Mendengar kembali bait demi bait lagu Sorak-sorak Bergembira, terutama lirik yang berbunyi, “Sudah bebas negeri kita, Indonesia Merdeka,” muncul pertanyaan dalam diri saya, siapakah “kita” dalam lagu ciptaan Ibu Sud itu?
Secara etimologis, kata “kita” menunjukkan kumpulan orang yang bicara dengan teman bicaranya, “saya dan Anda”. Sementara bila menggunakan persepsi kemanusiaan, istilah itu merupakan alat yang sangat ampuh untuk melebur “aku” dan “aku-aku” yang lain menjadi kesatuan kemanusiaan yang utuh. Kesakitan yang satu dirasakan oleh yang lain.
Ketika diucapkan, “kita” tak lebih dari istilah yang ada di ujung lidah. Ia bukan kenyataan karena istilah memang bukanlah kenyataan. Ketika saya menyebut kata “arloji”, ya saya hanya menyebut sebuah kata sebab yang nyata arloji, yakni benda yang biasa menunjukkan waktu, yan barangnya sudah kita pegang atau kita pakai setelah dibeli dari toko.
Istilah “kita” baru memiliki substansi kalau istilah ini bisa dikembangkan menjadi perekat solidaritas dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, pada suatu ketika Si Kamol mengajak Si Mokal, “Mari kita berkongsi dagang!” Si Mokal menyetujuinya dan istilah “kita” di situ pun mulai hendak diwujudkan dalam bentuk syirkah. Usaha dagang dirffulai, hasilnya dibagi dua secara adil. Kekitaan di situ sudah punya wujud yang nyata. Dari sekadar istilah, bentuknya sudah meningkat menjadi realita perkongsian dagang yang bertumpu pada akhlak. Yang satu tidak akan merugikan yang lain.
Namun, kalau perkongsian dagang itu sering diwarnai dengan kecurangan, misa ya Si Mokal diam-diam mengambil keuntungan tanpa sepengetahuan Si Kamol, istilah “kita” di situ menjadi tidak berguna lagi, Istilah “kita” hanya sekadar permainan. Permainan lidah yang hampa arti karena digunakan untuk menipu dan memanipulasi.
“Kita” dalam berbangsa dan bernegara, di bumi zamrud katulistiwa yang terdiri atas berbagai etnis, aneka subkultur, ragam agama dan keyakinan, serta adanya bermacam-macam bahasa daerah, seyogianya mengadakan upaya kebudayaan untuk lebih memberi peranan kepada istilah “kita”, dari sekadar kata yang diucapkan menjadi sebuah komitmen moral yang merasuk ke dalam jiwa dan tulang sumsum bahwa kita adalah “satu”.
Penunjang yang menjadi simpai budaya telah lama kita miliki. Misalnya, lagu Anging Mamiri dari Makasar yang didengar oleh orang Minang dan Jawa terasa milik sendiri.
Tari Lilin dari Sumatera Barat bisa ditarikan oleh anak Kalimantan. Kolintang dari Sulawesi, batik dari Solo, sarung dari Samarinda, dan topeng Asmat, semua telah lama menjadi kebanggaan bersama.
Demikian pula dengan Pattimura. Ia bukan hanya milik orang Maluku. Tjoet Nja’ Dien pun bukan hanya kebanggaan orang Aceh. Tetapi semua itu telah menjadi milik dan kebanggaan seluruh bangsa Indonesia. Simpai budaya dan simpai sejarah yang telah mencelup jiwa persatuan Seperti itu sangat potensial untuk lebih dihayati untuk kemudian diwujudkan menjadi kekitaan yang nyata bagi lebih dari 200 juta rakyat Indonesia.
“Sebelum ada nama Indonesia, di beberapa bandar atau di berbagai kota perniagaan orang-orang dari berbagai suku bangsa telah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Melayu yang kemudian pada perkembangan puncaknya disepakati sebagai bahasa Indonesia. Padahal, kalau kita cermati, jumlah suku Jawa pada saat Sumpah Pemuda itu jauh lebih banyak ketimbang suku Melayu. Kekitaanlah yang membuat senasib sepenanggungan. Laparnya saudara di kaki gunung adalah pedih bagi orang berduit di kotakota. Tangis orang yang kena PHK beserta keluarganya adalah keprihatinan bagi seluruh komponen bangsa karena “kita” adalah “satu” dalam kesatuan dan persatuan.
Karena kekitaan bukan hanya istilah, maka itu harus dibuktikan dengan tindakan nyata, berupa bantuan, untuk menghapus air mata saudara-saudara yang sedang berada di lembah penderitaan. Kekitaan itu telah diperbuat Bung Hatta dkk. dalam memperjuangkan nasib bangsa ini, sampai ia dibuang ke Boven Digul di tengah-tengah rawa malaria. Kekitaan itu telah dipertunjukkan para syuhada ketika dada mereka ditembus peluru musuh dalam memperjuangkan sebuah kata “merdeka” agar kemerdekaan menjadi kenyataan abadi.
“Jadi, yang kita inginkan sekarang, istilah “kita” itu tidak lagi abstrak, tetapi ada wujudnya dalam bentuk persaudaraan yang sublim. Kekurangan yang satu ditambah oleh yang lain, kebodohan yang di sini dibantu dicerdaskan oleh yang di sana. Dengan tindakan-tindakan yang realistis, “kita” akan menjadi indah dan bermakna. Mendengar istilah itu diucapkan orang, sudah terasa adanya satu kesatuan yang tidak mungkin bisa dipecah belah. Istilah itu menjadi matang dan mantap oleh wujud persaudaraan yang pantas dicatat oleh sejarah karena nyata dan bisa disaksikan oleh mata, Firman Allah dalam Al-Qur’an, “Kaanan naasu ummatan waahidah“, adanya umat manusia itu adalah satu kesatuan.
Penulis: D. Zawawi Imron, penyair, kolumnis; tinggal di Madura.
Sumber: Panji Masyarakat, 7 Oktober 1998
