Asumsi Perubahan dan Kiamat dalam Perspektif Religi 

Meski tidak selalu berbanding lurus, bahwa perubahan kerap diawali oleh distrust alias ketidakpercayaan. Atau sebaliknya, karena faktor kepercayaan (trust) bisa terjadi perubahan. Tapi tidak setiap kali. Itu titik mula. Entah perubahan personal ataupun sifatnya nonpersonal atau publik. Nah, ngaji kecil ini membahas perubahan karena distrust, bukan faktor trust.

Bila gejala public distrust dibiarkan maka ia akan meningkat menjadi socialdisorder atau ketidaktertiban sosial. Jika kondisi tersebut terus berlarut di masyarakat tanpa upaya pencegahan, ia dapat melaju jadi social disobedience, pembangkangan sosial. Kemudian social disobedience bisa naik lagi kadarnya menjadi political disobedience alias pembangkangan politik. Nah, ujung semuanya ialah political riot atau kerusuhan politik. “Lantas, terjadilah perubahan”. Jadi, asumsi perubahan secara teori ialah: public distrust – social/public disorder – social disobedience – political disobedience – politicalriot.

Sedangkan waktu aksi — entah mulai dari public distrust, social disorder dst. hingga ke political riot — bersifat nisbi. Relatif. Tergantung faktor-faktor yang mempengaruhi baik internal maupun eksternal. Temponya bisa cepat, sedang, lambat, atau bahkan tak terjadi kerusuhan politik sama sekali karena cerdasnya antisipasi di setiap level situasi. 

Secara teori, massa aksi pada Mei 1998 di Jakarta —reformasi— yang menumbangkan Orde Baru, peristiwa tersebut tergolong political riot yang diawali public distrust atas praktik dan operasional supra-struktur politik di masa itu. Jadi, perubahan dari Orde Baru ke Era Reformasi berawal dari ketidakpercayaan publik terhadap praktik-praktik operasional rezim Orde Baru. 

Sesuai judul tulisan ini, lain asumsi perubahan, lain pula teori kiamat atau tanda-tanda kehancuran. Dari perspektif religi, entah kiamat kecil, sedang, ataupun kiamat (kehancuran) besar, selalu bermula dari riya. Yakni mental ingin dipuji atau sifat pamer guna memperoleh sanjungan. Dan itulah fenomena sosial politik bertajuk pencitraan yang sekarang marak baik di panggung (geo) politik lokal, nasional, regional maupun di level geopolitik global. 

Filsuf Jean Baudrillard menamai gejala tersebut sebagai hyper-reality. Realitas semu. Atau istilahnya era simulakra. Simulakra merupakan  era ketika batas antara citra dan realitas telah melebur. Bahkan, citra itu sendiri berubah menjadi (seolah-olah) sebuah realitas. 

Fenomena tersebut kerap pula disebut post-truth. Di era pasca-kebenaran ini, kebohongan menyamar sebagai kebenaran lewat emosi netizen, para pendengung atau buzzer, yang mengaduk-aduk alam bawah sadar serta persepsi publik. Hoaks misalnya, dibilang kenyataan, atau fakta objektif dikatakan opini, dan lain-lain. Tergantung agenda setting kelompok kepentingan di balik algoritma.

Tahapan setelah riya adalah syirik. Arti syirik secara vertikal (hablum minallah) ialah menyekutukan Tuhan. Itu makna mutlak. Membuat sesembahan selain Dia, Tuhan Yang Mahapengasih. Sedangkan arti horizontal (hablum minannas) dari syirik ialah, “Semua itu karena aku!” Kalau tidak ada aku, engkau tak jadi apa-apa. Sopo siro sopo insun. Angkuh. Merasa paling hebat sendiri. Begitu ilustrasinya. 

Fase setelah syirik disebut munafik. Ini fase mencla- mencle. Tidak satunya kata dengan perbuatan. Isuk dele sore tempe. Jika berkata ia bohong, kalau berjanji diingkari, bila dipercaya (amanah) ia mengkhianati. Nah, kelompok religius, khususnya muslim sudah membaca tanda-tanda kiamat selain hal-hal di atas.Contohnya, kelak kiamat ditandai dengan munculnya Dajjal, Ya’juj Ma’juj dst, salah satu di antaranya juga munculnya Ruwaibidhah.

Rasulullah Saw. bersabda, “Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia. Pendusta dipercaya, orang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lantas, beliau ditanya sahabat, “Siapakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang bodoh yang mengurusi perkara umum.” Poin intinya, Ruwaibidhah adalah sosok yang tak punya kapasitas keilmuan, tetapi ikut campur dalam urusan orang banyak. Dan Rasulullah telah memberi isyarat kemunculannya sejak 14 abad silam. 

Fase terakhir, sebelum kiamat atau masa kehancuran tiba, disebut fasik. Yakni membuat kerusakan di muka bumi. Pada fase ini, apa pun kebijakan terkait umat justru membuat kerusakan di sana-sini meski dikemas dengan semantik yang canggih, misalnya, sustainable, green energy, dan lainnya.

Dua asumsi di atas, entah teori perubahan ataupun kiamat, silakan deskripsikan ke kondisi hari ini baik di level lokal, nasional, regional, maupun geopolitik global. Clue-nya begini: “Sudah di tahap mana perubahan danatau fase kiamat sekarang ini?”

Di Bumi Pertiwi ini, masih banyak tamu tak diundang dari rerumpun kembang sore dan bunga-bunga sedap malam.

Exit mobile version