Dawam Rahardjo tentang Natsir (1): Berguru pada A. Hassan dan Haji Agus Salim

Menurut The Oxford Encyclopaedia of the Modern World (1995), Mohammad Natsir (1908-1993) adalah seorang intelektual, wartawan dan politisi Indonesia yang termasuk di antara yang pertama mendapat pendidikan Eropa modern. Pernah belajar di sekolah menengah pertama (MULO) dan atas (AMS), ia memperoleh dasar-dasar pengetahuan yang kokoh mengenai filsafat Eropa maupun penguasaan bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Sementara itu oleh Ensiklopedi Islam (1993), Mohammad Natsir disebut sebagai seorang negarawan, ulama-intelektual, pembaru dan politikus muslim kelahiran Sumatera Barat yang kenamaan dan disegani.

Di samping mendapat pendidikan Belanda sejak HIS (Hollandsch Inlandsche School), ia beroleh pelajaran agama dari seorang guru, pernah belajar di waktu sore di madrasah diniah, pemah pula menuntut ilmu agama yang lebih tinggi di organisasi Persatuan Islam, di bawah bimbingan ulama terkenal Ustaz A. Hassan di Bandung. Dan bersama beberapa temannya seperti Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem dan Samsuridjal, Natsir belajar banyak dari seorang tokoh pergerakan nasional Sarekat Islam (SI) yang juga seorang ulama cendekiawan, Haji Agus Salim.

Karier Natsir dalam pergerakan Islam cukup panjang. Awalnya, berdasarkan bacaannya yang cukup luas mengenai sastra dan kebudayaan, ia menulis dengan nama samaran Muchlis banyak artikel yang mengangkat sejarah peradaban Islam pada masa jayanya, berikut tokoh-tokoh pemikir dan filsufnya yang terkenal, seperti Al- Ghazali, Al-Asy’ari, Ibn Sina dan Ibn Maskawaih, dengan bahasa yang jemih.

Tulisan mengenai peradaban (barangkali ia satu-satunya pengarang yang menulis perihal ini) merupakan informasi yang menggebrak kesadaran umat Islam, bahwa Islam pernah mencapai puncak tertinggi dalam peradaban dunia, ketika Eropa sedang berada dalam abad kegelapan. Ia pula yang memberikan pengertian kepada kaum terpelajar Indonesia, dengan mengutip orientalis Belanda, H.A.R. Gibb, bahwa “Islam bukan semata-mata agama melainkan jalan hidup (way of life)”. Juga mengemukakan pandangan, dengan mengutip ahli sejarah besar Inggris, Arnold Toynbee, bahwa Islamlah satu-satunya agama yang memberikan solusi terhadap penyakit dunia modem. Kumpulan tulisan itu kemudian, sesudah Kemerdekaan, diterbitkan dalam satu buku yang berjudul Capita Selecta (jilid 1).

Pada 1930-an terjadi polemik antara Soekarno, tokoh pergerakan nasional paling terkemuka, dan A. Hassan, gurunya, mengenai agama, negara, dan ideologi nasionalisme. Salah satu pandangan yang menonjol dari A. Hassan adalah penyamaan nasionalisme dengan ‘ashabiyah (fanatisme kaum) yang dilarang dalam Al-Qur’an. Pandangan Soekarno lainnya yang ditentang adalah sekularisme yang menghendaki pemisahan agama dari Negara. Islam, menurut Hassan, memiliki ajaran-ajaran yang dapat dipakai sebagai dasar konsepsional sebuah negara. Pandangan gurunya inilah agaknya yang cukup berpengaruh pada Natsir, yang menuntunnya ke arah formulasi konsep Negara Islam, yaitu negara yang konstitusinya disusun berdasarkan ajaran-ajaran agama.

Secara terpisah dan kebetulan, di Pakistan, muncul seorang pemikir Muslim, Abul Ala al-Maududi, yang juga menyusun konsep Negara Islam secara lebih detail. Seorang Pakistan keturunan Hongaria, Leopald Weiss, yang baru masuk Islam dengan nama baru, Mohammad Asad, juga mengarang buku berjudul Sistem Pemerintahan Islam yang menjadi konsep negara Islam Pakistan yang baru lahir. Maka pada 1947 di Asia Selatan lahir sebuah negara Islam modern, sebagai sempalan negara India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, bernama Pakistan. Bersambung

Penulis: M. Dawam Rahardjo (1942–2018), ekonom dan cendekiawan Muslim. Lulusan Fakultas Ekonomi  UGM (1969) ini mengawali kariernya dengan bekerja di Bank of America, namun hanya bertahan selama dua tahun. Ia lalu bekerja di Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Di lembaga ini ia mulai dari staf kemudian beranjak menjadi Kepala Bagian di berbagai departemen. Sempat menjadi Wakil Direktur selama dua periode, Dawam akhirnya menjadi Direktur Utama di LP3ES (1980-1988). Dawam juga sempat menjadi pemimpin umum jurnal Prisma (1980-1987) yang diterbitkan LP3ES. Guru besar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang ini pernah menjadi Rektor Universitas Islam 45 Bekasi dan Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Dawam juga pernah menJadi Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta terlibat di banyak lembaga lainnya. Ia juga sempat menjabat Ketua Tim Penasihat Presiden B.J. Habibie. Dawam yang juga sastrawan ini wafat pada 31 Mei 2018, di usia 76 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Sumber: Majalah PANJIMAS, NO. 03/ 30 Oktober-12 November 2002

Exit mobile version