Al-Qur’an adalah satu himpunan besar dialog dan monolog. Yang menonjol dalam pemaparan riwayat nabi-nabi, dalam Kitab Suci, adalah dialog. Bahkan berita tentang maksud penciptaan Adam sebagai khalifah di bumi diungkapkan dalam bentuk dialog—antara Tuhan dan para malaikat yang sekaligus menggambarkan bayangan watak para malaikat (yang sebenarnya makhluk-makhluk otomat) dan dalam satu lukisan alegoris. Demikianlah maka lukisan itu hidup, dengan tokoh-tokoh yang “psikologis”.
Dalam Al-Qur’an, dialog itu berlangsung antara Tuhan dan para malaikat, antara Tuhan dan Iblis, antara Iblis dan Adam a.s., antara Tuhan dan nabi, antara Tuhan dan umat beriman maupun umat kafir (dalam gambaran akhirat), antara malaikat dan nabi atau tokoh besar, sedikit antara nabi dan nabi, antara nabi dan keluarganya, antara nabi dan umat kafir, termasuk raja-raja, atau antara nabi dan umat yang (sebenarnya) beriman.
Adapun monolog, dalam Al-Qur’an, tentu saja pertama kali hak prerogatif Allah. Tapi monolog juga diucapkan nabi, orang salih, bahkan para pembuat maksiat maupun orang kafir misalnya dalam bentuk pengaduan, keluhan, penyesalan, maupun doa yang panjang. Demikianlah Al-Qur’an satu himpunan besar dialog dan monolog.
Dalam hal para nabi, dialog yang memberi kesan terkuat adalah yang terjadi dengan umat yang kafir. Hal itu karena keabsahan kenabian ditunjukkan di sini dalam jalan pikiran manusia—sekumpulan argumen yang diberikan para nabi itu, tapi juga argumen para penantang, yang menyebabkan karakter muncul baik dalam jenis komunal maupun personal. Ada dua buah surah—ke-7 (Al-A’raf) dan ke-11 (Hud)—yang seakan-akan menjadi induk kisah para nabi untuk surah-surah lainnya, termasuk untuk surah, ke-71 (Nuh) yang turun lebih dulu di Makkah, yang inti kisahnya tersebut dalam kedua surah itu. Inti-inti itulah yang membentuk benang merah yang menyatukan penggalan-penggalan kisah para nabi dalam kedua surah. Di situ kita dapatkan terutama dialog yang mengedepankan misi dasar kenabian yang sama.
Telah Kami utus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia. Aku mengkhawatirkan terhadap kamu azab hari yang dahsyat” (Q. 7:59).
Dan kepada kaum Ad, saudara mereka, Hud. Katanya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia. Tidak jugakah kamu bertakwa” (Q. 7:65). : .
Dan kepada Tsamud saudara mereka, Shalih. Katanya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia. Sudah datang kepada kamu bukti nyata dari tuhanmu…” (Q. 7:73).
Dan ke Madyan saudara mereka, Syu’aib. Katanya, : “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia. Sudah datang kepada kamu bukti nyata dari tuhanmu…” (Q. 7:85).
Dan kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Katanya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia. Kamu ini hanya membi – Dan kepada Tsamud saudara mereka, Shalif, Katanya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, takadapadaka- mu tuhan apa pun selain Dia. Dialah .. – yang telah menumbuhkan kamu dari”: ‘ bumi dan membuat kamu memakmurkannya.” (Q. 11:61).
Dan ke Madyan saudara mereka, Syu’aib. Katanya, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia. Janganlah kamu kurangi takaran serta timbangan…” (Q.11:84).
Masing-masing ayat di atas merupakan pembuka untuk penggalan kisah nabi yang bersangkutan. Benang merah yang mengikat semua penggalan itu, seperti terlihat, berbunyi: “Sembahlah Allah, tak ada pada kamu tuhan apa pun selain Dia”. Dan itulah Tauhid. Al-Quran 21:25: “Tidak ‘ pernah Kami mengutus sebelum engkau (Muhammad) seorang rasul pun yang tidak Kami beri wahyu bahwa tiada tuhan kecuali Aku, karena itu sembahlah Aku.” Karena itu pencantuman hanya sebagian nabi dalam kedua surah bisa dipahami sebagai dimaksudkan, dalam konteks misi itu, sekadar sebagai penyebutan para wa kil. Memang, dalam kutipan di atas tidak turut dicantumkan Luh yang porsi kisahnya kurang sedikit dari yang diberikan kepada nabi-nabi tersebut. Padahal ia juga muncul dalam kedua surah. Hanya saja untuk nabi ini disediakan intro (lead, pembuka) yang lain dari model yang dipakai di atas (“Juga Luth, ketika ia berkata kepada kaumnya, “Adakah kalian melakukan perbuatan cabul…” Q.7:80). Model pembuka kisah Luth ini terasa dipakai untuk memecahkan kekakuan repetisi yang dibangun intro-intro di atas. Sungguh enak, rasanya, bahwa setelah tiga penggalan kisah dengan model pembuka yang sama, muncul kejutan dengan lead yang ber beda. Lebih-lebih karena perbedaan itu nanti akan nyambung dengan perbedaan lain pada intro kisah Musa dan Fir’aun dan umat nabi itu, yang panjang dan kompleks, sesudah satu jedah interval) yang diisi ayat-ayat yang memaklumkan pernyataan umum tentang hukum “ Allah (sunnatullah) dalam sejarah. Dengan kata lain: ada perubahan-perubahan dalam satu kerangka yang sama, dan perubahan-perubahan itu membentuk ritme. Ciriciri seperti itulah, kiranya, yang menyebabkan Al-Quran dengan segala pengulangan isinya, sangat enak dibaca.
Tetapi fokus kita ialah adegan adu argumen antara para nabi itu dan umat masing-masing, yang, setelah menampakkan benang me rah Tauhid di pihak para nabi, disana-sini membiaskan latar belakang yang berbeda-beda, selain boleh memunculkan bayangan karakter. Dengan menyadur ayat-ayat dalam surah-surah ke-7, ke-11, dan beberapa surah berikutnya, tapi terutama—untuk Nuh—dengan memulainya dari surah ke-71, contoh adegan-adegan itu bisa disusun seperti berikut ini. Bersambung
Penulis: Syubah Asa (1943-2011), seniman, wartawan dan mufasir. Pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat dan Pemred Panjimas. Sebelumnya bekerja di majalah Tempo, Editor dan Harian Pelita. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sumber: Panji Masyarakat , No. 35 Tahun I 15 Desember 1997