Relakah Anda memotong waktu selama setahun dari 365 hari menjadi 355 hari? Yang 355 hari itu Anda gunakan untuk menyibukkan dalam kehidupan duniawi yang sarat tekanan, ketegangan, persaingan, bahkan peperangan untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Lalu yang 10 hari Anda manfaatkan dengan memenjarakan diri di masjid untuk memesrakan hubungan yang intensif dengan Allah. I’tikaf.
Ya. Cobalah sekali saja. I’tikaf ibadah yang sangat sayang kalau diluputkan dari agenda Ramadhan yang sekarang sudah masuk 10 hari terakhir. Kalau siap, tinggalkan sementara kehidupan hiruk pikuk duniamu yang tidak akan pernah ada ujungnya.Dunia yang tanpa sadartelah menjadi “Tuhan” yang Anda “sembah” lalu anda menjadi hambanya.
Jejakkan kaki Anda kemasjid dengan penuh keceriaan. Bertahanlah di sana dengan salat, zikir, doa, salawat, tasbih, tahmid, takbir, dan muhasabah atas perilakumu selama setahun. Binalah hubungan cinta menuju puncak asmara dengan Allah. Bayangkanlah ini adalah Itikaf terakhirmu. Siapa tahu tahun depan jasadmu sudah membeku di dalam kuburan.Raih malam laylatulqadar yang kalau kita dapatkan akan lebih dahsyat dari pada beribadah selama 83 tahun.
Itikaf itu sangat ringan;tidak berat, tidak sulit, tidak lelah. Terasa berat, sulit, dan lelah kalau hati kita masih terpenjara oleh kesibukan dunia yang sesaat. Akan menyerah kalau dalam jiwa kita belum terbersit ingin bermesraan secara mendalam dengan Allah.
Lakukan semampumu. Bisa semalaman, setengah malam, bahkan satu jam pun tidak masalah. Bebas. Anda yang mengatur durasinya. Bila itu Anda lakukan itulah ibadah sunnah yang sangat dibanggakan oleh para malaikat. Selama berada dalam masjid Anda dikerubungi ribuan malaikat yang tidak sabar ingin mendengar apa yang akan Anda minta.
Anda akan melihat betapa masjid-masjid hidup sepanjang malam seperti tidak pernah tidur. Banjir jamaah yang bermaksud Itikaf tidak bisa dibendung. Di situ Anda akan merasa betapa tertinggalnya diri Anda dalam mengejar derajat taqwa. Sementara orang-orang berduyun-duyun membawa istri dan anak-anak mereka untuk berusaha mendapat malam kemuliaan laylatulqadar.
Bila hubungan asmaramu dengan Allah telah sampai puncaknya maka seluruh raga dan jiwamu adalah raga dan jiwanya Sang Kekasih yang akan selalu menuntunmu ke jalan kemuliaan hidup. Anda akan merasa betapa dunia yang selama ini diburu dan dijadikan target utama ternyata bukan segala-galanya. Ada Yang Maha Kasih untuk diburu cintanya, ada Yang Maha Sayang untuk dikejar kasih sayangnya. “Dengan tangan-Mu aku menyentuh. Dengan Kaki-Mu aku berjalan. Dengan mata-Mu ku memandang. Dengan telinga-Mu ku Mendengar. Dengan lidah-Mu aku bicara. Dengan Hati-Mu aku merasa”.
