Lima tahun silam, tepatnya 2 Maret 2019. Dalam agenda Pameran Buku Islam atau Islamic Book Fair (IBF) di Jakarta Convention Center (JCC) digelar bedah buku Jejak Perjuangan Para Tokoh Muslim Mengawal NKRI karya Lukman Hakiem. Saya diminta oleh pengarang untuk menjadi pembicara dalam bedah buku tersebut.
Buku terbitan Pustaka Al-Kautsar itu menyuguhkan kisah keteladanan, pemikiran dan perjuangan para tokoh pejuang dan negarawan muslim dalam menegakkan dan mengisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Para tokoh muslim yang dibicarakan dalam buku tersebut, antara lain: Ki Bagus Hadikusumo, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Prawoto Mangkusasmito, Abdul Kahar Mudzakkir, Kasman Singodimedjo, Mohamad Roem, Burhanuddin Harahap, H.M. Rasjidi, M. Yunan Nasution, Anwar Harjono, Deliar Noer, Ismail Hasan Metareum dan lain-lain.
Pengunjung yang mengisi tempat duduk di depan panggung sebagian besar anak muda dan setengah baya. Bedah buku menjadi istimewa karena di antara hadirin tampak tokoh senior mantan Wakil Ketua DPR-RI Drs. H. Tosari Widjaja. Pak Tosari antusias mengikuti acara bedah buku dari pukul 16.30 hingga selesai pukul 18.00 WIB. Pada sesi dialog, ia mengambil kesempatan untuk menyampaikan tanggapan dan apresiasinya mengenai buku tersebut sambil berdiri dari tempat duduknya.
Saat itulah perkenalan pertama saya dengan Pak Tosari Widjaja. Saya sebelumnya tahu sosok beliau sebagai salah seorang tokoh politik Indonesia berlatar belakang partai politik Islam. Ia pernah menjabat Sekjen DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ketua DPP, dan Ketua Dewan Penasihat partai berlambang Ka’bah itu.
Pendidikan formalnya adalah sarjana tamatan IAIN Sunan Ampel Surabaya Cabang Malang tahun 1969. Ia seorang yang matang di dunia politik karena belajar dari perjalanan sejarah politik bangsa dan tempaan pengalaman berinteraksi dengan tokoh-tokoh senior di masa mudanya. Barangkali itulah modal utama kesuksesannya, di samping nasib baik dan takdir Allah. Tosari Widjaja dapat dicatat sebagai salah satu politisi yang memiliki kesadaran literasi mengenai perjalanan berbangsa dan bernegara serta akrab dengan dunia perbukuan sebagai kekayaan peradaban.
Saya terkesan dengan sikap hangat dan bersahabat Pak Tosari, meski saat itu saya baru kenal beliau. Perjumpaan lainnya pada acara Wakaf Summit 2019. Pak Tosari hadir sebagai peserta dalam acara itu yang diselenggarakan oleh Yayasan Dompet Dhuafa dan memakai name tage kalung peserta. Dalam forum-forum seminar atau konperensi misalnya, peserta pasti lebih banyak mendengar daripada berbicara. Begitulah teladan dan sikap rendah hati sebagai pendengar yang baik dari tokoh senior Tosari Widjaja yang diakui sebagai mentor politik oleh orang-orang terdekatnya.
Tosari Widjaja lahir di Probolinggo, Jawa Timur, pada 20 Agustus 1940. Dalam karier politik, ia pernah menjadi anggota MPR-RI, Wakil Ketua Badan Pekerja MPR-RI, anggota DPR-RI serta Wakil Ketua DPR-RI periode 1999 – 2004. Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat periode itu terdiri dari Ketua Akbar Tanjung, Wakil Ketua Soetardjo Soerjogoeritno, Tosari Widjaja, Muhaimin Iskandar dan A.M. Fatwa. Tosari Widjaja adalah Wakil Ketua DPR-RI Bidang Ekonomi dan Keuangan.
Pak Tosari adalah pribadi yang inklusif dan moderat. Ia dicintai dan dihormati di kalangan teman, sahabat dan kolega dari beragam latar belakang suku, agama dan organisasi. Beliau mengerti dinamika perjuangan politik umat Islam di republik ini dari masa ke masa. Takdir Ilahi satu waktu telah membawanya menjadi bagian dari perjuangan itu.
Tosari Widjaja mengakhiri karier politiknya di lembaga legislatif dengan husnul khatimah. Ia mampu menjaga marwah perjuangan umat yang berat tantangannya dewasa ini. Salah satu quote beliau yang mempunyai nilai inspiratif perlu saya kutip dalam tulisan in memorium ini, “Kejujuran itu akan terbukti dengan sendirinya, tidak perlu diucapkan bahwa kita orang jujur.”
Pengabdian terakhirnya dalam tugas negara adalah sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko dari tahun 2010 hingga 2014. Sebelum pulang ke Tanah Air setelah masa jabatannya selesai, Raja Maroko menganugerahkan Bintang Kehormatan Grand Cordon of the Order of Ouissam Alaouite kepada Duta Besar Tosari Widjaja.
Setelah pensiun dari tugas-tugas negara, Tosari Widjaja menarik diri dari hiruk pikuk dunia politik. Ia hampir tidak pernah mengemukakan pendapat atau mengomentari isu-isu politik nasional di ruang publik. Perhatiannya bukan lagi pada politik dan kekuasaan, tapi kegiatan keagamaan, sosial, kebudayaan dan dunia literasi. Pengamatan saya ini dibenarkan oleh koleganya tokoh pers nasional Bambang Wiwoho yang bertemu di TMPN Kalibata ketika kami menghadiri pemakaman jenazah Tosari Widjaja.
Tosari Widjaja seorang politisi yang baik dan bijaksana. Ia masuk ke gelanggang politik di waktu yang tepat dan meninggalkan gelanggang pada saat yang tepat pula. Saya rasa itulah beda politisi biasa dari politisi negarawan. Tosari Widjaja adalah politisi negarawan yang makin berkurang jumlahnya di negara kita. Pemerintah memberikan penghargaan tanda kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana kepada Tosari Widjaja selaku mantan pimpinan lembaga tinggi negara.
Suatu hari di bulan Februari 2021, Pak Tosari mengirimi saya link zoom dan facebook live acara Ngopi Bareng Kiai Dubes Tosari Widjaja Perjalanan Karier dan Politik Anak Desa, episode 4 dengan judul, “Anak Desa Mengadu Nasib Menembus Ibu Kota,” dengan host dan pemandu dialog H. Abdul Mun’im, diplomat senior Kementerian Luar Negeri RI. Program inspiratif tersebut mengupas cerita kehidupan “Kiai Dubes” Tosari Widjaja ketika hijrah guna merubah nasib ke ibukota negara Jakarta puluhan tahun yang lalu.
Setelah menyimak beberapa episode program virtual tersebut, pelajaran atau lesson learned yang ditemukan, di antaranya Tosari Widjaja meniti karier sebagai politisi level nasional karena perjuangan hidupnya, bukan karena garis keturunan atau orangtuanya tokoh politik. Prestasinya di dunia politik dan lembaga politik tidak dicapai secara instant, tapi berproses seiring waktu. Reputasi dan keberhasilannya merupakan hasil ketekunan, keuletan, kesetiakawanan dan belajar dari pengalaman.
Sebagai anak desa ia menembus persaingan hidup di ibukota negara. Ia malang melintang sebagai aktifis organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sampai terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU tahun 70-an, Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor, dan aktif di Lakpesdam NU. Kemudian meniti karier politik di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). PPP merupakan fusi beberapa partai politik Islam tahun 1973 sebagai hasil penataan politik Orde Baru yang menghendaki penyederhanaan sistem kepartaian. Partai politik tersebut pertama kali dipimpin oleh K.H. Dr. Idham Chalid.
Setelah hari tuanya, Tosari Widjaja menyadari bahwa nilai-nilai perjuangan kemasyarakatan dan moralitas politik perlu diwariskan kepada generasi muda penerus estafet perjuangan. Salah satunya melalui media literasi virtual, di mana ia menuturkan perjalanan hidupnya yang sarat dengan butir-butir pengalaman berharga. Saya pernah mengusulkan kepada beliau sekiranya dialog virtual itu ditranskrip dan dibukukan.
Dalam era informasi digital, manusia tidak hanya membutuhkan informasi, tapi membutuhkan story yang mengandung nilai-nilai keteladanan dari manusia lain yang tak bisa disediakan oleh perangkat teknologi. Tosari Widjaja menerbitkan autobiografi berjudul Karir Politik Anak Desa. Tokoh lintas generasi ini senang berbagi pengalaman, memberi motivasi dan ajakan tanpa menggurui kepada generasi muda agar mempersiapkan diri menyongsong masa depan dan meraih kejayaan umat, bangsa dan negara.
Pada Kamis 19 September 2024, pukul 05.15 WIB, Tosari Widjaja bin Suparjo berpulang ke rahmatullah di RS Eka Hospital Permata Hijau Jakarta setelah semalamnya dirawat. Ia wafat pada usia 84 tahun. Indonesia kembali kehilangan politisi yang baik. Pemakaman jenazah almarhum diselenggarakan dengan upacara militer di TMPN Kalibata dengan inspektur upacara Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI periode 2014 – 2019.
Perjuangan dan tugas hidupnya telah selesai. Semoga almarhum-almaghfurlah Tosari Widjaja husnul khatimah, diterima semua amal ibadah dan pengabdiannya, diampuni segala kesalahan dan kekhilafannya.