Ads
Cakrawala

Kolom Fachry Ali: Pattani, Oh Pattani

Ditulis oleh Panji Masyarakat

PERNAHKAH (saya) ke Pattani? Tidak jawab saya sendiri). Tapi di Tokyo, Sulak Sivaraksa, seorang intelektual Thai, menyodorkan gagasan menarik. ”Singgahlah di Bangkok selama seminggu. Saya antar Anda ke Pattani. Di sana, Anda akan. menyaksikan bagaimana kuatnya resistensi budaya Islam berhadapan dengan kekuatan negara yang ekspansif.”

Toh, saya tetap tidak bisa ke sana. Tapi begitu revolusionerkah Pattani?

Seorang yang saya temui di Kolombo, secara sangat demonstratif. memperlihatkan rasa tidak senangnya, ketika saya bertanya, apakah ia berasal dari Pattani. ’’I am a muslim from Bangkok. Not from Pattani,’’ jawabnya ketus. ’’Orang luar,” ujarnya lebih lanjut, ’’selalu menyangka Pattanilah yang paling revolusioner. Dan kami tidak.” Kawan kita ini, mungkin merajuk. Tapi masyarakat Pattani tampaknya tidak. Mereka, dengan diam-diam dan lugu, sedang bergulat untuk mempertahankan keberadaannya.

Maka, sajak perih Pattani yang diungkapkan Hamid Jabbar dalam majalah ini (Panji Masyarakat, red) sebenarnya merupakan kelanjutan pergulatan itu. Sebab sudah sejak lahir abad ke-16, raja-raja Pattani Islam bertahan dari ekspansi Raja Jawa-Palembang. Di bawah pimpinan Ki Gedeng Sura, raja Islam Palembang yang dianggap pelarian bekas bawahan raja-raja Demak, menggempur Pattani. Sang ekspansionis mengira mereka bisa menang. Tapi hampir selalu mereka kembali tanpa hasil.

Namun Pattani, oh, seorang Pattani lulusan universitas Amerika, tiba-tiba muncul di LP3ES. Dia sangat terpelajar. Tapi justru karena itu pula, ia tercerabut dari akar budaya yang melatarbelakanginya.

Kepada Aswab Mahasin, dia bercerita, betapa terbelakangnya masyarakat Islam di sana. Sebuah masyarakat yang hampir-hampir tidak bergerak. Tenggelam dalam masa lampau, ketika justru roda waktu telah berputar jauh ke masa kini. Ketika kitab-kitab karya Hamzah: Fansuri atau Nuruddin Ar-Raniry, masih menjadi bacaan refensi pokok pendidikan Islam di sana.

Pattani, mungkin mengungkapkan sebuah fenomena tersendiri dalam dunia Islam dewasa ini. Sebuah masyarakat Islam yang nyaris tidak mengalami gelombang reformasi. Tidak ada Natsir di sana, yang mengartikulasikan politik Islam dalam masa modern. Tidak ada Hamka, Prawoto, Roem, Rasyidi, atau kaum terpelajar lainnya. Dan hingar-bingarnya gerakan Sarekat Islam, Muhammadiyah, atau Nahdlatul Ulama. Pattani yang sunyi. Tanpa Nurcholish Madjid atau Abdurrahman Wahid. Maka, mereka pun bersajak:

Bapa
Pohon-pohon aneka bunga yang bapa tinggalkan
Dipotong
Dipetik
Kemudian dilemparkan
Hingga melur yang bapa tanam di dalam pasu itu
Kering
Layu
Tetapi tak pernah gugur

Pattani, telah menjadi kaca bagi kita. Dari perspektif itu, kita bisa menghayati lebih dalam tentang gerakan Islam yang bergemuruh, di sini, Islam di Indonesia, ternyata begitu kaya dengan pergolakan dan khazanah pemikiran.

Penulis: Fachry Ali, intelektual publik, pengamat sosial politik dan budaya. Sumber: Panji Masyarakat, No. 494 11 Februari 1986

Tentang Penulis

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda