Belajar Sunnah dari Cara Rasulullah Memperlakukan Manusia

Kita sering mengatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah uswatun hasanah—teladan yang baik. Tetapi ketika berbicara tentang meneladani beliau, perhatian kita kadang berhenti pada hal-hal yang mudah terlihat: model pakaian, bentuk janggut, cara makan, atau berbagai kebiasaan fisik lainnya. Semua itu tentu memiliki tempat dalam khazanah sunnah. Namun ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: bagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan manusia?. Bagaimana beliau memperlakukan tetangga? Bagaimana beliau berbicara kepada anak kecil? Bagaimana beliau menghadapi orang yang kasar? Bagaimana beliau bersikap kepada keluarga? Bagaimana beliau memperlakukan orang miskin, orang tua, orang yang berbeda agama, bahkan orang yang melakukan kesalahan? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini justru menyentuh wilayah kehidupan yang kita hadapi setiap hari.

Sebab seorang Muslim tidak hidup sepanjang hari di depan meja makan. Ia hidup di tengah keluarga, bertetangga, bekerja, berkendara, berbelanja, menghadapi orang yang menyebalkan, mendidik anak, dan berhadapan dengan orang-orang yang tidak selalu sepemikiran dengannya. Di situlah kualitas keteladanan Rasulullah ﷺ benar-benar diuji.

Sunnah yang Hidup dalam Pergaulan

Al-Qur’an menyebut Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi orang-orang yang berharap kepada Allah dan hari akhir. Keteladanan itu bukan sekadar sesuatu yang dikagumi dari kejauhan. Ia dimaksudkan untuk diterjemahkan menjadi perilaku. Karena itu, mempelajari kehidupan Nabi ﷺ seharusnya tidak hanya menghasilkan pertanyaan, “Apa yang beliau pakai?” atau “Bagaimana cara beliau makan?” Kita juga perlu bertanya: “Bagaimana rasanya menjadi orang yang berada di dekat beliau?”. Apakah anak-anak merasa takut ketika bertemu beliau? Apakah tetangga merasa terganggu oleh beliau? Apakah keluarga merasa tertekan karena beliau seorang pemimpin? Apakah orang miskin merasa rendah diri ketika berada di dekat beliau? Apakah orang yang melakukan kesalahan langsung dipermalukan? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita kepada dimensi sunnah yang sering kali justru paling sulit ditiru: akhlak.

Ketika Rasulullah ﷺ Bertemu Anak-Anak

Anak-anak adalah kelompok yang sering dianggap “belum mengerti apa-apa”. Karena itu, orang dewasa kadang merasa tidak perlu memberikan perhatian serius kepada mereka. Rasulullah ﷺ menunjukkan sebaliknya. Beliau menyapa anak-anak, menggendong dan mencium mereka, serta menunjukkan kasih sayang secara nyata. Dalam banyak riwayat, kita menemukan gambaran bahwa anak-anak bukan sekadar “objek pendidikan”, melainkan manusia yang memiliki perasaan dan martabat. Ini sederhana, tetapi sangat relevan. Kadang orang tua merasa sudah mencintai anak karena telah menyediakan makanan, sekolah, pakaian, dan biaya hidup. Semua itu penting. Tetapi anak juga membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dibeli: perhatian. Seorang ayah yang pulang kerja lalu meletakkan telepon genggamnya, menatap mata anaknya, mendengarkan cerita yang mungkin menurut orang dewasa tidak penting—sesungguhnya sedang mempraktikkan sesuatu yang sangat dekat dengan semangat keteladanan Nabi ﷺ. Sunnah, dalam pengertian ini, bukan hanya sesuatu yang dilakukan dengan tangan. Ia juga sesuatu yang dilakukan dengan kehadiran hati.

Kepada Tetangga: Jangan Jadikan Rumah sebagai Pulau

Islam memberikan perhatian besar kepada tetangga. Nabi ﷺ bahkan mengingatkan bahwa Jibril terus-menerus berwasiat tentang tetangga hingga beliau mengira tetangga akan mendapatkan hak waris. Pesannya jelas: rumah seorang Muslim tidak boleh menjadi pulau yang hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Tetangga memiliki hak untuk merasa aman dari gangguan kita.

Maka persoalannya bukan sekadar apakah kita rajin mengucapkan salam kepada tetangga. Lebih jauh: apakah suara televisi kita mengganggu? Apakah kendaraan kita menghalangi jalan mereka? Apakah sampah kita mengotori lingkungan? Apakah kita membantu ketika mereka mengalami kesulitan? Apakah kita tahu ketika tetangga sedang sakit? Apakah kita peduli ketika seorang anak tetangga membutuhkan bantuan? Di sinilah ajaran Nabi ﷺ menjadi sangat konkret. Seseorang mungkin sangat rajin menjalankan ibadah individual, tetapi jika tetangganya merasa tidak aman karena perilakunya, ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali dalam pemahamannya tentang agama.

Ketika Ada Orang Berbuat Salah

Salah satu ujian terbesar akhlak adalah ketika berhadapan dengan orang yang melakukan kesalahan. Kita mudah bersikap baik kepada orang yang baik kepada kita. Yang sulit adalah tetap menjaga martabat orang lain ketika kita mempunyai alasan untuk marah.

Dalam berbagai peristiwa kehidupan Rasulullah ﷺ, kita menemukan bahwa beliau tidak selalu merespons kesalahan dengan penghukuman dan penghinaan. Ada saat beliau menegur, ada saat menjelaskan, ada saat memaafkan, dan ada saat mengambil tindakan tegas. Artinya, kelembutan bukan berarti tidak memiliki prinsip. Dan ketegasan bukan berarti harus kasar. Inilah salah satu pelajaran penting dari kehidupan Nabi ﷺ: mendidik manusia berbeda dengan melampiaskan kemarahan kepada manusia. Kita sering mengatakan, “Saya memarahinya demi mendidik.” Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: apakah benar kita sedang mendidik, atau sebenarnya sedang menikmati kesempatan untuk melampiaskan emosi?

Rasulullah ﷺ di Dalam Rumah

Ada kecenderungan manusia terlihat baik di ruang publik tetapi berubah ketika berada di rumah. Di luar rumah ramah kepada orang lain, di rumah mudah membentak. Di hadapan kolega santun, di hadapan pasangan kasar. Di depan masyarakat menjaga citra, tetapi kepada orang yang paling dekat justru kehilangan kendali.

Karena itu, salah satu ukuran penting keteladanan Rasulullah ﷺ justru dapat dilihat dari kehidupan domestiknya. Riwayat-riwayat tentang kehidupan beliau bersama keluarga menunjukkan adanya perhatian, kelembutan, komunikasi, dan keterlibatan dalam pekerjaan rumah tangga. Ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Menjadi “lelaki yang mengikuti sunnah” tidak seharusnya berhenti pada penampilan. Ia juga berarti menjadi lelaki yang dapat dipercaya oleh istrinya, aman bagi anak-anaknya, dan tidak menjadikan rumah sebagai tempat pelampiasan frustrasi. Demikian pula, meneladani akhlak Nabi ﷺ bukan monopoli laki-laki. Perempuan, orang tua, anak, guru, pemimpin, pekerja, dan siapa pun dapat mengambil bagian dari keteladanan tersebut.

Yang Sulit Ditiru Justru Sering Tidak Terlihat. Ada sunnah yang mudah terlihat. Kita bisa melihat seseorang memanjangkan janggut. Kita bisa melihat cara seseorang berpakaian. Kita bisa melihat cara seseorang makan. Tetapi kita tidak selalu bisa melihat apakah ia mampu menahan amarah ketika dihina. Kita tidak tahu apakah ia tetap jujur ketika tidak ada kamera. Kita tidak tahu bagaimana ia memperlakukan pembantu ketika tidak ada tamu. Kita tidak tahu bagaimana ia berbicara kepada istrinya setelah mengalami hari yang buruk. Kita tidak tahu apakah anak-anaknya merasa aman ketika berada di dekatnya. Padahal, justru di wilayah-wilayah yang tidak terlihat itulah akhlak seseorang diuji. Maka mungkin sudah waktunya kita memperluas cara memahami sunnah. Sunnah bukan sekadar apa yang tampak pada tubuh kita. Sunnah juga harus tampak pada cara orang lain merasa aman ketika berada di sekitar kita.

Ukuran Keteladanan

Bayangkan jika seseorang yang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ membuat sebuah daftar sederhana: Hari ini, apakah saya membuat tetangga merasa aman? Apakah saya memperlakukan anak-anak dengan lembut? Apakah saya mendengarkan pasangan saya? Apakah saya menahan diri ketika marah? Apakah saya membantu orang yang membutuhkan? Apakah saya menjaga lisan ketika membicarakan orang lain? Apakah saya tetap jujur ketika kejujuran itu merugikan saya? Apakah orang yang berbeda pandangan dengan saya tetap merasa dihormati?. Daftar semacam itu mungkin tidak populer di media sosial. Tidak ada yang bisa memotretnya. Tidak ada yang tahu ketika kita melakukannya. Tetapi justru karena itulah ia menjadi latihan keikhlasan yang serius.

Meneladani Nabi, Bukan Sekadar Mengagumi Nabi

Mencintai Rasulullah ﷺ tentu merupakan bagian penting dari iman. Tetapi cinta yang paling matang bukan hanya menghasilkan kekaguman. Ia menghasilkan peniruan perilaku. Kita tidak hanya berkata, “Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia terbaik.” Kita kemudian bertanya: “Apa yang berubah dalam perilaku saya karena saya menganggap beliau sebagai teladan?”

Jika kita mengikuti beliau dalam cara makan tetapi masih suka merendahkan orang lain, ada bagian penting dari keteladanan yang belum kita bawa pulang. Jika kita memperhatikan penampilan tetapi anak-anak takut berbicara kepada kita, mungkin ada sunnah yang lebih mendesak untuk dipelajari. Jika kita hafal banyak hadis tetapi tetangga merasa terganggu oleh perilaku kita, mungkin pengetahuan kita belum sepenuhnya berubah menjadi akhlak. Sebab tujuan akhir mengenal Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar mengetahui sebanyak mungkin tentang beliau. Tujuan akhirnya adalah menjadi manusia yang lebih baik karena mengenal beliau. Dan barangkali, itulah bentuk sunnah yang paling dibutuhkan masyarakat kita hari ini: bukan hanya sunnah yang terlihat ketika seseorang bercermin, tetapi sunnah yang dirasakan oleh orang lain ketika mereka berinteraksi dengannya.

Jika Nabi Muhammad ﷺ benar-benar menjadi teladan kita, maka keluarga kita semestinya merasakan kelembutan itu. Anak-anak merasakan keamanan itu. Tetangga merasakan manfaatnya. Orang miskin merasakan kepedulian itu. Bahkan orang yang berbeda dengan kita pun tetap merasakan bahwa kita adalah manusia yang beradab. Itulah sunnah yang hidup. Dan sunnah semacam itu bukan hanya indah untuk dibicarakan. Ia sangat mungkin ditiru.

Exit mobile version