KOLOM CAK NUN: HAL TAJDID, DARI BEDUK SAMPAI ANJING (2)

Kiai Beli Anjing
Ada satu tajdid yang lucu di desaku, yang menyadarkanku bahwa ternyata kekentalan hubunganku dengan penduduk desa masih amat kurang.


Tersebutlah seorang kiai yang haus akan tajdid. Sehingga selalu sibuklah ia mengembarai berbagai lapangan paham Islam. Sayang sekali, landasan kehausan tajdidnya bukan suatu sikap mandiri yang mementingkan penggunaan akal sehat serta kebersihan hati serta keluasan wawasan.


Dalam pengembaraannya itu, ia selalu hanya terseret-seret belaka oleh satu paham ke paham lain. Begitu terjadi berulang-ulang, dan hasil pengembaraannya itu biasanya langsung diungkapkan lewat khotbah-khotbah Jumat atau pada kuliah subuh kesempatan satu-satunya ia bersedia bertatap muka dengan khalayak.


Pertama menjadi bingunglah para jamaah karena diombang-ambingkan. Tapi lama-kelamaan hal itu menjadi komedi. Orang jadi hafal lagak lagu sang kiai dan tak begitu gampang terpengaruh. Menjelang salat Jumat, bahkan orang-orang saling bercengkerama dan meramal apa kira-kira yang akan diomongkan oleh sang kiai. Hal yang digasak adalah hal yang biasanya kemarin didukung. Apa yang hari ini digembar-gemborkan, bulan depan mungkin akan digasaknya kembali. Dari satu sudut: itulah potret dari semangat pembaruan yang dinamik, penuh gelombang dan kontinu. Tapi dari sisi lain, itulah gambaran dari sebuah pribadi yang mengembara di atas udara, tanpa pijakan, tanpa akar dan tanpa aktivitas akal sehat dan kematangan kejiwaan.


Memang jamaah tak begitu terpengaruh, tapi untuk hal-hal yang menyangkut “gengsi modern”, orang desa amat gampang terseret. Merangsang mereka untuk mengonsumsi ‘identitas-identitas kemodernan’, semudah makan kacang rebus.


Jadi ketika berkat suatu usaha tajdid, sang kiai membeli dan memelihara anjing, maka segera inovasi ini diikuti oleh puluhan orang. Hari ini di satu jalur jalan saja ada kira-kira 40 anjing. Memelihara anjing itu betul-betul kenikmatan baru “kayak yang di tv!” Ini suatu ironi besar, karena dulu penduduk desa adalah pembenci, bahkan pembunuh anjing. Ada seekor saja nongol di desa,. mampuslah ia. Aku sendiri belum memberi tanggapan cukup jauh terhadap hal ini, karena harus ditemukan persuasi yang tepat untuk membereskan sesuatu di desa.


Aku tidak antianjing. Tapi ada konteks yang tak beres dengan tajdid peternakan anjing itu. Suatu hari, aku mengobrol saja dengan salah seorang penduduk. Hakim paling kuat untuk muslimin desaku ini ialah ukuran halal-haram. ”Kata Pak Kyai memelihara anjing itu tidak haram,” ungkapnya. Jadi itulah sumbernya. Kucoba kemukakan kepadanya: memelihara anak yatim itu bukan hanya tak haram, bahkan penuh pahala dan keluhuran. Padahal biayanya tak lebih mahal dari memelihara seekor anjing, sementara seorang anak yatim bisa memberi kita manfaat dan kekayaan spiritual yang tak bisa kita peroleh dari buih mulut anjing.


Memelihara anjing memang boleh-boleh saja, seperti juga kita boleh siang hari bolong merangkak dari gardu sini sampai ke depan rumah Pak Lurah di ujung sana. Tapi, agama bukan sekadar soal boleh dan tak boleh. Halal-haram itu garis batas, yang tidak kita injak atau harus kita hindari. Seperti main sepakbola, ada garis pinggir, ada garis untuk penalti dan offside, juga tangan kita termasuk ‘daerah haram’ untuk bola. Tapi, masalah sepakbola yang paling utama ialah bagaimana bermain bola secara baik. Bukan bagaimana tak memegang bola atau berlari menginjak garis pinggir. Garis batas itu menjadi wilayah permainan kita, namun yang penting ialah bagaimana mengolah suatu permainan yang baik.


Engkau tidak diharamkan main sepakbola sambil pakai peci atau sambil makan ketela, tetapi kita punya akal yang mengukur manfaat dan mudharat. Untuk itu, maka kita bermain pakai celana pendek dan bukan sarung. Memahami mana garis batas dan liku- liku peraturan main bola tidak sukar, dan yang terutama kita usahakan bagaimana mentalitas bermain, bagaimana teknik dribbling pribadi serta metode kerja sama sosial, bagaimana menemukan taqarrub terhadap gawang secara baik sehingga kita menang dan gol kita ciptakan dengan menggetarkan jaring-jaring surga. Itulah sepakbola hidup.


Ia kemudian mengemukakan anjing itu nanti bisa dijual kembali dengan harga yang lebih mahal. Jadi pertimbangan ekonomi. Maka kuingatkan bahwa kita dulu punya tradisi ternak kambing kerbau sapi. Sekarang ini, kambing atau sapi lebih menguntungkan dibanding anjing. Dan lagi, apakah penduduk desa kita ini akan menjadi pendorong pertumbuhan manusia-manusia pemakan anjing? Baiklah teruskan dan kelak orang di sana berkata: Di mana cari anjing untuk pesta kita? O, di Mentoro pusatnya!


Tapi ia kemudian mengemukakan soal segi keamanan. Anjing cepat memberitahu kita kalau ada pencuri. Apakah engkau melatihnya untuk itu?-Tidak. Dan orang-orang lain? Tidak juga. Kukemukakan kepadanya bahwa seorang muslim yang Islamnya baik Insya Allah terhindar dari bahaya seperti itu. Setiap saat, nafas dan detak darah kita bisa kita biasakan memohon kepada Allah: “Bismillahilladzi la yadhurru ma’asmihii syai-un fil-ardhi wala fis-samaa-i wahuwas sami’ul-‘aliim (Dengan nama Allah yag bila dsebut, segala sesuatu di bumi dn dilangit tidak akn berbahaya, Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmizi, Nasa’i dan Ibnu Majah, red).” Tirulah Ayyub yang berkata “Anni massaniyadh-dhurru wa-anta arhamur-rahimin (Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang (Q.S. Al-Anbiya ayat 83, red.).” Semoga Allah pun berkehendak: “Fastajabna lahu, fakasyafna ma bihii min dhurrin… (Maka Kami pun memperkenankan serunny itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya…, Q.S. Al-Anbiya ayat 84, red).”


Atau, kenapa tak kita lingkari lingkungan hidup kita dengan ayat Kursi atau banyak sekali ayat lainnya? Kita sudah baca selawat untuk Nabi tiap hari, bukan? Nah, kita perbanyak jumlahnya dan kita perdalam kekhusyukannya. Semoga Nabi pun mengirim salam kepada kita, karena beliau adalah “..Rasulun min-anfusikum ‘azizun ‘alaihi ‘anittum haritsun ‘aikum bil mu’muinina ra’ufur-rahim” (..seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat bels kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin, Q.S. At-Taubah ayat 128-129, red.).” Atau dengan begitu banyak lainnya ayatullah yang mahasakti, yang apabila ia dibacakan maka “suyyirat bihil-jibalu au guththi’at bihil-ardhu au kullima bihil-mauta (gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara.. Q.S. Ar-Ra;d ayat 31, red)”


Tidak percayakah Saudaraku akan kesaktian mukjizat Al-Qur’an? Ia tidak hanya sakti segi kesastraannya saja, tapi juga sakti dan maha benar segala dimensinya. Ia adalah karya Allah, sehingga segala yang difirmankannya “laa raiba fihi (tidak ada keraguan di dalamnya, red).” Bahkan api tak membakar Ibrahim, bahkan hujan diperkenankan turun oleh Istisqa’ kita bersama. Tak ada yang mustahil bagi-Nya. Kalau Ia mau: .. “Wama amruna illaa wahidatan kalamhin bil-bashr (Dan perintah Kami hnyalah satu perkataan seperti kejapan mata, Q.S. Al-Qamar ayat 50, red). “


Cuma, kita bukan makhluk manja. Kita bukan pengemis yang tak punya otak atau rasa malu. Untuk urusan kacang goreng atau masalah-masalah rasional kecil lainnya tentulah kita bereskan sendiri secara manusia. Kita tidak lantas meminta agar segala urusan kita Allah yang mengurusnya. Kita bukan anak sekolah yang kurang belajar maksimal dan hanya mengandalkan do’a dan sesudah terkabul lantas lupa bersyukur.


Dan lagi, segala sesuatu ada syaratnya. Kita tidak bisa hanya mentamengi diri dengan mukjizat Al-Qur’an apabila secara keseluruhan Al-Our’an tak kita laksanakan nilainya. Tanpa mematuhi Al-Qur’an berarti Al-Qur’an ‘enggan’ menyatu dengan kita, atau kita tak cukup bersih untuk menyatukan diri dengan Al-Qur’an, dan dengan demikian kita juga tak bisa menghayati kesakitan i’jaz-nya. Kesaktian magis puncak ayat Al-Qur’an itu ibarat genteng yang melindungi seisi rumah kita dari hujan. Artinya, kita tahu bahwa genteng tak bisa kita taruh di udara. Mesti kita bangun fundamen, dinding, kayu penyangga genting itu, serta tiang pusat.


Nah, kukemukakan kepada saudaraku di desa itu, bahwa umumnya kita di desa ini sudah cukup membangun fundamen, tiang pun sudah cukup berdiri, tinggal kita sempurnakan kekuatannya semua, sehingga bisa kita taruh genting untuk melindungi kita dari hujan. Jika demikian, maka Insya Allah kita bukan saja terhindar dari pencuri ayam, tapi juga segala pencuri yang lebih bermutu, bahkan dari sihir dan fitnah. Kenapa tidak? Allah Maha Benar bahwa ia Maha Melindungi. Cuma barangkali saja di dalam diri kita ayat-ayat Allah itu masih berupa tumpukan genting yang mubazir, karena kita tak menggunakan hikmahnya.


Saudaraku itu termangu-mangu. Ketika itu asar segera tiba, dan kami beranjak sama-sama ke surau.

Penulis: Emha Ainun Nadjib, penyair, budayawan, tinggal di Yogyaarta
Editor: A. Suryana Sudrajat
Sumber: Panji Masyarakat, No 415, 1 Desember 1983

Exit mobile version