Ads
Aktualita

Etika dan Adab Perjalanan Islam yang Menjamin Keselamatan dan Kenyamanan

Avatar photo
Ditulis oleh Arfendi Arif

Dalam masyarakat moderen melakukan perjalanan (safar atau bepergian) merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Berbagai keperluan dan kebutuhan mengharuskan masyarakat untuk melakukan mobilitas mengunjungi berbagai tempat, baik untuk kegiatan bisnis, pertemuan khusus tertentu, penelitian, studi, seminar hingga kunjungan yang sifatnya silaturahim antar keluarga maupun persahabatan.

Area atau luas (magnitud) bepergian juga makin luas dan jauh jangkauannya. Bukan hanya sebatas lokal dalam negeri, tetapi juga mancanegara mencakup 5 benua di dunia. Fasilitas atau alat bepergian juga makin bervariasi mulai dari kendaraan roda dua, roda empat, kereta, kapal laut dan pesawat terbang.

Fasilitas jalan juga sekarang makin baik. Jalan makin mulus, ada jembatan yang bisa melintasi sungai, ada jalan tol yang memperdek jarak tempuh dan kemudahan lain, baik untuk kebutuhan makanan, tempat penginapan, keamanan dan keperluan lainnya.

Apakah dengan terjaminnya kebutuhan untuk bepergian itu manusia sudah seratus persen merasa tenang,aman dan nyaman?

Meski fasilitas untuk belergian makin lengkap dan moderen, namun itu belum menjamin adanya perjalanan yang aman dan nyaman. Data kecelakaan di Indonesia, untuk jalan raya saja per-tiga jam satu orang meninggal. Data juga menunjukkan yang banyak mengalami kecelakan dan meninggal mereka yang masih dalam usia produktif dan muda. Kecelakaan bukan saja dalam bepergian di darat, tapi juga di udara dan di lautan.

Islam dan etika bepergian

Meski fasilitas dalam bepergian atau safar makin lengkap dan memadai sekarang ini, namun manusia masih membutuhkan keselamatan dalam perjalanan dan bertrasportasi. Kecelakaan bisa saja terjadi karena faktor alam dan cuaca, faktor human error dan hal yang tidak terduga atau luput dari pengamatan.

Dalam Islam untuk menjaga keselamatan diri, manusia hanya bisa menggantungkan pada kekuatan Yang Maha Melindungi, yaitu Allah Yang Maha Kuasa dan Pengasih dan Penyayang. Karena itu, dalam aktivitas apapun juga, termasuk dalam bepergian, manusia diharapkan memohonkan perlindungan pada Allah. Yaitu, dengan memohonkan doa kepada-Nya.

Yang penting diingat dalam perjalanan dan bepergian itu adalah untuk tujuan kebaikan, mencari ridho Allah, dan bukan untuk perjalanan yang bermaksiat kepada Allah. Bila ridho Allah yang dicari dalam tujuan safar tersebut maka Allah akan melindungi hambanya.

Sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan At- Thabarani dari Abu Hurairah Rasulullah menjelaskan,” Tidak seorang pun keluar meninggalkan rumahnya , kecuali di pintu rumahnya ada dua panji. Sebuah di tangan Malaikat dan sebuah lagi di tangan setan. Kalau tujuannya yang diridhai Allah Azza Wa Jalla, maka dia diikuti Malaikat dengan panjinya sampai dia pulang ke rumahnya. Apabila tujuannya kepada apa yang dimurkai Allah, maka setan dengan panjinya mengikutinya sampai dia pulang ke rumahnya”.

Perjalanan atau travelling sebenarnya suatu yang dianjurkan oleh Islam. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah berkata,” Bersafarlah niscaya kamu sehat dan pergilah berperang niscaya kamu memperoleh ghanimah”.

Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ayat-syat yang menyuruh manusia berjalan ke berbagai tempat, terutama menyaksikan bagaimana kisah umat terdahulu yang durhaka kepada Allah.

“Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka, Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima akibat seperti itu (Muhammad ayat 10).

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul-rasul (Ali Imran ayat 137).

Salah satu peninggalan sejarah yang ada di dunia dan kisahnya tercantum dalam Al-Qur’an adalah kisah Fir’aun yang diseru Nabi Musa dan Nabi Harun untuk meyakini Allah. Namun, karena ia ingkar kepada seruan Rasul Allah, Fir’aun ditenggelamkan ke dalam lautan. Kisah Fir’aun masih bisa disaksiikan karena ada peninggalannya berbentuk Piramid di Mesir. Al-Qur’an menganjurkan kita untuk berjalan dan menyaksikan peristiwa sejarah tersebut untuk membuktikan kebenaran ajaran Allah dan kekuasaan-Nya.

Al-Qur’an juga menyuruh kita berjalan ke berbagai penjuru bumi ini untuk meluaskan wawasan sehingga bisa mempelajari ciptaan-Nya dan memanfaatkannya.

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu kembali setelah dibangkitkan (al-Mulk ayat 15).

Meskipun safar atau perjalanan ( traveling) dalam dunia moderen ini suatu yang menyenangkan, namun tetap saja ada perasaan was-was menyangkut keselamatan diri yang dirasakan manusia. Sebab itu tidak salah kalau Nabi mengatakan bahwa dalam.perjalanan itu ada perasaan tersiksa. “ Safar adalah sebagian dari siksaan,” sabda Rasul.

Karena itu etika-Iman Islam memasrahkan diri kepada Allah meminta keselamatan dalam perjalanan. Melansir tulisan H.A. Aziz Salim Basyarahil dalam bukunya Kewajiban dan Adab Musafir (Gema insani Press, Jakarta,1982) menyebutkan beberapa hal yang perlu dilakukan sebum berangkat.

Pertama, bermusyawarah bersama keluarga. orang-orang baik, serta sesepuh dan orang shaleh mengenai rencana perjalanan. Meminta pendapat, persetujuan dan nasehat mereka apa yang terbaik dilakukan dan disiapkan.

Kedua, memohon kepada Allah dengan melakukan shalat istikharah. Yaitu shalat dua rakaat meminta kemantapan hati untuk berangkat. Jika masih ada keraguan dalam hati, maka lakukan shalat beberapa kali hingga hati yakin dan teguh melakukan perjalanan.

Ketiga, jika keinginan berangkat sudah teguh dan mantap, maka sebelum jalan jika punya hutang piutang, sebaiknya dilunasi sehingga terbebas dari pinjaman.

Keempat, apabila yang melakukan perjalanan ini lebih dari satu orang atau rombongan, maka sebaiknya dipilih seorang pemimpin untuk mengatur dan menjadi penanggungjawab perjalanan.

” Apabila tiga orang melakukan perjalanan hendaknya mengangkat seorang sebagai pemimpin”( HR Abu Daud).

Kelima, mohon diri serta minta maaf dan minta doa pada keluarga, teman dan handai tolan. Sebab, dalam doa mereka itu ada kebaikan. Sabda Rasul” Jika seorang dari kamu hendak bepergian atau melakukan perjalanan, hendaklah minta diri pada saudara-saudaranya, sesunguhnya Allah Ta’ala menjadikan kebaikan dalam doa mereka “ (HR Ahmad).

Nabi Muhammad Saw bila melepas seorang yang akan bepergian menyalami tangannya dengan erat dan mengucapkan,” Aku titipkan kepada Allah dienmu (agamamu), amanatmu dan amal perbuatanmu yang terakhir“(HR At-Tarmidzi dari Nafi’ dari Ibnu Umar).

Hadist dari Anas ra bahwa Rasulullah bersabda kepada orang yang hendak bepergian.

” Dalam pemeliharaan Allah dan perlindungan-Nya, semoga Allah membekalimu takwa, dan mengampuni dosamu dan mengarahkan kamu kepada kebaikan kemanapun kamu menuju”( HR At-Thabarani).

Dan sebelum berangkat neninggalkan rumah, seorang musafir dianjurkan untuk shalat dua rakaat. Hadist yang bersumber dari Al-Muthim bin Miqdam ra Rasul berkata:

” Tidak ada sesuatu peninggalan dari seorang musafir bagi keluarganya lebih afdhol dari shalat dua rakaat ketika akan memulai safar (HR At-Thabarani dan Ibnu Asyakir).

Inti dari adab safar atau bepergian menurut Islam adalah tidak terlepas dari Iman dan Tauhid, yaitu kita meminta perlindungan kepada Allah, meyakini keselamatan dan keamanan kita selama perjalanan semua tergantung kepada Allah. Karena itu selama perjalanan tersebut Iman itu harus tetap dijaga, dengan melaksakan shalat lima waktu baik ketika dalam perjalanan maupun ketika sudah sampai di tempat tujuan. Tentu saja baik ketika berangkat keluar rumah, menaiki kendaraan maupun memasuki kampung atau kota yang baru tidak lupa membaca doa-doa yang telah diajarkan para ustadz dan mubaligh.

Perjalanan dengan keyakinan perlindungan Allah, itulah yang akan menjadikan perjalanan aman, tenang serta berkah dan mendapat rahmat Allah.

Tentang Penulis

Avatar photo

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda