MENGENANG TRY SUTRISNO, JEMBATAN ANTARA KAUM MILITER DAN UMAT ISLAM

​Indonesia hari ini berduka atas berpulangnya Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno. Di balik deretan bintang dan jabatan tinggi yang pernah diembannya, sejarah akan selalu mencatat satu fragmen ikonik yang menunjukkan karakter aslinya: sosok jenderal yang “nyantri” dan mengedepankan dialog di masa-masa paling kritis bangsa.

​Diplomasi “Sorban di Leher”

​Salah satu citra yang paling melekat dalam ingatan kolektif masyarakat, khususnya di Jakarta, adalah saat beliau menjabat sebagai Pangdam V/Jaya pada pertengahan 1980-an. Pasca-peristiwa Tanjung Priok yang melibatkan benturan hebat antara aparat dan massa, suasana ibu kota berada dalam titik nadir ketegangan.
​Di tengah situasi yang membara itu, Pak Try muncul dengan pendekatan yang sangat manusiawi. Beliau mendatangi masjid-masjid dan kediaman para tokoh Islam dengan gaya yang tidak lazim bagi petinggi militer saat itu: mengenakan baju dinas tentara dengan sorban yang tersampir rapi di leher.

​Langkah ini bukan sekadar simbol pakaian, melainkan pesan kuat tentang penghormatan dan keinginan untuk merangkul. Beliau duduk bersila bersama para ulama, mendengarkan keluh kesah jamaah, dan bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh kunci seperti K.H. Syukron Ma’mun. Diplomasi “sorban” ini terbukti efektif mendinginkan suasana dan membangun kembali jembatan komunikasi antara militer dan umat Islam yang sempat retak.

​Jejak Langkah Sang Prajurit

​Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno tumbuh dalam lingkungan yang membentuk kedisiplinan dan kesederhanaannya. Dia memulai karier militer setelah lulus dari Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) tahun 1959.
​Perjalanan kariernya merupakan garis lurus pengabdian yang cemerlang:

​Ajudan Presiden: Kedekatan dan kepercayaan besar mulai terbangun saat beliau terpilih menjadi ajudan Presiden Soeharto pada 1974.

​Puncak Komando: Kepercayaan itu berlanjut hingga beliau menjabat sebagai Pangdam IV/Sriwijaya, Pangdam V/Jaya, Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), hingga memuncak menjadi Panglima ABRI (1988–1993).

​Negarawan: Puncak pengabdian formalnya tercatat saat beliau terpilih menjadi Wakil Presiden RI ke-6 (1993–1998).

​Sepanjang perjalanan karier tersebut, dia tetap dikenal sebagai pribadi yang santun dan tidak meledak-ledak. Karakter “human relationship” yang sangat baik menjadikannya sosok yang diterima oleh berbagai kalangan, baik kawan maupun lawan

​Hingga akhir hayatnya, Jenderal Try Sutrisno tetap menjadi rujukan bagi para pemimpin muda. Beliau adalah teladan tentang bagaimana loyalitas kepada negara bisa berjalan beriringan dengan ketaatan sebagai seorang Muslim. Beliau membuktikan bahwa wibawa seorang jenderal tidak lahir dari kekakuan, melainkan dari sikap yang rendah hati (tawadhu).
​Bagi dia, persatuan bangsa harus dijaga dengan hati, bukan sekadar instruksi.

Selamat jalan, Pak Try. Indonesia kehilangan putra terbaiknya yang konsisten menjaga harmoni antara “Merah Putih” dan “Hijau” dalam satu napas kebangsaan.

​

Exit mobile version