Ads
Aktualita

Di Balik Kecaman Normalisasi Hubungan Arab Saudi -Israel

Avatar photo
Ditulis oleh Arfendi Arif

Presiden Iran Ebrahim Raisi menyuarakan suara lantang dan menentang adanya upaya normalisasi hubungan antara negara Islam dengan Israel. Ketika membuka Konfrensi Internasional untuk Persatuan Islam di Teheran, Ahad (1/10/2023) ia menegaskan, pendekatan yang dilakukan menghadapi Israel adalah perlawanan.

“Normalisasi hubungan dengan rezim Zionis adalah tindakan terkebelakang bagi setiap pemerintah di dunia Islam,” ujarnya, sebagaimana dikutip kantor berita, IRNA.

Raisi menambahkan, perlawanan adalah cara yang tepat untuk menghadapi Israel. Menghadapi perlawanan dalam menghadapi musuh telah terbukti sangat berhasil, dan telah menghilangkan opsi untuk menyerah dan berkompromi, memaksa musuh untuk mundur dan dikalahkan,” ucapnya.

Bukan saat ini saja pernyataan keras Raisi mengenai normalisasi hubungan negara Islam dengan Israel. September lalu ketika di sela Sidang Majelis Umum PBB, Raisi menegaskan, hubungan apa pun antara negara-negara kawasan dengan rezim Zionis Israel akan menjadi tikaman dari belakang bagi rakyat dan perjuangan Palestina,” ujarnya.

Kerasnya pernyataan Raisi ini terkait isu makin dekatnya hubungan Arab Saudi dan Israel yang diperantarai oleh Amerika Serikat.

Bahkan, pada 26 September 2023 lalu untuk pertama kalinya seorang menteri Israel mengunjungi secara resmi ke Arab Saudi. Ia adalah Menteri Pariwisata Israel Haim Katz, untuk menghadiri konfrensi Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO).

Katz berada di Arab Saudi selama dua hari. Ia ikut dalam acara diskusi dalam konfrensi tersebut dan bertemu dengan sejumlah menteri dari berbagai negara Timur Tengah.

Pada waktu yang bersamasn dengan kunjungan Katz delegasi Arab Saudi juga mengunjungi Tepi Barat yang diduduki Israel. Kunjungan tersebut bertujuan untuk meredakan potensi keberatan Palestina atas normalisasi hubungan Arab Saudi-Israel.

Sementara itu Duta Besar Arab Saudi untuk Yordania Nayef al-Sudairi yang wilayah kerjanya merangkap Palestina mengatakan, pihaknya berusaha mendirikan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

Isyarat normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Israel telah terlihat sejak tahun lalu. Hal itu ditandai dengan pengumuman Arab Saudi bahwa mereka membuka wilayah udaranya bagi semua penerbangan sipil.

Sebelum pengumuman tersebut, Arab Saudi telah melarang penerbangan dari perusahasn Israel dan non-Israel yang melakukan perjalanan ke atau dari Israel.

Sejauh ini, para pemimpin Arab Saudi dan Israel telah menyampaikan pernyataan yang menunjukkan optimise bahwa kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat. Bahkan, Pangeran Mohammad bin Salman (MBS) ketika dikonfirmasi mengatakan langkah persetujuan itu sudah “dekat”.

Jika hubungan normalisasi Arab Saudi dan Israel ini tercapai, maka makin bertambah negara Arab yang menormalisasi hubungannya dengan Israel, setelah sebelumnya dilakukan dengan Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko tahun 2020 melalui Perjanjian Abraham (Abraham Accord ) yang dimediasi Amerika Serikat di masa Presiden Donald Trump. Sedangkan Sudan menyusul tahun 2021. Sedangkan sebelumnya telah mendahului Mesir dan Yordania.

Meskipun sudah ada 6 negara Arab yang telah menormalisasi hubungannya dengan Israel, hal itu belum terasa afdol jika hubungan normalisasi dengan Arab Saudi belum terwujud. Bagaimanapun, Arab Saudi dianggap pemimpin dunia Arab dan dunia Islam. Karena itu jika Israel mampu menormalisasi hubunganya dengan Arab Saudi maka hal itu menjadi puncak sesungguhnya normalisasi hubungan Israel dengan negara Islam dan negara Arab, dan suatu lompatan besar sejarah.

Namun, bisakah normalisasi hubungan Arab Saudi-Israel terwujud? Tampaknya, jalan itu tidak mudah dan cukup sulit rintangannya.

Hal ini disebabkan persyaratan yang diajukan oleh Arab Saudi cukup berat. Yaitu, bahwa Arab Saudi akan mengakui Israel jika negara yang dianggap pencaplok wilayah Palestina ini harus mengembalikan semua wilayah Palestina yang didudukinya ketika Perang Enam Hari tahun 1967.

Pandangannya ini pernah ditegaskan oleh MBS pada KTT Liga Arab di Jeddah pada 19 Mei 2023 lalu, bahwa Palestina tetap merupakan prioritas utama Arab Saudi.

Melihat keteguhan Arab Saudi memperjuangkan wilayah Palestina maka Presiden Iran Ebrahim Raisi tidak perlu khawatir terwujudnya normalisasi hubungan Arab Saudi dengan Zionis Israel.

Tentang Penulis

Avatar photo

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda