Judul tersebut agaknya terasa aneh. Mengapa dan basaimana melihat Indonesia justru dari negeri Belanda. Artikel sederhana ini berusaha menjelaskan bahwa sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Justru hubungan sejarah masa lalu antara In’ donesia dan Belanda demikian erat yang sampai kini pun masih sangat terasa. Bahan kepustakaan tentang Indonesia di » sana demikian lengkap, sehingga dalam beberapa hal terasa lebih lengkap .daripada di Indonesia sendiri. Pendidikan dan kepustakaan.
Sejak abad lalu (abad ke-19, red) secara intensif masalah Indonesia telah diajarkan di negeri Belanda. Para calon pegawai yang dipersiapkan untuk bertugas di Hindia Belanda, ditempa dulu dalam pendidikan Indologie. Dengan demikian mereka telah mengenal bahasa dan adat istiadat serta agama penduduk Indonesia, sebelum terjun ke lapangan.
Pada tahun 1842 sampai 1902 lembaga Indologie didirikan di Delft. Pada tahun 1864 di Leiden juga didirikan lembaga Indologie, yang bukan hanya sekedar merupakan tempat latihan calon pegawai tapi juga bersifat ilmiah. Bahkan sejak 1922 pendidikan ini dibuka sampai tingkat doktoral. Kemudian pada tahun 1925 dengan dukungan penuh para pemilik pabrik gula, kelompok konservatif mendirikan fakultas Indologie di Utrecht. Tujuan utamanya untuk menyaingi aliran Leiden yang mereka pandang terlalu liberal.
Demikianlah sebagai “milik di seberang lautan” memang Indonesia cukup luas dan mendalam mereka pelajari.
Banyak sarjana Belanda yang mempunyai keahlian tentang Indonesia. Pelbagai macam hasil penelitian dan buah fikiran mereka bisa ditemui dalam aneka perpustakaan di negeri Belanda. Di samping itu hubungan sejarah Belanda – Indonesia masa lalu masih dipererat dengan banyaknya putera-putera Indonesia yang dahulu belajar di pelbagai perguruan tinggi di sana. Konon tidak sedikit jumlah perwira tinggi ABRI kita hasil tempaan Akademi Militer di Breda.
Mengenai kepustakaan, berikut ini hanya akan dibicarakan sepintas lalu tentang perpustakaan di kota Leiden. Di samping beberapa pusat dokumentasi lain, di kota ini terdapat dua perpustakaan yang sangat penting. Yaitu KITLV dan UB.
Perpustakaan KITLV Leiden
Bukan hanya dokumentasi masa lalu, masa sekarang pun cukup lengkap di perpustakaan ini. Majalah Islam bisa ditemui di sana antara lain Panji Masyarakat, Mimbar Ulama, Al-Muslimun, Bulletin Dunia Islam, The Muslim World, Revue des Etudes Islamigues, Studia Islamica dan lain-lain. Surat kabar Indonesia bisa dibaca di sana antara lain Kompas, Sinar Harapan, Pelita, Merdeka, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Jakarta Post dan lain-lain. Kita pun bisa membaca clipping surat’ kabar Indonesia tentang Islam di perpustakaan ini.
Sebagai contoh betapa usaha perpustakaan ini untuk mendokumentasikan Indonesia masa kini, andaikata kita melihat daftar katalog dan mencari nama Hamka misalnya, ternyata di sana terdapat tidak kurang dari 41 nama beliau. Berarti dalam perpustakaan KITLV ini terdapat sekian buku atau artikel oleh/tentang beliau. Penulis pernah mendengar keluhan seorang Belanda bahwa banyak di antara karya buya Hamka yang tidak terdapat dalam perpustakaan mesjid Al Azhar sendiri. Memang harus diakui bahwa banyak di antara, kita yang kurang menganggap penting dokumentasi, sehingga banyak penulis kita yang tidak lagi memiliki dokumentasi tulisannya sendiri.
Satu hal yang perlu dicatat, bahwa sejak tahun 1970 KITLV mengeluarkan majalah tengah tahunan Excerpta Indonesica. Majalah ini berisi ringkasan dari buku maupun artikel tentang Indonesia, dari bahasa apa pun dan daerah mana pun di dunia ini. Andaikata seorang peminat tentang Indonesia di mana pun ia berada ingin menelusuri masalah Indonesia, majalah ini banyak bisa membantunya. Perlu ditambahkan bahwa KITLV juga banyak menerbitkan karya ilmiah, dan juga mempunyai perwakilan di Jakarta.
Perpustakaan Universitas Leiden (UB)
Perpustakaan yang sangat lengkap ini baru saja menempati gedungnya yang baru. Ia mempunyai katalog sentral dengan menggunakan sistem kartu. Juga mempunyai sistem computer outprint lengkap dengan semua judul majalah yang ada di sana. Ia pun mempunyai sistem mikrofis dengan judul koleksi buku-bukunya.
Perpustakaan ini memiliki koleksi buku dalam pelbagai bidang ilmu dan aneka bahasa. Termasuk bidang Islam dan bahasa Arab, tidak terkecuali “kitab-kitab kuning”. Misalkan seseorang mencari nama Ibnu Hajar Al- Asqalani dalam katalog misalnya, ternyata di sana terdapat tidak kurang dari 40 buah. Karya beliau yang sangat terkenal dalam masyarakat kita semacam Tuhfah, Fat-hul Bari, Bulughul Maram dan lain-lain, seluruhnya terdapat di sana. Bahkan jika seseorang mencari nama yang bermula dengan kata Ibn, pasti ia akan menemukan tidak kurang dari 2500 (dua ribu lima ratus) buah. Berarti sebanyak itu karya Ibn Fulan yang terdapat dalam perpustakaan ini. Termasuk dalam jumlah tersebut buku pengetahuan umum atas nama Ibnu Sutowo, Ibnu Sutrisno dan sebagainya. Tapi sebahagian besar adalah kitab agama Islam dalam bahasa Arab. Dalam perpustakaan ini ternyata masih tersimpan dengan baik kitab Al-Umm Imam Syafii, Muwaththa’ Imam Malik, Ihya’ Ulumiddin Al- Ghazali dan sebagainya.
Belajar di Leiden
Setelah Indonesia merdeka, tidak banyak lagi sarjana Belanda yang mengambil keahlian tentang Indonesia. Sementara itu ahli-ahli mereka yang sudah tua, satu demi satu meninggal dunia. Kemudian timbullah suatu gagasan untuk menyerahkan keahlian mereka itu kepada putera Indonesia sendiri. Dalam kaitan inilah kerjasama ilmiah Belanda – Indonesia setiap tahun memberikan kesempatan kepada putera Indonesia untuk belajar di negeri Belanda, terutama di Leiden. Pada tahun 1978/79 baru lalu, penulis bersama delapan dosen IAIN lainnya sempat belajar di Leiden.
Dalam kesempatan bertemu dengan masyarakat Indonesia di London tahun 1979, pemulis menerima pertanyaan yang sangat tajam mengapa dosen IAIN belajar di Negeri Belanda. Pertanyaan senada waktu itu juga penulis terima secara tertulis, dari sementara wartawan di Jakarta. Ketika singgah umrah di Makkah waktu itu, seorang Arab tahu bahwa penulis datang dari Belanda. Di saat berdialog dia mengatakan “ Anda datang dari negeri kafir”. Agaknya kecurigaan semacam ini perlu dimaklumi. Justru tidak terlepas dari akibat politik masa lalu. Hanya saja perlu juga disadari bahwa masalah tempat bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan kufur atau murtad tidaknya seseorang. Di perpustakaan Leiden seperti tersebut di atas, ternyata seorang muslim bukan hanya bisa menemukan ” buku-buku orang lain”, tapi juga bisa menemukan ”kitab-kitabnya sendiri”.
Demikianlah sekelumit informasi tentang mengapa kami belajar di Leiden, dan mengapa pula kami melihat Indonesia dari negeri Belanda. Kiranya ada manfaatnya.
Penulis: H. Aqib Suminto (1034-1994). Semasa hidupnya Prof. Dr. R. Husnul Aqib (RHA) Suminto aktif berdakwah, menulis artikel dan buku, selain mengajar di IAIN (UIN) Jakarta, tempat dia memperoleh gelar doktor dan dikukuhkan sebagai guru besar, serta menjabat dekan pertama Fakultas Dakwah. Ia juga aktif di MUI Pusat dan LPTQ Nasional.
Sumber: Panji Masyarakat No 412, 1 November 1983