Nabi-Nabi Yang Sedih (2): Ibrahim dan Ayub

Contoh “perbedaan ideologi” dalam keluarga itu juga mencakup Ibrahim, salah satu murid Nuh, yang berlainan paham dengan ayahnya, Azar, yang pembuat (menurut riwayat) atau setidak-tidaknya penyembah berhala. Sebagian tafsir menganggap Azar (Bibel:  Ezra) bukan ayahnya, melainkan paman. Itu karena kata al-ab (Q. 6:74: 9:114: 60:4) bisa berarti paman   (yang bagai bapak sendiri), berbeda dengan al-walid  (orang tua laki-laki) yang benar-benar ayah (lihat Sirah Ibn Hisyam, juga Al-Quran  dan Terjemahannya, 199).

Betapa pun begitu dekatnya hubungan Ibrahim dengan Ezra, sampai-sampai ia berjanji memohonkan ampun untuknya dari Tuhan (Q. 60:4), padahal itu dilarang. (Bagaimana memohonkan ampun untuk orang yang sendirinya tidak merasa bersalah?). Sehingga kalaupun nabi yang besar ini tetap melakukan permohonan, itu semata-mata sebagai hanya pemenuhan janji, sebelum ia akhirnya berlepas diri. (Q. 9:114).

Kesedihan Ibrahim jenis kedua, sehubungan dengan keluarga, adalah yang menyangkut anak. Ini memang bukan soal pertentangan, tapi ujian besar bagi ni’mat Allah yang selama ini sudah berada di tangan kita. Isma’il, putra yang merupakan buah doa ayahandanya yang tua, dua kali dijadikan poros ujian berat itu. Pertama, Ibrahim diperintahkan memindahkan balita itu, bersama ibundanya, Hajar, budak hitam asal Nubia atau daerah selatan Mesir yang dulu dihadiahkan Fir’aun, ke “sebuah wadi tanpa tetumbuhan, di dekat bait-Mu yang suci,”  kata Ibrahim sendiri dalam doa munajatnya (Q. 14:37). 

Mereka pun diangkut ke Makkah, ditinggalkan di sana dengan hanya bekal seadanya, diserahkan benar-benar ke dalam kebijaksanaan Allah yang Pengasih, bagi memulai sebuah sejarah yang di belakang hari akan dimainkan sebuah keturunan yang baru, yang dari  terasnya muncul nabi terbesar terakhir, Muhammad s.a.w. Dan Kedua, ketika kepada Ibrahim diperintahkan  mendatangi anak yang jauh itu, yang sudah menjadi bocah usia sekolah lanjutan dan menyembelihnya. Dalam kedua peristiwa itu, sebagaimana pada Nuh, ataupun Luth, ada konflik besar dalam dirinya, tetapi bukan pemberontakan—dan begitulah maka seorang nabi adalah seorang nabi. Dalam kasus perintah menyembelih itu, misalnya (yang nanti akan menjadi sarana Tuhan memproklamasikan batalnya ritus pengorbanan darah manusia—sebab yang tersembelih nanti bukan si anak, melainkan domba), dalam kecamuk batin (dan godaan iblis, dalam riwayat hadis-hadis), yang diucapkan Ibrahim kepada putranya hanya: “Anakku, aku melihat di dalam tidur, aku menyembelihmu. Maka cobalah lihat, apa pendapatmu.” Dan apa pendapat si anak? “Ayah, kerjakan yang diperintahkan itu. Akan ayah lihat nanti, dengan kehendak Allah, aku termasuk  orang yang tahan uji.” (Q.37:102).

Sikap pasrah luar biasa seperti itu, yang sama sekali tanpa hujatan kepada Tuhan, juga bisa diberi contoh dengan Ayub. Ia jatuh pailit. Semua ternaknya mati, sebagian demi sebagian. Hartanya habis. Menyusul, anak-anaknya mati, satu per satu. Dan istrinya pergi. Ia sendiri ditimpa penyakit berat. Tetapi bagaimana bunyi kalimat yang diucapkannya kepada Tuhan? Katanya, “Aku ditimpa penyakit, tetapi Engkaulah yang paling pengasih di antara pengasih.” (Q. 21:83). Di situ,” kesalahan” ditimpakan kepada penyakit, dan bukan kepada Tuhan yang menurunkan penyakit. Bahkan Yusuf, yang oleh saudara-saudaranya dibuang ke dalam sumur di gurun, kemudian diambil kafilah dan dijual sebagai budak kepada salah satu pembesar Mesir, mengalami godaan perempuan dan masuk penjara lantaran fitnah, kemudian berjaya sebagai menteri urusan logistik, pada akhirnya berkata kepada ayahnya, Ya’kub, dan bersama anak-anaknya yang lain diboyong ke Mesir:  “Tuhan sudah berbuat baik kepadaku. Ia mengeluarkan aku dari penjara, dan mendatangkan Bapak dan semua saudara dari udik, setelah syaitan merusakkan hubungan antaraku dan saudara-saudaraku.” (Q. 12:100). Yang disebutnya, dalam hubungan dengan Tuhan, ialah “jasa-jasa”-Nya, sementara takdir Allah dalam bentuk perbuatan buruk saudara-saudaranya dipermasalahkannya kepada syaitan.

 Itulah etik para nabi—yang manusia biasa seperti kita, tapi tidak seperti kita karena kualitas pribadinya yang selalu berada dalam kesadaran rencana besar Allah.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat dan Pemred Panjimas.  Sebelumnya bekerja di majalah Tempo, Editor dan Harian Pelita. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).
Sumber: Panji Masyarakat,  22 Desember 1997

Exit mobile version