Tujuh Spirit Hijrah Kunci Hidup Sukses-Berkah

Bung Karno  pernah mengingatkan: Jangan sekali-kali melupakan sejarah yang ia akronimkan dengan “Jasmerah”. Dalam sejarah Islam, salah satu peristiwa besar yang tidak boleh kita lupakan itu adalah peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah yang waktu itu bernama Yatsrib.

Peristiwa itu kemudian dijadikan sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar ibn Khattab, atau kalender hijriah yang dimulai pada 1 Muharam. Dan sekarang kita  sudah berada di awal tahun 1448 H.  Lalu apa hikmah dan spirit yang direfleksikan dari peristiwa yang menentukan sejarah umat Islam tersebut? Berikut kami sarikan pandangan Syekh Shafiyurrahman Al Mubarakfuriy dalam kitabnya Ar- Rahiqul Makhtum halaman 154-168 .

1. The Power of Niat

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.”. [H.R. Bukhari].

Niat, maksud, tujuan dan orientasi sebuah perbuatan akan sangat menentukan hasil, pencapaian dan prestasi serta kualitasnya. Guru dan orangtua kita mengajarkan: berniatlah dalam perjalanan untuk mencapai tujuan atau destinasi terjauh maka tujuan-tujuan terdekat pasti akan terlewati. Misalkan  santri Darunnajah Cipining berniat ke Darunnajah Jakarta maka otomatis  Parung Panjang, Serpong dan Tangerang akan terlewati. Jika hidup kita orientasikan untuk akhirat maka dunia akan ikut didapatkan. Orang dulu memeribahasakan:  Menanam padi pasti tumbuh rumput, menanam rumput mustahil tumbuh padi.

2. Strategi Andal, Ikhtiar Maksimal dan Tawakal.

 Musyawarah untuk POACE: Planning/Programming (perencanaan, pembuatan program), Organizing (Siapa melakukan apa), Actuating (pelaksanaa), Controlling (pengontrolan), Evaluating (Muhasabah).

 Atur siasat:  Ali ibn  Abi Thalib tidur di tempat tidur Rasulullah, beliau keluar rumah pada malam 27 Shafar tahun 14 Kenabian, tanggal  12 atau 13 September 622 M menuju rumah Abu Bakar, dan sebelum fajar beliau berdua dengan cepat keluar dari Makkah dengan tidak melalui jalan utama ke Madinah ke arah Utara tetapi mengambil arah yang sebaliknya yakni di bagian Selatan Makkah arah ke Yaman. Beliau berdua melaui jalan ini sekira 5 mil sampai ke Gua Tsur dan menginap di sana selama tiga hari tiga malam, hingga menghilangkan jejak kaki dengan hewan gembalaan ‘Amir Ibn Fahirah. Berangkat ke Madinah pada malam Senin, 1 Rabi’ul Awwal tahun 1 H / 16 September 622 M.

Pendamping/ teman perjalanan yang rela berkorban: Abu Bakar.

Informan yang bisa dihandalkan: Abdullah ibn Abu Bakar.

Penunjuk jalan/ guide profesional: Abdullah Ibn Uraiqith Al Laitsiy

 Supplier logistik: Asma’ binti Abu Bakar r.a,

 Tiba di Kuba pada Senin 8 Rabi’ul Awwal 1 H/ 23 September 622 M. Tinggal di Kuba selama 4 hari. Mendirikan masjid pertama kali setelah kenabian dan mendirikan salat Jum’at pada kabilah Bani Salim bin ‘Auf yang diikuti sekira 100 muslim.

Ikhtiar secara maksimal yang paripurna, sempurna sampai sudah tidak dapat lagi ditingkatkan menurut kadar manusia, bukan hanya usaha optimal yang sebenarnya masih mungkin diupgrade dan diupdate, maka akan mendatangkan pertolongan Allah Swt:  “Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. (Q.S. Yasin, ayat 9).

3. Ma’iyyatullah,  Selalu Bersama Allah.

Salah-satu episode monumental dalam perjalanan Hijrah adalah ketika Abu Bakr Ashshiddiq sangat khawatir dalam persembunyiannya di Gua Tsur bersama Rasulullah Muhammad Saw. Abu Bakr sedih, khawatir dan risau bukan kepada keselamatan dirinya, tetapi lebih kepada kekhawatiran dan kerisauan seandainya Rasulullah tertangkap dan terbunuh oleh orang Kafir maka bagaimana kelanjutan Dakwah Islamiyah. Inilah kerisauan paling tinggi, berat namun mulia. Maka Rasulullah Saw.  menenangkannya  seperti yang terekam dalam Al-Qur’an: “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At Taubah, ayat 40).

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dari Anas dari Abu Bakar RA berkata: “Ketika saya bersama Rasulullah Saw di gua dan saya mengangkat kepala saya, maka ternyata saya berada di bawah kaki-kaki kaum kafir Quraisy, maka saya berkata, Ya Rasulullah, seandainya mereka menggerakkan pandangan pasti akan melihat kita. Rasulullah SAW bersabda, “Diamlah wahai Abu Bakr, (kita memang) berdua (tetapi ada) Allah yang ketiga (bersama kita)!. Atau dalam lafaz lain:  “Wahai Abu Bakar, janganlah engkau kira kita hanya berdua saja, (karena) Allah lah yang ketiga!”.

Dalam hidup ini sudah pasti masing-masing kita akan mengalami dinamika dan problematika. Setiap kita memiliki air mata sendiri-sendiri untuk episode kehidupan yang dijalani. Maka kuncinya harus merasa selalu bersama Allah SWT. Apapun dan bagimanapun kondisi yang dialami harus selalu kembali kepada Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus, sehingga akan menghadirkan resep 4 S kiat hebat hidup bahagia: jika senang  perbanyak syukur, jika sedih perkuat sabar.

Hikmah tawakal kepada Allah: jika sukses maka tidak akan sombong dan jika gagal maka tidak akan berputus asa apalagi stres.

4. Al Mutsabarah,  Konsisten dalam Perjuangan

Adalah Asma’ binti Abu Bakar RA yang bertugas mengantar makanan dan minuman serta kebutuhan Rasulullah dan ayahnya selama mereka  berdua bersembunyi 3 hari 3 malam di Gua Tsur. Penulis yang pernah melihat dari dekat kondisi dan posisi Gua Tsur dan napak tilas langsung mendaki Jabal Nur untuk sampai ke Gua Hira bisa membayangkan dengan lebih jelas, terang dan gamblang betapa sulit, susah dan payahnya untuk sampai ke gua itu. Maka sangat layak ketika Asma’ dijuluki dengan “Dzatun Nithaqain”,  yang memiliki 2 ikat pinggang,  yang digunakan untuk mengikat tempat makan agar mudah dibawa keatas bukit Tsur nan terjal dan curam.

Ketika kaum kafir Quraisy memperkusi, membully dan mengintimidasi Asma’, saudari Aisyah itu tetap kuat merahasiakan tempat persembunyian Rasulullah SAW dan ayahnya dengan konsekuensi harus jatuh tersungkur penuh derita karena pukulan dan tamparan penuh kemurkaan Abu Jahal.

Penghormatan selalu sesuai dengan pengorbanan dalam perjuangan. Semakin tinggi pohon menjulang maka akan semakin kencang anging menerjang. Pelaut yang handal memang tidak pernah dilahirkan dari ombak laut yang tenang. Jika kita tetap istiqomah berada dalam gerbong kereta perjuangan yang tidak keluar dari rel-rel aral rintangan, halangan dan kesulitan maka bagaimanpun kondisi dan siapapun posisi kita pasti akan sampai ke stasiun kehormatan dan kebahagiaan. Allah berfirman:  “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Ankabut, ayat 69).

5.  Qana’ah,  Tidak Serakah

Suraqah ibn Malik ibn Ju’tsum ketika diberitahu informasi oleh kawan-kawannya bahwa ada kemungkinan Rasulullah Muhammad Saw. dan sahabat-sahabatnya di jalur utara menuju Yatsrib (sebelum diganti namanya menjadi Madinah Al Munawarah), ia menyangkal dan menolaknya bukan karena tidak percaya kepada informasi mereka, namun lebih disebabkan tidak ingin hasil yang  akan didapatnya jika berhasil menangkap Rasulullah hidup atau mati harus dibagi-bagi lagi. Sangat fantastis memang hadiah bagi pemenang sayembara itu berupa hadiah 100 ekor unta istimewa (Onta Merah). Maka sangat mungkin nama Suraqah kemudian diadopsi kedalam bahasa indonesia menjadi “serakah”.

Memang hal tersebut terjadi kepada Suraqah yang pada akhirnya tidak berhasil menangkap Rasulullah tetapi justru sebaliknya menjadi tawanan Rasulullah. Adapun Rasulullah yang mempunyai istri hartawan, Khadijah, justru rela meninggalkan kemewahan itu demi meraih Ridha Allah SWT. Demikian juga Abu Bakar RA dan para sahabat lainnya.

Qana’ah itu sangat penting serta perlu dan tetap berlaku untuk kita selaku Umat Rasulullah, terlebih pada zaman sekarang yang sarat dengan godaan materialisme, kapitalisme dan hedonisme. Tidak sedikit sebuah kelompok, halaqah, organisasi bahkan partai yang katanya mengusung kepentingan dakwah Islamiyah harus layu sebelum berkembang dan bubar di tengah jalan karena bukan lagi terkait beda pendapat antar personnya tetapi beda pendapatan antar mereka. Kalau meminjam bahasa guyonan santri: ada fulus ya mulus, tidak ada fulus ya manfus. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q/S. Ibrahim, ayat 7).

6. Ukhuwah Imaniyah

Ketika Rasulullah Muhammad Saw.  sampai di Madinah dan  memperkenalkan sahabat Muhajirin dari Makkah kepada kaum Anshar maka suasana persaudaraan karena iman begitu membahagiakan dan mencerahkan secara luar biasa. Masing-masing ingin menunjukkan ‘izzah (kemulian) dan ‘iffah (harga diri).

Misalnya, ketika Rasulullah memperkenalkan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’, Sa’ad menawarkan 3 hal kepada Abdurrahman bin Auf : Setengah harta-bendanya. sebagian tanah kebunnya, bahkan salah-seorang istrinya. Namun Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan bijaksana. Beliau hanya meminta ditunjukkan keberadaan letak pasar maka ditunjukkanlah kepadanya pasar Bani Qaynuqa’. Beliau berdagang disana dengan optimis dan semangat tinggi serta menjaga integritas sehingga menjadi orang terkaya di Madinah.

Ukhuwah imaniyah ini lebih hebat dan permanen daripada sekedar Ukhuwah Islamiyah, apalagi jika dibandingkan dengan ukhuwah nasabiyah (karena sebab keturunan), ukhuwah hizbiyah (kecenderungan kepada kelompok, halakah, organisasi, partai), ukhuwah wathaniyah (berbasis nasionalisme), bahkan jika dibandingkan dengan persaudaraan universal yang berdasarkan kemanusiaan sekalipun, ukhuwah basyariyah/insaniyah. Allah berfirman: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q/S. Al Hujurat, ayat 10).

Ukhuwah imaniyah merupakan persudaraan sejati, hakiki dan abadi hingga kelak kita menghadap Ilahi Rabbi. Adapun mereka yang saling asah, asih, asuh, mencintai dan membela bukan karena keimanan dan ketaqwaan justru akan saling menjadi musuh yang mengancam dan menyusahkan. Allah berfirman:  “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Q/S. Az Zukhruf, ayat 67).

Jadi, orang mukmin dan muslim itu, apapun latar belakang kelompok, halaqah, organisasi dan atau partainya, harus meniru bagaimana persaudaraan Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar. Bisa jadi, sewaktu-waktu kita menjadi Kaum Anshar yang memberikan pertolongan dan bantuan, namun sangat mungkin di kesempatan lain kita menjadi Kaum Muhajirin yang perlu ditolong dan dibantu. Allah berfirman:  “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q/S. At Taubah, ayat 100).

7. Ghirah Ibadah sebagai manifestasi “Walla wal Barra”._

Pada Munasabah Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H, Syekh Ahmad Isham Abdul Jayyid At Tamadiy menyampaikan sejarah Hijrah dalam bahasa Arab sebagai Delegasi atau Mab’uts Al Azhar Mesir yang bertugas di Darunnajah Cipining. Didampingi penulis yang juga menyampaikan sambutan PHBI ini, Syekh Ahmad Tamadiy tampak begitu antusias dan luas serta lugas menyampaikan pemaparannya di depan dua ribuan santri yang duduk rapi nan khusu’ di masjid Jami’.

Beberapa poin dari uraian Syekh Ahmad Tamadiy adalah bahawa Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah bukan pada Bulan Muharram melainkan pada Rabi’ul Awwal. Sebelum Hijrah telah datang kaum Anshar sebanyak 12 orang dan ini adalah jumlah yang sama dengan 12 orang yang datang kepada Nabi Musa. Artinya sebelum Hijrah sudah ada Bai’ah dan Mu’ahadah.

Masih dalam penjelasan syaikh Ahmad Tamadiy, puasa pada bulan Muharram adalah puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan. Setidaknya kita agar puasa _‘Asyura_ pada 10 Muharram dan dengan ditambah sehari sebelumnya pada tanggal 9 Muharram yang disebut dengan _Shoum Tasu’a_ sebagai pembeda dengan Yahudi dan Nashrani yang juga berpuasa pada 10 Muharram.

Secara sosial kita boleh berbaur dengan non muslim, tetapi akidah tidak boleh tercampur apalagi luntur. Dengan walla wal barra yang profesional dan proporsional maka kita mau dan mampu untuk bertoleransi tanpa harus melakukan split personality (kepribadian yang pecah/rusak) apalagi  menyakini semua agama adalah sama. Seorang muslim multazim, berpegang teguh pada syariat,  wajib menyakini bahwa Islam agama yang paling benar dan pada saat yang sama juga menyadari bahwa para non muslim pasti meyakini bahwa agama merekalah yang paling benar menurut keyakinan mereka.

Allah berfirman:  “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al Fath, ayat 29).

Akhirnya, semoga dengan spirit Hijrah ini kita akan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitas ghirah dalam beragama dan berbangsa. Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram1448 H. Semoga hidup kita semakin sukses-berkah.

Penulis: Muhlisin Ibnu Muhtarom,  Guru di Pondok Pesantren Darunnajah 2 Cipining Bogor, dan penulis buku Kiat Hebat Santri Belajar Bermasyarakat_

Exit mobile version