sewenang-wenang.

​Inilah yang diumpamakan dan ditegaskan oleh Al-Qur’an akan terjadi pada orang-orang yang menyeru ke jalan Allah. Allah menyapa kaum mukminin dengan hal ini agar mereka mempersiapkan jiwa untuk bersabar dalam waktu yang panjang. Allah berfirman:

​”Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (Q.S. Ali ‘Imran: 186)

​Oleh karena itu, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar atas gangguan dari kaumnya, sebagaimana firman-Nya:

​”Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Muzzammil: 10)

​Para nabi semuanya merepresentasikan jenis kesabaran seperti ini. Oleh sebab itu, Allah mengabadikan perkataan mereka saat menjawab perlakuan kaumnya:

​”Dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang bertawakal menyerahkan diri.” (Q.S. Ibrahim: 12)

​Allah pun menghibur penutup para rasul-Nya dengan apa yang telah terjadi pada saudara-saudaranya (para nabi) sebelum beliau, firman-Nya:

​”Dan sesungguhnya telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah.” (QS. Al-An’am:

Oleh : Mohsen Hasan Direktur Majlis Kajian Kitab Klasik ( M-3K) & Studi Islam & Ilmu Filsafat

Exit mobile version