Banyak orang lantang mengutuk kapitalisme, tetapi diam-diam masih menikmati seluruh kenyamanan sistem yang mereka kritik. Mereka marah pada riba, namun tetap bergantung penuh pada pola hidup konsumtif yang dibangun oleh sistem itu sendiri. Akibatnya, perlawanan sering berhenti hanya sebagai slogan, bukan gerakan nyata yang melahirkan perubahan.
Padahal perjuangan melawan kapitalisme tidak cukup dilakukan dengan kemarahan atau penolakan simbolik. Perlawanan sejati harus dimulai dengan membangun ekosistem alternatif yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih bermoral. Umat Islam harus memperkuat ekonomi umat, menciptakan pasar halal yang sehat, serta perlahan mengurangi ketergantungan terhadap sistem ribawi yang selama ini mengikat kehidupan masyarakat.
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi lemah, apalagi sekadar menjadi penonton dalam arus ekonomi global. Rasulullah ﷺ memberi teladan bahwa perubahan peradaban tidak lahir hanya dari kritik terhadap sistem jahiliyah Quraisy, tetapi dari keberanian membangun sistem tandingan. Beliau membangun pasar Muslim yang jujur, memperkuat solidaritas sosial melalui zakat dan sedekah, serta menanamkan akhlak perdagangan yang penuh amanah.
Inilah yang sering dilupakan banyak orang. Ekonomi Islam bukan ekonomi anti-kemajuan. Islam tidak memusuhi perdagangan, teknologi, atau inovasi. Yang ditolak Islam adalah eksploitasi, kerakusan tanpa batas, dan penumpukan kekayaan hanya pada segelintir elit. Islam menolak riba karena riba melahirkan ketimpangan dan ketergantungan yang merusak kehidupan manusia.
Karena itu, membangun ekonomi syariah bukan sekadar mengganti istilah atau label “halal” di permukaan. Yang lebih penting adalah menghadirkan keadilan dalam praktiknya. Ketika umat mulai mendukung usaha kecil sesama Muslim, menghidupkan koperasi syariah, memperkuat wakaf produktif, dan membangun perdagangan yang jujur, di situlah sesungguhnya fondasi perlawanan sedang dibangun.
Perubahan besar memang tidak lahir dalam semalam. Ia dimulai dari langkah kecil yang konsisten, dari keberanian hidup lebih sederhana, lebih mandiri, dan lebih peduli terhadap sesama. Sebab peradaban Islam dahulu tidak dibangun oleh kemarahan semata, tetapi oleh iman, ilmu, kerja keras, dan keberanian menciptakan sistem yang lebih bermartabat bagi manusia.**\
Penulis: Ruli Alqodri Mustafa, kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics Studies – Cilegon, Banten
