Mengendalikan Nafsu, Puasa Sepanjang Hidup

Puasa dalam bulan Ramadan merupakan ibadah yang bernilai spritual dan kemanusiaan. Secara syariah puasa telah ditetapkan hukumnya dan pelaksanaannya di waktu-waktu tertentu. Namun, puasa secara filosofi dan kemanusiaan sejatinya dilaksanakan sepanjang hidup manusia.

Kenapa demikian? Karena unsur utama dari puasa adalah ajaran untuk kemampuan mengendalikan diri atau menahan nafsu dari keinginan-keinginan buruk dalam diri manusia.

Dengan begitu maka puasa patut dilaksanakan setiap saat. Yaitu mengendalikan diri dari keinginan -keinginan buruk yang selalu menggoda manusia. Ilustrasi menarik dalam hal ini diungkapkan oleh Nabi Muhammad. Ketika pulang dari Perang Badar, sebuah perang besar dan pertama dalam Islam. Usai peperangan Nabi berkata, “Kita baru pulang dari perang kecil menuju sebuah perang besar (Raja’na min jihadil asghar ilaa jihadil akbar).” Sahabat bingung kenapa Perang Badar yang cukup dahsyat disebut perang kecil, padahal waktu itu tentara Islam hanya 313 orang, harus melawan pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya 1000 orang, namun dimenangkan oleh pasukan muslim. Sahabat bertanya, “Perang apakah yang besar yaa Rasulullah”. Nabi menjawab, ” Perang melawan nafsu,” (jihadun nafsi).

Pernyataan Nabi menunjukkan perang melawan nafsu adalah perang abadi dalam kehidupan manusia. Sebab, manusia dalam kehidupan nyata yang menjadi musuhnya bukanlah lawan nyata yang bersifat fisik semata. Musuh manusia sesungguhnya juga ada dalam diri manusia sendiri. Manusia sebagai makhluk biologis dan spiritual dikendalikan oleh dua kekuatan dan kecenderungan. Kecenderungan kepada kenikmatan materi, fisik atau jasmaniah, dan kecenderungan untuk mengakses kehidupan dan mencari kebahagiaan atau kenikmatan rohaniah, spiritual atau metafisik. Dua kebutuhan ini harus dipenuhi secara seimbang, yang kalau salah satunya saja yang dipenuhi akan menimbulkan ketimpangan dalam kehidupan manusia

Sekarang ini kita melihat manusia amat dipengaruhi kebutuhan yang bersifat jasmaniah, materi dan kebendaan. Manusia menumpuk harta dan kekayaan yang pada kalangan tertentu sudah sangat melebihi jauh dari kebutuhannya. Terkadang harta dan kekayaan yang dikumpulkan juga diperoleh dengan cara-cara yang tidak memperdulikan hukum, ajaran agama, maupun norma. Tidak perduli halal maupun haram, yang dalam dunia hukum disebut perbuatan korupsi.

Kemudian cara-cara menumpuk harta sekarang ini juga tidak memperdulikan keselamatan dan kelestarian lingkungan, sehingga timbullah banjir besar dan tanah longsor yang merusak kehidupan dan korban manusia. Ini tentunya adalah kegagalan manusia dalam mengendalikan nafsunya, sehingga menimbulkan bencana dan musibah yang luar biasa. Dari sini kita bisa melihat relevansi dan pentingnya ajaran puasa untuk mengendalikan diri dan nafsu serta sifat tamak dan rakus yang berbasis pada dorongan nafsu manusia yang gagal mengendalikan syahwatnya.

Hikmah puasa yang mengandung ajaran spiritual dalam bulan puasa adalah upaya mendekatkan manusia dengan Allah. Membina dan menjalin hubungan manusia dengan Allah, juga tidak seharusnya bersifat temporal hanya pada waktu-waktu tertentu saja, bukan hanya di bulan Ramadan, tetapi juga harus sepanjang masa dan setiap saat. Sebab, relasi dan kedekatan manusia dengan Allah juga memberikan kemampuan bagi manusia untuk mumpuni mengendalikan nafsu yang cenderung ke arah yang tidak baik.

Relasi dan mendekatkan diri manusia kepada Allah dilakukan dengan membudayakan dan mengintensifkan beribadah kepada Allah, yang dilakukan dengan penuh kesadaran, ikhlas dan ridho. Pada taraf yang lebih baik adalah seorang hamba yang beribadah kepada Allah ketika ia merasakan ada nikmat yang dirasakannya saat beribadah kepada Allah, baik ibadah-ibadah yang bersifat wajib maupun yang sunat. Bahkan, bagi seorang yang merasa nikmat beribadah, tidak ada lagi hukum wajib dan sunat. Semuanya dianggap suatu kebutuhan yang dirasakan kenikmatannya. Orang-orang yang sudah sampai pada taraf ini dalam beribadah yang dalam tasawuf dan ilmu makrifah disebut para Arifin.

Para Arifin karena sudah merasakan dekat dan nikmat berhubungan dengan Allah selalu akan menjauh dari perbuatan haram dan makruh Waktunya dipergunakan sebaik-baiknya untuk hal yang bermanfaat, walaupun itu di sela-sela waktu kosong, seperti dalam perjalanan, ia akan bertasbih, berzikir atau mendengarkan ceramah agama yang mencerahkan. Demikian juga hal-hal yang menyangkut kepribadian, ia mudah beramal, mudah memaafkan dan minta maaf, berhati lapang menerima kenyataan hidup, baik ketika susah maupun saat mendapat nikmat, tidak lupa bersyukur atas karunia Allah.

Untuk menjadi seorang yang Arifin sudah pasti perlu usaha, tidak bisa datang sekonyong-konyong. Perlu ketaatan dan kedisiplinan menjalankan ibadah kepada Allah. Keberanian untuk memulai mendekatkan diri kepada Allah jika dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh pastilah akan berhasil.

Bulan Ramadhan ini sesungguhnya adalah momentum yang sangat baik untuk melatih diri menjadi hamba yang hendak mencapai taraf Arif dan Arifin. Timing waktunya dan suasananya yang kondusif dan mendukung untuk beribadah yang nilai kebaikan ibadah dan pahalanya yang berlipat ganda harusnya juga disertai niat yang kuat untuk meraih hamba yang Arif, yaitu yang merasa nikmat beribadah dan berhubungan dengan Allah.

Bulan Ramadan janganlah hanya menjadi ibadah yang tingkat intensitasnya tinggi hanya bersifat kontemporer atau sementara. Kemudian sesudah Ramadhan intensitas beribadah dan kedekatan dengan Allah kembali ke titik biasa-biasa saja. Tidak ada bekas dari ibadah puasa dan Ramadan yang selama sebulan dilakukan. Apalagi, misalnya, kalau aktivitas ibadah dan penghayatan spiritualnya malah berkurang pasca Ramadan. Jelas itu sesuatu yang sia-sia dan sebuah ketidakmampuan memanfaatkan momentum dari banyak hal-hal keutamaan di bulan Ramadan. Ini yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad Saw,” Betapa banyak dari orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasa, kecuali lapar dan haus”.

Semoga puasa kita tahun ini mampu meningkatkan iman kita dan ketakwaan kita kepada Allah. Aamiin.

Exit mobile version