Lari dari Tuhan dan Kegagalan Menemukan-Nya

Manusia sering kali merasa sulit menemukan Tuhan. Banyak yang mengaku telah mencari dengan sungguh-sungguh, namun ujungnya tetap saja kekosongan. Tetapi persoalan sesungguhnya mungkin bukan bahwa Tuhan terlalu jauh untuk ditemukan, melainkan manusia sendirilah yang memilih untuk lari dari-Nya. Seperti seorang kriminal yang “tidak menemukan” polisi karena ia terus bersembunyi, manusia juga bisa menutup mata dan hati, kemudian tidak melihat kehadiran Ilahi.

Setiap budaya dan peradaban menunjukkan jejak agama. Antropologi membuktikan, suku yang paling sederhana sampai masyarakat modern yang kompleks, ada kesadaran akan sesuatu yang lebih tinggi. Ritus, doa, dan simbol keagamaan muncul sebagi kebutuhan dasar jiwa. Dorongan untuk mencari Tuhan melekat dalam diri manusia. Namun, kehadiran dorongan itu tidak selalu berarti manusia menuruti dan menghayatinya. Sering kali justru timbulnya perlawanan batin, sebuah pelarian dari panggilan Ilahi.

Mengapa manusia lari dari Tuhan?

Pertama, karena ketakutan. Tuhan menghadirkan cahaya yang membongkar kegelapan hati. Banyak orang lebih nyaman hidup dalam kebiasaan dan dosa daripada menghadapi kebenaran yang menuntut tobat. Cahaya Tuhan tidak hanya menghibur, tetapi juga mengoreksi. Lari dari Tuhan sering berarti lari dari tanggung jawab untuk berubah.

Kedua, karena kesombongan. Ada dorongan dalam jiwa manusia untuk merasa cukup pada dirinya sendiri. Apalagi manusia modern. Teknologi dan pengetahuan dan kecukupan menbuatnya berkata, “Aku bisa hidup tanpa Tuhan.” Tetapi penolakan itu sering hanya ilusi. Semakin keras menolak, semakin besar kerinduan yang tak terjawab dalam hati. Tuhan tidak hilang, terus saja itu “mengganggu”.

Ketiga, karena luka. Banyak orang tidak bisa menerima gagasan tentang Tuhan karena pengalaman pahit: kehilangan, ketidakadilan, atau bahkan melihat agama yang disalahgunakan. Luka yang pedih membuat hati menolak membuka ruang bagi pengampunan. Dalam keadaan itu, melarikan diri akan lebih mudah daripada mencoba memahami misteri Allah. Semakin pahit hidup terasa, dan semakin jauh pula manusia dari kehadiran Tuhan.

Padahal, bila manusia berhenti berlari, ia akan mendapati bahwa Tuhan telah lebih dulu mendekat. Dalam Islam, Allah disebut lebih dekat daripada urat leher manusia. Dalam tradisi Kristiani, Yesus digambarkan sebagai Gembala yang mencari domba yang hilang. Kehadiran Ilahi bukan sesuatu yang jauh di luar jangkauan, melainkan selalu menunggu di pintu hati. Masalahnya, apakah kita berani membuka pintu itu?

Menemukan Tuhan bukanlah soal kecerdasan intelektual atau pencapaian spiritual tertentu. Ia lebih mirip dengan keputusan sederhana untuk berhenti lari dan berbalik. Membiarkan diri berhenti sejenak, menanggalkan alasan-alasan, dan menghadapi kerinduan terdalam jiwanya.

Maka, mungkin satu-satunya alasan manusia tidak menemukan Tuhan adalah karena ia memilih untuk tidak ditemukan. Ia menutup mata, memalingkan wajah, dan berlari ke arah lain. Tetapi bagi siapa yang berhenti berlari, dunia akan terbuka dengan cahaya yang baru: bahwa Tuhan selalu hadir, lebih dekat daripada yang disangka.

Exit mobile version