Memperingati 70 Tahun Wafatnya Haji Agus Salim

Peringatan 70 tahun wafatnya Haji Agus Salim ditandai dengan launching buku Hadji Agus Salim The Grand Old Man: Jurnalis. Ulama, Diplomat di Universitas Yarsi Jakarta pada 30 November 2024.  Peluncuran buku yang memuat tulisan dan kesaksian sejumlah tokoh tentang sosok dan peran Haji Agus Salim dalam perjuangan bangsa merupakan acara puncak dari rangkaian kegiatan Festival Hadji Agus Salim 2024 yang diinisiasi oleh Yayasan Hadji Agus Salim di Jakarta berkolaborasi dengan  komunitas anak muda Koto Gadang, Sumatera Barat.

Haji Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,  Jakarta. Upacara pemakamannya  waktu itu dihadiri Wakil Presiden Mohammad Hatta dan puluhan ribu warga Ibu kota yang memadati sepanjang jalan yang dilalui hingga lokasi makam pahlawan. Tokoh besar Indonesia itu tutup usia satu bulan setelah memperingati ulang tahun ke-70 dan peluncuran buku Djedjak Langkah Hadji A. Salim: Pilihan Karangan, Utjapan dan Pendapat Beliau Dari Dulu Sampai Sekarang (Penerbit Tintamas, Jakarta, 1954).

Dalam serial buku Bapak Bangsa terbitan Tempo, Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (2013), beliau disebut  sosok yang cerdas dan kritis sejak belia. Wartawan tanpa kompromi dari zaman kolonial. Dia adalah diplomat yang cerdik dan pendebat ulung. Santri yang kritis dan ulama yang moderat. Berbagai peristiwa yang dialaminya dari masa penjajahan Belanda hingga Indonesia merdeka menempanya menjadi Haji Agus Salim. 

Agus Salim lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Ayahnya Sutan Muhammad Salim seorang Jaksa Pengadilan Negeri. Setamat dari ELS (Europeesche Lagere School) diploma 1898 di Koto Gadang, melanjutkan ke HBS (Hoogere Burger School) diploma 1903 di Jakarta. Ia lulus dengan predikat terbaik. Agus Salim bercita-cita menjadi dokter, namun keuangan orangtuanya tidak memungkinkan untuk melanjutkan sekolah lebih tinggi.

Dalam kurun waktu 1906 hingga 1911 Agus Salim bekerja sebagai penterjemah pada Konsulat di Jeddah. Selama di Arab Saudi ia memanfaatkan kesempatan untuk belajar bahasa Arab dan mendalami agama Islam kepada pamannya Syeikh Ahmad Khatib, ulama besar Minangkabau yang mengajar di Arab Saudi dan Imam Masjidil Haram. Sepulang dari Arab Saudi, ia mendirikan sekolah HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Koto Gadang.

Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir mengemban tugas diplomasi di masa revolusi kemerdekaan.

Tokoh Pergerakan Nasional

Agus Salim adalah pemimpin bangsa dan founding fathers yang besar peranannya dalam perjuangan merebut, menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan. Ia adalah tokoh senior kepemimpinan umat Islam Indonesia sejak era pra-kemerdekaan, dimana ia bersama H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis aktif sebagai Pengurus Besar Centraal Sarekat Islam tahun 1915.

Kiprah Agus Salim sebagai Anggota Volksraad (Dewan Rakyat) tahun 1921 hingga 1924 adalah mewakili Sarekat Islam. Jauh sebelum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bahasa Melayu/Indonesia telah digunakan dalam sidang Volksraad oleh Agus Salim. Ia pernah ditegur oleh Ketua Volksraad yang memintanya berpidato dalam bahasa Belanda. Dalam perkembangan lebih lanjut Haji Agus Salim menempuh sikap politik non-cooperatie dengan Volksraad dan mengundurkan diri. Ia merasa keberadaannya di lembaga perwakilan bentukan pemerintah kolonial tidak membawa manfaat seperti yang diharapkan bagi kepentingan rakyat pribumi.

Ketika Muktamar Alam Islami menggelar pertemuan di Makkah tahun 1927,  Agus Salim hadir sebagai peserta dari Hindia Belanda (Indonesia). Setelah acara muktamar selesai, Raja Abdul Aziz Bin Saud secara khusus mengundangnya untuk bersilaturahim di Istana Raja.

Pada Kongres Al-Islam di Cirebon tahun 1921, Haji Agus Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto didaulat menjadi pimpinan kongres. Dalam kongres itu dibahas upaya mengurangi perselisihan umat tentang soal-soal furu’ dan khilafiyah serta mencari jalan bagaimana mewujudkan persatuan aliran dan kerjasama di antara kaum muslim di tanah air.

Dalam Kongres Al-Islam II di Garut tahun 1922, Agus Salim menguraikan fungsi agama dan ilmu pengetahuan, hubungan Islam dengan Sosialisme serta kecamannya terhadap Kapitalisme yang hanya mengejar “meerwaarde” (keuntungan, laba), sedangkan Islam dengan ajaran tentang larangan riba menolak keuntungan yang menghalalkan segala cara.  

Dalam Kongres Al-Islam di Garut itu Agus Salim menegaskan kepentingan persatuan umat Islam dan menyerukan pentingnya fungsi Majelis Ulama. Ia mengusulkan di Kongres Sarekat Islam di Pekalongan pada tahun 1927 supaya segera didirikan Majelis Ulama. Pembentukan Majelis Ulama terwujud dalam Kongres Sarekat Islam di Yogyakarta tahun 1928.   

Pada Kongres Al-Islam Luar Biasa di Surabaya tahun 1924 dihadiri lebih kurang 1.000 orang dari kalangan Sarekat Islam, Muhammadiyah dan organisasi lainnya, Haji Agus Salim mengemukakan, “Nasionalisme berdasar Islam ialah memajukan negeri dan bangsa berdasarkan cita-cita Islam.” Pada 17 Desember 1934 Haji Oemar Said Tjokroaminoto wafat, maka Haji Agus Salim dipilih menjadi Ketua Dewan Partai PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia). Dalm kurun waktu 1940 – 1942 Haji Agus Salim non-aktif berpolitik, tetapi aktif menulis risalah agama, kebudayaan, politik dan berbicara di  corong radio Nirom (Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatshappy) mengupas berbagai topik aktual masa itu.   

Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir, Sumitro Djojohadikusumo, dan seorang diplomat negara Arab.

Diplomat Indonesia Pertama

Menjelang kemerdekaan Haji Agus Salim menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang dibentuk di zaman Jepang dan melaksanakan sidang pertama tanggal 29 Mei 1945. Dalam sidang BPUPKI Agus Salim tampi sebagai penengah antara kelompok Islam dan nasionalis. Setelah kemerdekaan dalam tulisannya di Majalah Hikmah edisi 21 Juni 1953, Haji Agus Salim mengungkapkan kedudukan Pancasila sebagai semboyan politik sekaligus lambang persatuan semua golongan yang ada di Indonesia.

Agus Salim ikut mereorganisasi Masyumi, November 1945. Ia tidak sempat melihat Masyumi mengikuti Pemilihan Umum Pertama tahun 1955. Sejarah mencatat Haji Agus Salim mengambil posisi sebagai orang non-partai dalam Pemilu pertama.

Dalam pemerintahan negara pada periode tahun 1946 – 1948 ia menjabat Menteri Muda Luar Negeri dan Menteri Luar Negeri pada beberapa kabinet. Ia terlibat aktif dalam forum-forum perundingan dan perjanjian diplomatik, seperti Perjanjian Persahabatan Indonesia dan Mesir yang ditandatangani pada 10 Juni 1947. Perjanjian Persahabatan Indonesia – Mesir merupakan pengakuan pertama atas kemerdekaan Indonesia. Delegasi Indonesia ke Mesir waktu itu dipimpin oleh Haji Agus Salim sebagai ketua, anggota delegasi Sutan Sjahrir, A.R. Baswedan, Nazir Sutan Pamuncak, H.M. Rasjidi, dan R.H. Abdul Kadir. “Pengakuan Mesir telah menghancurkan harapan Belanda untuk dapat kembali menguasai Indonesia,” kata Prof. Dr. H.M. Rasjidi (Menteri Agama Pertama RI) dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim (1984).

Peran Haji Agus Salim juga tercatat dalam perjanjian Persahabatan dengan Suriah (2 Juli 1947), Perjanjian Persahabatan dengan Saudi Arabia (21 November 1947), dan perundingan di atas geladak kapal Renville pada 8 Desember 1947. Ia ikut delegasi Indonesia ke Lake Success Amerika Serikat tahun 1947. Ia merupakan perintis hubungan diplomatik Indonesia dengan beberapa negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, Siria, dan Libanon.

Agus Salim menjadi anggota delegasi Indonesia ke Inter Asian Relations Conference di New Delhi, India. Pada 3 Juni 1953 ia mewakili Pemerintah RI bersama Sri Paku Alam VIII menghadiri Penobatan Ratu Elizabenth II di London, Inggris. Haji Agus Salim dan Mohammad Hatta hadir dalam Konperensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag Negeri Belanda pada 23 Agustus 1949, dimana salah satu hasil KMB pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 30 Desember 1949.

Kunjungan Haji Agus Salim ke negara-negara Arab dalam rangka menggalang pengakuan de jure atas kemerdekaan Republik Indonesia membawa hasil yang menggembirakan. Selain itu, bersama Sutan Sjahrir, ia hadir mewakili Indonesia di forum Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 12 Agustus 1947.

Jasa Haji Agus Salim untuk Republik Indonesia tak terhitung semenjak sebelum kemerdekaan Indonesia maupun sesudahnya. Karena itu tidak berlebihan, sejarawan dan jurnalis Solichin Salam dalam buku Hadji Agus Salim: Pahlawan Nasional (1965) menyebut Haji Agus Salim bukan hanya diplomat ulung, melainkan juga diplomat Indonesia yang pertama. Dia yang merintis jalan bagi Indonesia dalam hubungan maupun kegiatan-kegiatan dengan dunia internasional.

Sejarah mencatat Haji Agus Salim adalah seorang ulama intelek yang berpikir progresif dalam mengartikulasikan esensi ajaran Islam yang membawa spirit kemajuan berpikir dan bergerak bagi umatnya. Di depan Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) tahun 1927 ia mengkritisi tabir pemisah antara laki-laki dan perempuan di dalam rapat umum. Kebiasaan demikian menurutnya adalah kebiasaan bangsa Arab, bukan berasal dari perintah Islam. Bahkan mungkin juga berasal dari kepercayaan agama lain yang memandang posisi wanita lebih rendah daripada laki-laki. Agus Salim memandang, “Islam memelopori emansipasi wanita. Sesuai surat An-Nur ayat 30 tidak ada keharusan orang perempuan dipisahkan, apalagi menutup muka.”

Dalam artikel khutbah Jumat berjudul Persatuan Islam di surat kabar Dunia Islam tanggal 23 Maret 1923 tokoh pergerakan Islam itu menandaskan, “Kehidupan di dunia itu ialah kehidupan pergaulan. Dan pergaulan itu berdiri atas hak-hak dan kewajiban-kewajiban beberapa pihak, yang satu kepada yang lain, dan berhubungan pula antara yang satu dengan yang lain. Oleh sebab itu agama Islam tidak boleh menjadi pakaian atau urusan orang masing-masing sendiri atau atas dirinya sendiri. Perintah-perintah Islam untuk keperluan kesentosaan hidup segala manusia dan untuk menyelamatkan perjalanan orang Islam dari dunia ke akhiratnya, wajiblah umat Islam menjadi satu persaudaraan yang rapat. Yang sama menjunjung perintah Islam. Yang sama mengusahakan dan melakukan suruhan-suruhan Islam. Firman Allah memerintahkan umat Islam sekaliannya berpegang pada tali Allah bersama-sama. Dan melarang umat Islam bercerai-berai.”

Persaudaraan yang teguh dan kuat – menurut Agus Salim – bukan teguh dan kuat namanya saja, atau teguh dan kuat rohaninya saja, melainkan teguh dan kuat badannya dan tenaganya, kekuasaannya, dan pengaruhnya dalam pergaulan manusia segala bangsa di alam dunia ini pun juga. Teguh dan kuat sebagaimana telah disaksikan dunia dalam masa hidupnya Nabi kita, Muhammad Saw. 

Haji Agus Salim kerap mengisi siaran radio, berkhutbah, serta memberi ceramah ilmiah tentang Islam, filsafat dan ilmu pengetahuan secara menakjubkan yang menggambarkan lautan ilmunya yang luas. Pada 30 November 1952 ia menyampaikan uraian hikmah Maulid Nabi Muhammad Saw dalam Peringatan Maulid Nabi tingkat kenegaraan di Istana Negara Jakarta, dihadiri para pejabat negara dan  korps diplomatik dari negara-negara sahabat. “Kembalilah mempelajari dan mengamalkan isi Al-Qur’an,” katanya.

Dalam kesempatan lain, ia berkata, di mana letaknya kehebatan Islam? “Islam tidak terletak pada isi yang terkandung di dalam kitab suci Al-Qur’an, akan tetapi dalam pelaksanaannya,” tegas beliau.

Pejuang dan negarawan seperti Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Kasman Singodimedjo, Prawoto Mangkusasmito, Jusuf Wibisono dan lain-lain adalah murid intelektual dan kader-kader Haji Agus Salim melalui organisasi Jong Islamieten Bond (JIB). Haji Agus Salim adalah penasihat JIB.

Menarik disimak penuturan Mohammad Natsir dalam Pesan Perjuangan Seorang Bapak: Percakapan Antar Generasi (1989). Suatu kali bersama Prawoto Mangkusasmito, Natsir membawa suatu persoalan kepada Haji Agus Salim. Setelah mengemukakan pendapatnya panjang lebar, tapi tidak menjawab pertanyaan Natsir. Akhirnya ditanyakan bagaimana pemecahan persoalan itu. Justru pertanyaan yang akhir tak dijawab. “Rupanya kami disuruh berfikir sendiri, beliau memberi tahu cara analisisnya, tapi kami sendiri yang harus mengambil keputusan. Cara inilah yang mendorong kami untuk maju. Dengan cara itu tumbuh keberanian dan kedewasaan yang pada akhirnya lahir corak kepemimpinan baru,” kenang Mohammad Natsir.

Sebagai ulama dan cendekiawan yang pikirannya kerap melampaui zaman, Haji Agus Salim terbilang produktif menulis. Ia mengisi kolom Mimbar Jum’at berisi artikel khutbah jumat dalam bahasa Indonesia, meski hal itu masih di luar kelaziman. Di zaman itu sebagian kalangan muslim di Nusantara menganggap khutbah jumat mesti seluruhnya menggunakan bahasa Arab.  

Pengetahuannya tidak hanya mendalam di bidang agama dan politik, tetapi juga sastra dan filsafat. Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif menjulukinya Bapak Kaum Intelektual Muslim Indonesia. “Salim boleh dikatakan telah mewariskan segala-galanya yaitu berupa kejujuran, intelektualisme Islam, percaya kepada diri sendiri, kecakapan mengurus negara, kesetiaan kepada prinsip perjuangan, kesederhanaan dan rasa tanggung jawab yang cukup tinggi terhadap nasib bangsa dan negara,” tulis Ahmad Syafii Maarif dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim (1984).  

Dari kini ke kanan: H.M.Rasjidi, A.R. Baswedan, H. Agus Salim, menjalankan tugas diplomasi ke Mesir.

Anekdote Haji Agus Salim

Agus Salim memiliki kecerdasan komunikasi dan kecakapan “bersilat lidah” (berdiplomasi) yang jarang temukan pada tokoh lainnya. Dalam suatu perdebatan dengan seorang Belanda, ia  ditantang, “Salim,  apakah engkau kira bahwa engkau ini seorang yang paling pintar di dunia ini?  Haji Agus Salim menjawab, “Itu sama sekali tidak. Banyak orang yang lebih pintar dari saya, cuma belum lagi bertemu dengan seorang di antara mereka.”

Ia menguasai banyak bahasa asing bahkan mahir berpidato menggunakan beberapa bahasa sekaligus jika audiens-nya terdiri dari berbagai bangsa. Haji Agus Salim menguasai 9 bahasa asing, di antaranya bahasa Arab, Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, dan Turki.  

Suatu hari Agus Salim menemui temannya di kantor pemerintah Hindia Belanda. Temannya menyesalkan, coba kalau kau bekerja menjadi pegawai Belanda, nasibmu takkan seperti ini. Tak berapa lama, datang tuan Cobee, adviseur Belanda. Begitu dilihatnya ada tamu yakni Haji Agus Salim, orang Belanda itu mengulurkan tangan untuk bersalaman. Sesudah itu dia pun pergi. Teman yang bekerja di kantor Belanda itu malah tidak disalami. Kata Haji Agus Salim, “Coba kalau saya bekerja dengan Belanda, tentu seperti kau. Meski saya tidak bekerja dengan si Belanda itu, mereka hormat kepada saya.” 

Dalam sebuah rapat umum sewaktu Haji Agus Salim naik podium, tiba-tiba terdengar suara dari belakang, “mbek… mbek….” menyindir Haji Agus Salim yang berjenggot. Ia tidak kehilangan akal dan spontan berucap, “Saya tidak mengira, di sini banyak juga kambing-kambing yang hadir.” Orang yang mengembek dengan maksud mengolok-olok Haji Agus Salim malu sendiri dan disuruh keluar.

Agus Salim memiliki rasa humor yang tinggi, tapi humor yang bermutu. Dalam jamuan makan di luar negeri hanya Haji Agus Salim yang makan pakai tangan. Seorang bule berkata, “Tidakkah Tuan jijik makan pakai tangan?” Haji Agus Salim menjawab enteng, “Saya tahu tangan saya ini lebih bersih daripada sendok dan garpu yang Tuan pakai. Tangan saya tidak pernah dipakai orang lain.”

Suatu kali Agus Salim minta dibuatkan peci yang dirajut oleh istrinya. Peci itu ditunggu sampai jadi hingga menunda keberangkatan untuk suatu keperluan karena ingin memakai peci rajutan itu. Waktu pulang sore harinya peci itu tidak kelihatan lagi di kepalanya. Ternyata telah dihadiahkannya kepada seorang kawan yang sangat mengagumi peci itu. Peci baru siap yang amat disukainya hingga mau menunggu sampai selesai membikinnya. Kata Haji Agus Salim, memberi sesuatu barang yang amat kita sayangi kepada orang lain, itu baru namanya pemberian.

Dalam kisah hidup keluarga Haji Agus Salim, meski hidup sederhana dan rumah tempat tinggal berpindah-pindah karena mengontrak, namun selalu diliputi kegembiraan, rasa syukur dan qanaah (merasa cukup dengan nikmat yang ada). Perabot rumah Haji Agus Salim selalu diubah-ubah letaknya untuk penyegaran suasana supaya tidak membosankan. Keluarga Haji Agus Salim melahirkan anak-anak yang sehat jasmani dan mental-ruhani. Anak-anak memanggil ayahnya “Paatje” dan ibunya “Maatje”.

Sebagaimana diungkapkan dalam kenangan anak-anaknya ketika tidak punya lauk-pauk untuk dimasak karena uang belanja sedang menipis, Haji Agus Salim ikut memasak nasi goreng untuk dinikmati seisi rumah dengan penuh keceriaan. Ketika hujan lebat atap rumah bocor, ember-ember ditaruh di tempat yang kebocoran, anak-anak diajak membuat perahu kertas lalu mereka asyik bermain perahu. Mereka tak perlu tahu orangtuanya sedang tak punya uang buat memperkaiki atap rumah. Kebahagiaan dan keceriaan terukir dalam jiwa anak-anak Haji Agus Salim seumur hidup mereka. 

Dengan pandangan hidup yang terbentuk dengan landasan tauhid dan tawakal, Haji Agus Salim selalu yakin pada takdir bahwa di saat bagaimana pun sulitnya, pertolongan Allah pasti datang. Salah satu sifat mengagumkan dari Haji Agus Salim seperti dikenang murid-muridnya adalah tidak tampak kesuraman di saat miskin dan tidak kelihatan kesombongan dan lupa daratan setelah hidup mapan di hari tuanya.   

Di zaman kolonial, orang yang tidak pandai berbahasa Belanda diangap rendah dan merasa rendah diri. Haji Agus Salim berbicara dalam bahasa Belanda dengan anak-anaknya semenjak kecil. Ia dan istrinya mendidik sendiri anak-anaknya di rumah (homeschooling) tanpa sekolah formal, kecuali anak yang bungsu masuk sekolah setelah Indonesia merdeka. Ketika baru menikah, Haji Agus Salim berpesan kepada istrinya Zainatun Nahar binti Almatsier yang sama berasal dari Koto Gadang agar banyak membaca, sebab setelah mempunyai anak kemungkinan tidak akan disekolahkan, tapi kelak akan dididik sendiri.  

Di mata Agus Salim, sistem pendidikan kolonial memberi pengaruh kurang baik terhadap Bumiputera, apalagi di tengah upaya menjadi bangsa yang ingin menjadi tuan di negeri sendiri. Haji Agus Salim dan istrinya menanamkan kepada anak-anaknya kemauan untuk mencari sendiri pengetahuan lebih lanjut melalui membaca buku dan bergaul dengan orang-orang pandai.  

Suatu ketika ada orang bertanya kepadanya, “Bagaimanakah mungkin anak-anak Tuan bisa demikian lancarnya berbahasa Inggris kalau dia tak pernah bersekolah? Haji Agus Salim menanggapi, “Pernahkah Tuan mendengar dimanakah kuda belajar meringkik? Kuda yang tua meringkik dan anak-anaknya meringkik pula. Demikian pula saya meringkik dalam bahasa Inggris, maka anak-anak saya meringkik pula dalam bahasa Inggris.”

Memimpin Adalah Menderita

“Kita sebagai bangsa merasa berbahagia mempunyai orang seperti Haji Agus Salim. Karena tidak banyak orang seperti beliau. Tipe manusia yang geniaal. Beliau tidak hanya sebagai perintis, akan tetapi juga sebagai pelaksana dari kemerdekaan kita. Kalaukita gambarkan almarhum mempunyai tiga sifat yang istimewa, yaitu tajam, tangkas dan cerdas,” ujar Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta dalam mengenang setahun wafatnya Haji Agus Salim di Masjid Agung Kebayoran Baru Jakarta tahun 1955.

Bung Hatta dalam wawancara dengan jurnalis dan sejarawan Solichin Salam sebagaimana dikutip dalam Seratus Tahun Haji Agus Salim (1984) menuturkan bahwa Haji Agus Salim itu adalah seorang jenius, kepandaiannya luar biasa. Dalam seratus tahun hanya lahir satu manusia semacam itu. Banyak ucapan-ucapan Agus Salim yang mengandung kata-kata Mutiara, sayang tidak ada sekretaris yang mencatatnya. Mengenai gambaran rasa setia kawan dan solidaritas yang besar pada diri Haji Agus Salim, “Kalau dapat ia ingin menolong semua orang yang melarat hidupnya. Perasaan itulah barangkali yang menimbulkan paham sosialisme dalam dadanya, yang diperkuat pula oleh ajaran Islam,” ungkap Bung Hatta.

Haji Agus Salim hidup sangat sederhana, senasib sepenanggungan dengan rakyat Indonesia yang diperjuangkannya. Seandainya ia mau menjadi pegawai pemerintah kolonial Hindia Belanda pasti dapat menikmati hidup berkecukupan secara materi dan status sosial. Para pemimpin yang idealis pada umumnya rela menempuh jalan hidup menderita demi menjaga kemurnian cita-cita dan kesetiaan dengan prinsip-prinsip perjuangan bangsa. Sebuah ungkapan dalam bahasa Belanda yang populer di kalangan pemimpin kita di masa lalu ialah “leiden is lijden,” artinya memimpin bukan jalan yang mudah, memimpin adalah menderita.  

Kata-kata hikmah Haji Agus Salim yang sangat inspiratif sampai kini, “Hinakan harta jangan hinakan diri,” dan “Jangan dipuji suatu hari sebelum datang magribnya,” mengandung makna yang mendalam jika direnungkan.

Dalam sebuah tulisannya di surat kabar Haji Agus Salim menegaskan, “Dalam negeri kita janganlah kita yang menumpang.” Pernyataan ini, menurut Buya Hamka, adalah bekal yang menjadi pegangan seluruh insan Indonesia yang mesti tahu ke mana arah mereka akan bergerak.

Dalam artikel surat kabar Neratja, 25 September 1917 berjudul Kemajuan Diperoleh Dengan Usaha”, Haji Agus Salim membangkitkan semangat bangsa Indonesia agar percaya pada kekuatan diri sendiri, jangan terlalu mengharapkan belas kasihan bangsa penjajah, karena bangsa yang menjajah itu tidaklah akan sudi mengajar dan mendidik kita dengan sesungguhnya, karena mereka takut akan dilawan dengan kepandaian yang kita dapat dari mereka.

Sejarah mencatat Haji Agus Salim adalah jurnalis handal dan salah satu pelopor pers nasional. Ia pemimpin surat kabar Hindia Baru dan Neratja. Dalam artikel-artikelnya, ia melancarkan kritik tajam dan sindiran halus terhadap pemerintah kolonial. Di Harian Fadjar Asia, 29 November 1927, ia menyindir sikap pemerintah kolonial, “Kekuasaan polisi mesti terang-terang batasnya dan polisi tukang tangkap janganlah merangkap pula jabatan tukang mencari keterangan.” 

Sebagai pejuang kemerdekaan Haji Agus Salim memiliki andil besar dalam perjuangan menuju Indonesia merdeka. Ia salah satu founding fathers negara dan ikut mensahkan Rancangan Preambule Undang-Undang Dasar 1945 yang disebut oleh Prof. Mr. Muhammad Yamin sebagai “Piagam Jakarta” tanggal 22 Juni 1945, sebuah  konsensus tentang dasar negara Republik Indonesia.

Dalam tugas kenegaraan Haji Agus Salim diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1945 – 1946), Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II (1946) dan Kabinet Sjahrir III (1947), Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin (1947), dan Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta (1948 – 1949). Setelah tahun 1949 sampai wafat Haji Agus Salim menjadi Penasihat Utama Kementerian Luar Negeri RI.

Dalam pengantar buku Hadji Agus Salim Pahlawan Nasional (1965) karya Solichin Salam, Bung Hatta mengisahkan tanggapan Haji Agus Salim atas kemarahan pihak Belanda sehubungan pengakuan negara-negara Arab atas kemerdekaan RI. “Kalau Tuan-tuan menganggap usaha kami mendapatkan pengakuan de jure negara-negara Arab atas Republik Indonesia bertentangan dengan Perjanjian Linggarjati, apakah aksi militer yang Tuan lancarkan terhadap kami sesuai dengan Perjanjian Linggarjati? Pengakuan de jure kami peroleh akibat daripada aksi militer Tuan.  Kalau Tuan-tuan melancarkan sekali lagi aksi militer terhadap kami, kami akan mencapai pengakuan de jure dari seluruh dunia,” ungkapnya.   

Haji Agus Salim, Sutan Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya dengan gigih memperjuangkan Republik Indonesia di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  Dalam masa perang kemerdekaan dan Agresi Militer Belanda II tahun 1948, Haji Agus Salim diasingkan oleh Pemerintah Belanda ke Brastagi, Sumatera Utara, dan selanjutnya dipindahkan ke Prapat. Haji Agus Salim dan Bung Karno dipindahkan ke Pulau Bangka, bersama Bung Hatta dan kawan-kawan.

Mengenai cinta tanah air, Haji Agus Salim sebagai seorang pemimpin tampa pamrih, sebagaimana diutarakan keponakannya Prof. Dr. Emil Salim dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim, bertolak dari niat “lillahi ta’aala”. Cinta bangsa dan tanah air berkembang karena “lillahi ta’aala”. Karena Allah inilah yang menjadi niat utama. Pemantapan niat dalam hati sanubari pejuang dirasa perlu karena perjuangan kemerdekaan tidaklah mudah dan banyak godaan yang menyesatkan mereka yang berjuang.

Menurut Haji Agus Salim, tidak ada keuntungan duniawi yang bisa diraih dalam perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain, cinta tanah air tidak hanya terbatas pada usaha membebaskan tanah air dari belenggu penjajah, tidak lagi terbatas pada kecintaan yang dikobarkan oleh nyiur hijau melambai atau kilauan emas dan padi menguning, tetapi beliau menarik ke tingkat lebih tinggi. Kita mencintai tanah air karena ini adalah anugerah Allah. Dalam rangka beribadah kepada-Nya.  

Haji Agus Salim berbincang dengan seorang ilmuwan Barat di Cornell University, Ithaca NY Amerika Serikat.

Karya Pemikiran Agus Salim

Pada awal 1953 Haji Agus Salim diundang sebagai visiting professor (guru besar tamu) dalam semester musim semi untuk memberikan kuliah tentang agama Islam di Cornell University di Ithaca Amerika Serikat. Di samping itu ia diminta memberi ceramah tentang Pergerakan dan Cita-Cita Islam Indonesia di Princeton University Amerika Serikat. Rekaman kuliah Haji Agus Salim di Cornell University diterjemahkan oleh J. Taufik Salim, putra kedua Haji Agus Salim dan diterbitkan menjadi buku Pesan-Pesan Islam dalam edisi bahasa Indonesia.

George McT Kahin menyebut Kuliah Islam Haji Agus Salim di Amerika Serikat tahun 1953 banyak menimbulkan minat di kalangan kaum mahasiswa. Karena sebelumnya belum pernah ada guru besar muslim yang memimpin program dimaksud di kampus terkemuka di negara Barat.

Pada tahun 1952 Haji Agus Salim dan Ibu Zainatun Nahar memperingati ulang tahun perkawinan ke-40. Menurut beliau, perkawinan berbahagia 40 tahun bukanlah atas teori beliau, melainkan dengan izin dan keridhaan Allah. Kalau Tuhan menghendaki bisa saja kami bercerai berpisah dalam waktu yang kami sendiri tidak merencanakannya terlebih dahulu. Maka Tuhanlah yang memelihara perkawinan kami ini, sampai berlangsung 40 tahun, dan tetap dengan kepercayaan kepada Allah juga kami akan teruskan perkawinan ini. Haji Agus Salim memasang kaligrafi ayat Al-Quran surat Al-Kahfi ayat 29 pada dinding rumahnya terjemahnya, “Alangkah baiknya jika engkau masuk ke dalam surgamu engkau katakan Masya Allah, tidak ada kekuatan kecuali pada Allah.” Menurutnya, surga dimaksud dalam ayat itu ialah rumah tangga yang berbahagia.

Haji Agus Salim diminta oleh pimpinan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) yang kemudian menjadi IAIN (kini UIN Sunan Kalijaga) untuk memberi kuliah tentang dakwah Islam. Ia menyambut baik undangan mengajar sebagai guru besar di PTAIN dan kemudian mengajukan permohonan berhenti sebagai Penasihat Utama Kementerian Luar Negeri agar bisa lebih fokus mengajar. Akan tetapi Menteri Luar Negeri Prof. Mr. Soenarjo tidak mengizinkan Haji Agus Salim berhenti dari jabatan Penasihat Kementerian Luar Negeri, meski beliau akan bertugas mengajar di PTAIN Yogyakarta. Ketika usianya menjelang 70 tahun, Haji Agus Salim bermaksud menulis semua pemikiran yang pernah disampaikannya dalam sebuah buku dan menyelesaikan karangan mengenai Tafsir Al-Qur’an. Sebelum niatnya itu terlaksana panggilan Allah telah mendahului memanggilnya pulang ke alam baqa.    

Semasa hidupnya Agus Salim menulis beberapa buku dalam bahasa Melayu/Indonesia dan bahasa asing, antara lain: Tasauf Dalam Agama Islam (1916), Persatuan Islam (1923), Wajib Bergerak (1923), De Behoefte aan Godsdienst (1925), Perempuan Dalam Islam (1925), De Sluiering en Afzondering der Vrouw (1926), Islam dan Bahagia Tidak Terpisah (1928), Hukum Yang Lima (1928), Adat Kontra Islam (1934), Hari Raya Idul Fitri (1934), Cerita Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw (1935), Godsdienst (1935), Rahasia Puasa Menurut Imam Al-Ghazali (1936), Gods Laatste Boodschap de Universele Godsdients (1937), Riwayat Kedatangan Islam Di Indonesia (1941), Keterangan Filsafat Tentang Tauhid, Takdir dan Tawakal (1953), Ketuhanan Yang Maha Esa (1953), Muhammad Sebelum dan Sesudah Hijrah (1958), Islam Wasiat Tuhan Yang Terachir: Agama Manusia Seluruh Dunia (1958), buku ini ditulis dalam bahasa Belanda dan diterjemahkan oleh S. Soerowijono.  

Haji Agus Salim wafat sebagai pemimpin dan pejuang yang sangat dihormati di tanah air dan di luar negeri. The Grand Old Man (sesepuh agung) adalah julukan istimewa yang diberikan oleh Presiden Soekarno sebagai penghormatan kepada Haji Agus Salim, tokoh senior bangsa yang langka dan sangat dihormati oleh Bung Karno.

Presiden Soekarno pada 27 Desember 1961 menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional kepada almarhum Haji Agus Salim. Pemerintah DKI Jakarta memberi nama Jalan H. Agus Salim di jalan rumah tempat tinggal Haji Agus Salim di daerah Menteng yang sebelumnya bernama Jalan Gereja Theresia No 20 (kini Jl. H. Agus Salim No 72). Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1992 menganugerahi almarhum Haji Agus Salim tanda kehormatan Bintang Republik Indonesia Utama sebagai tokoh perancang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Kehidupan dan perjuangan Haji Agus Salim memberi pelajaran abadi tentang nilai dan hakikat sebuah pengabdian kepada bangsa dan tanah air sebagai ladang ibadah. Ia hanya memberi dan tak pernah meminta untuk dirinya sendiri. Ibu Maryam, salah seorang cucu Haji Agus Salim, ketika diwawancarai Majalah Intisari No 137, Desember 1974, menuturkan, “Opa tidak meninggalkan warisan berupa harta. Namun beliau meninggalkan warisan yang lebih berharga, yaitu nama baiknya sebagai orang yang pandai dan jujur.”

Exit mobile version