Secara pribadi, George Kahin memberikan kesan yang baik pada siapa pun yang dikenalnya. Ini saya simpulkan, bukan saja dari perkenalan saya dengannya, tetapi juga dari komentar beberapa tokoh kita tentang Kahin. la memang seorang yang sangat ramah, tidak sombong, yang bila berhadapan dengan orang lain tidak pernah menengadahkan mukanya, ataupun hidung dan dagunya —yang biasa dilakukan oleh orang yang memandang rendah orang lain.
Tutur katanya juga rendah dan ramah. Duduknya di kursi tidak pernah dengan mengangkat kaki ke meja (yang sering kulihat pada orang Amerika lain di kamar kerjanya, malah juga ada orang kita yang meniru kebiasaan ini). Apalagi bila ada tamu. Dalam bercakap-cakap ja tak pernah mengangkat kaki yang sebelah dengan meletakkan ke atas kaki yang lain.
Berbeda dari Herbert Feith, umpamanya, yang sering tunduk-tunduk dalam berhadapan dengan orang Indonesia (mungkin karena pengaruh masa kerjanya selama beberapa tahun di Kementerian Penerangan pada permulaan 1950-an), George biasa saja dalam berhadapan dengan orang lain. Tetapi jelas berbeda dari kebanyakan orang Amerika lain. Sikap dan kebiasaan ini rasanya menurun juga kepada para mahasiswa George.
Dalam menghadapi mahasiswa juga ia ramah. Meski begitu, sebagai dosen, ia tegas dalam menuntut kewajiban dari para mahasiswa. Ia biasa distop mahasiswa di jalanan kampus yang ingin menanyakan sesuatu yang belum mereka pahami. Jam kerja untuk mahasiswa tentu dibatasi di kantornya, tetapi kalau perlu ia juga menerima mereka di luar jam yang ditentukan. George juga peduli pada bekas murid-muridnya, yang umumnya di Indonesia, dengan mengunjungi mereka bila ia datang ke Jakarta.
Pada suatu kali ia datang ke rumah kami—-kira-kira permulaan 1967 — bersama istrinya, Audrey. Saya kebetulan sedang tak di rumah, dan ia pun berbincang-bincang dengan istri saya, Zahara, yang juga telah dikenalnya ketika Zahara belajar di Cornell, malah sebagai seorang yang pernah membantunya juga dalam riset di Indonesia pada 1956. Sepulang saya ke rumah, Zahara bercerita tentang kedatangan George. Katanya, air mata George menggenang ketika melihat rumah kami (garasi) yang dibagi dua menjadi kamar tamu dan kamar tidur, dan yang langsung dibatasi oleh garasi mobil.
Karni memang bertahan ketika itu dengan mengontrak garasi tersebut di Jalan Panglima Polim Raya V, Jakarta Selatan, yang dalam pandangan siapa pun juga tidak pantas kami huni. Apalagi baik aku maupun Zahara sudah mulai memberi kuliah di Universitas Indonesia. “Zahara, take care of Deliar,” kata George kepada Istriku ketika ia meninggalkan rumah kami. Ketika kukunjungi kemudian di Hotel Indonesia, George memperlihatkan kegembiraannya. Juga Audrey, yang sudah kukenal di London, ketika mereka belum kawin. Bersambung
Penulis: Prof. Dr. Deliar Noer ( 1926-2008), ilmuwan politik, guru besar dab rektor IKIP Jakarta (kini UNJ). Meraih gelar Ph.D. dari Cornell University (1963). Pada awal reformasi penulis produktif ini mendirikan Partai Ummat Islam.
Sumber: Majalah Panjimas, 6-19 Februari 2003.