Pembunuhan dan Fenomena Rendahnya Harga Nyawa Manusia

Dua bulan terakhir ini muncul berita pembunuhan yang cukup menonjol. Tampaknya ini sebuah kecenderungan yang cukup mencemaskan dan mengkhawatirkan.  Nia Kurnia Sari,18 tahun, gadis penjual gorengan di Padang Pariaman dibunuh oleh terduga pelaku,  Indra Suharyono (28 tahun). Ia diperkosa, dibunuh lalu dikuburkan di atas bukit. Mayat Kurnia Sari ditemukan pada 8 September 2024 di lahan perkebunan  Korong Pasa Gelombang, Nagari Kayu Tanam, Sumatera Barat.

Berita lainnya, seorang santri bernama Abdul Karim Putra Wibowo (13 tahun), santri Pondok Pesantren Tahfidz Az Zayadiyy di Kabupaten Sukoharjo meninggal pada 16 September 2024. Korban meninggal diduga dianiya oleh seniornya berinisial MG (15 tahun).

Sementara itu berita kematian dr. Aulia Risma Lestari (30 tahun) ditemukan tewas pada Senin,12 Agustus 2024. Ia meninggal di kamar kos dengan pintu terkunci dari dalam. Kostnya berada di Lempongsari, Gajah Mungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah.   Dokter Aulia adalah mahasiswi PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) Prodi Anestasi Undip. Polisi masih menyelidiki penyebab kematiannya. Sebelumnya dikabarkan ia bunuh diri, namun ini dibantah oleh keluarga. Masih diselidiki dugaan adanya perundungan atau bullyng yang dilakukan para seniornya ketika menjalani pendidikan dokter spesialis.

Berita terakhir ditemukannya tujuh mayat di Kali Bekasi, Jatirasa,Jatiasih, Minggu, 22 September 2024. Tujuh mayat berkelamin laki-laki yang diperkirakan berusia belasan tahun diduga adalah para remaja yang terlibat tawuran. Diduga mereka melompat ke sungai ketika ada patroli polisi, dan kemugkinan tidak bisa berenang.

Membaca berita di atas terkesan manusia tidak lagi menghargai nyawa kehidupan. Nyawa seperti tidak ada harganya, begitu mudah untuk dihilangkan dan dilenyapkan. Padahal, nyawa yang sudah hilang tidak bisa lagi dikembalikan. Pelaku kejahatan tidak pernah memikirkan bagaimana kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Bagaimana kesedihan sebuah keluarga yang anaknya meninggal tidak wajar. Kehilangan nyawa manusia secara wajar saja, tidak terbayangkan sedihnya, apalagi ketika meninggal dengan tidak wajar. Ayah dr. Aulia Risma (Fakhruri,65 tahun) saja stress melihat kematian anaknya, sehingga ia tidak kuat menghadapi cobaan berat tersebut sehingga kesehatannya drof,  hingga akhirnya meninggal  (27/8/2024) di RS Cipto Mangunkusumo.

Manusia yang tidak menghargai nyawa kehidupan, menunjukkan betapa minim penghayatan spritualnya dan penghargaannya terhadap kehidupan ini. Bisa saja seseorang memiliki pendidikan tinggi secara akademis, namun jika penghayatan spritualnya rendah terhadap kehidupan, maka ia begitu mudah untuk melakukan perbuatan kejahatan dan kezaliman. Soal-soal kejahatan dan kriminalitas tentu terkait dengan soal-soal ekonomi dan kesulitas hidup, tapi tentu tidak selamanya demikian. Penjelasan secara religious dan spiritual juga bisa menjelaskan bahwa seorang pelaku kejahatan memiliki penghayatan keagamaan yang tipis. Nyawa dan kehidupan adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah untuk manusia. Jika seseorang begitu mudah untuk melenyapkan, itu menunjukkan rendahnya penghargaan terhadap kehidupan ini. Sebab itulah dalam Islam, perbuatan menghilangkan nyawa manusia adalah  perbuatan dosa yang teramat besar.

Karena itulah disamping pentingnya penerapan hukum yang maksimal bagi pelaku kejahatan yang menghilangkan nyawa manusia, pada sisi lain manusia perlu diapdute penghayatan spiritual atau batinnya untuk menghargai nyawa kehidupan ini. Sehingga tidak mudah dan gampang saja melenyapkan nyawa manusia apapun motinya, karena dendam, mencuri, merampok dan lainnya.

Pembunuhan dan penghilangan nyawa manusia merupakan tindakan yang tidak beradab. Dalam negara modern seperti sekarang ini sebenarnya tindakan-tindakan kekerasan  yang mejurus pada penghilangan nyawa manusia adalah perbuatan yang tidak berbudaya dan perilaku primitif. 

Exit mobile version