Ramadan

Catatan Ramadan Wina Armada Sukardi (21): Dilema Sedekah Kepada Pengemis

Written by Panji Masyarakat

Seorang khatib, setelah salat subuh berjemaah di mesjid, dalam ceramahnya mengatakan, kita diwajibkan untuk menolong membantu anak yatim dan fakir miskin, termasuk pengemis.
Menurutnya, doa dari para anak yatim itu makbul, atau besar kemungkinan bakal dikabulkan Allah.
Dia menganjurkan, kalau di lingkungan kita, atau kita tahu, ada anak yatim yang potensinya bagus, tak usah ragu-ragu untuk dijadikan anak asuh. Gak perlu takut kekurangan rezeki, lantaran justru nanti rezeki bakal datang lebih banyak.


Kalau perlu, katanya, tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Bantulah lebih dahulu di lingkungan keluarga atau sanak famili.


Begitu juga dengan kaum miskin, terlebih para pengemis. Kalau ada uang, berapa aja, berikan saja. Kita tidak boleh “bermuka masam” kalau ada pengemis meminta-minta kepada kita.
Namun khatib juga mengingatkan, sekarang ini agak susah membedakan mana “pengemis” asli dan “pengemis” palsu, atau “pengemis asli palsunya.”


Dia mengungkapkan, realitas sosial yang sebagian orang mungkin sudah mengetahuinya: “para pengemis” kini sudah ada koordinatornya dan bekerja sistematis serta berjenjang pula. Misal di lampu-lampu merah lalu lintas, di semua bagiannya ada pengemis. Nah, pengemis ini sudah diatur dalam manajemen yang profesional. Ada jam kerjanya. Ada sifanya.
Di setiap sudut jalan di lampu merah itu, ada “pengawas” para pengemis. Merek memantau kinerja para pengemis. Setelah jam kerjanya habis, mereka juga mengatur pergantian sifnya itu.


Para pengawas ini menyediakan pula makanan buat para pengemis yang selesai bekerja. Dan tentu saja mengambil uang hasil kerja mengemis, dan memberikan sedikit baguan buat para pengemisnya.
Kendaraan antar jemput sudah diatur oleh “bos” atasan para pengawas.
Jangan salah, baik para pengemis, apalagi “bosnya,” hidup mereka gak susah-susah banget, bahkan ada yang tingkat hidup ekonominya di atas rata-rata.


Bagaimana tidak.
Mereka di kampungnya punya rumah permanen. Dari kerangka beton. Ada yang bertingkat pula. Perabot dan dekorasinya juga bukan kaleng-kaleng. Sarana elektronik termasuk yang mutahir.
Di garasi ada mobil. Bahkan ada yang dua sekaligus. Lebih hebat lagi, dari mereka ada yang ….punya istri lebih dari satu.


Tak heran, bisa saja mereka ekonominya justeru jauh lebih sejahtera ketimbang yang memberi sedekah kepada pengemis.
Padahal semua itu hasil dari mengemis. Ya usaha dari mengemis!
Hasil yang luar biasa itu tak terlepas pula dari cara kerjanya mirip mafia. Rapi, penuh tipu daya, dan terkontrol. Pendeknya mereka juga manageble, atau dengan manajemen yang baik.


Belajar dari pengalaman, mereka pun mulai mengenal pendekatan terhadap birokrasi. Jika ada pengemis yang kena rahasia dan ditangkap polisi “tibum” alias polisi ketertiban umum dari polisi pamong praja, sudah ada “petugas khusus” yang bakal melakukan lobi dan negosiasi dengan pihak Sapol PP dan pihak-pihak terkait lainnya. Jadi amanlah. Paling kalaupun tertangkap , beberapa hari saja sudah bebas lagi. Para “petugas khusus” sudah mengaturnya.


Mereka sangat paham memanfaatkan empati dan dorongan masyarakat untuk menjalankan perintah agama . Walaupun tidak belajar, mereka pun tampak “menguasai psikologi sosial” ikhwal belas kasihan naluri kemanusiaan.


Maka dibuatlah diri para pengemis menjadi dapat menghasilkan rasa iba.
Ada pengemis yang wajah dan tubuhnya dibuat dekil dan seakan-akan ada luka di sana sini. Itu semua rekayasa. Bohong. Semua buatan.


Ada pula pengemis yang membawa-bawa anak. Padahal anak itu bukan anak sendiri, tapi anak sewaan. Seharian si anak atau bahkan bayi disewa antara Rp50 ribu sampai Rp100 ribu.
Lebih hebat, dan sekaligus sadis, anak-anak atau bayi-bayi itu sebelum “dikaryakan” diberikan sejenis obat tidur agar terus teler. Tujuannya untuk semakin membuat masyarakat iba.
Para pengemis juga mengeksploitir kecacatan. Mereka menampilkan diri sebagai manusia dengan kaki atau tangan buntung sebelah.


Asumsinya, semakin tampak menderita seorang pengemis, semakin bakal dikasihani oleh masyarakat, dan itu artinya cuan semakin besar.


Padahal, sekali lagi, semua itu cuma sandiwara. Kaki dan tanganya aslinya tidak buntung sama sekali, tapi “disulap” dengan tipuan sedemikian rupa, seakan-akan memang benar buntung. Misal dilipat dengan celana berlapis-lapis sedemikian rupa, dan up, kelihatan satu kaki hilang.
Tentu mereka tak ketinggalan belajar “akting.” Para pengemis ini “berakting” ngesot layaknya distabilitas. Mereka juga belajar memakai tongkat untuk berjalan. Dan aktingnya memang meyakinkan, sehingga hati masyarakat banyak yang tersentuh dan memberikan uang.


Tidak boleh dilupakan, niat memberikan bantuan juga sering kali membahayakan diri kita sendiri. Pernah suatu ketika, sepulang dari pertemuan acara keluarga di rumah seorang kakak, hamba pulang malam bersama isteri naik mobil. Waktu itu sekitar jam 23.30. Kebetulan yang menyetir mobil istri hamba. Sedangkan hamba sendiri duduk di kursi sebelah. Senderan kursinya hamba kebelakangkan, sehingga dapat dipakai rebahan. Dari luar, seakan-akan dalam mobil cuma ada istri hamba saja.


Sesampai di lampu merah CSW, dari arah Jalan Wolter Mongonsidi-Trunojoyo, menuju ke arah RSP Pertamina (daerah Jakarta Selatan, red), pas di lampu merah dan mobil berhenti, ada seorang pengemis ngesot karena kakinya “buntung.” Dia mendekati mobil kami. Begitu sampai di samping mobil kami, dia berdiri. Istri dan hamba yang dari tadi memperhatikan ya terkejut bukan alang kepalang.


Tampaknya si pengemis gadungan itu siap-siap bakal melakukan kejahatan kepada istri hamba. Dia pikir, perempuan malam-malam, menyetir sendiri, menjadi makanan empuk
Begitu hamba menegakkan sandaran kursi, dan terlihat olehnya, balik dia yang sangat terkejut bukan alang kepalang. Dia tidak menduga di dalam mobil juga ada lelaki. Tanpa banyak cingcong dia mabur. Dia lupa kakinya tadinya “buntung.”


Penipuan tak hanya dengan cara mengemis. Sering pula memakai institusi sosial seperti yayasan untuk anak yatim atau buat pembangunan mesjid. Banyak “kotak amal” dari berbagai yayasan, ternyata hasilnya bukan dipakai untuk tujuan membantu kaum duafa atau membangun mesjid dan lain-lain, melainkan diambil untuk kepentingan pribadi. Yayasan-yayasan yang disebut sering cuma kedok, bahkan yayasannya tak ada.


Terakhir orang memanfaatkan ketaatan beragama dengan mengikuti perkembangan teknologi. Kiwari kita kalau mau mendonasikan uang kita cukup lewat proses QR dari HP. Praktis.
Eh, belakangan, QR pun dipalsukan. Di mesjid-mesjid (antara kain mesjid Istiqal dan mesjid di Blok M), terminal, bandara dan tempat-tempat umum lain sudah terbukti terpasang QR palsu, QR yang duitnya masuk ke dompet digital pribadi para penipunya.


Ajaran agama untuk memberikan bantuan kepada anak yatim dan fakir miskin, kini menjadi tak sederhana lagi. Niat baik dalam diri kita, belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik sesuai keinginan kita, bahkan sebaliknya malah dapat membantu kaum komplotan yang memanipulasi para pengemis palsu.


Sebagian dari kita mungkin ada yang berpendapat, ”Ah, yang penting niat kita baik, selebihnya kalau mereka jahat, itu tanggung jawab mereka masing-masing dengan Tuhan.”
Sikap ini secara tidak langsung telah membantu kebohongan, dan tentu yang membantu kebohongan tidak dapat dikatakan lagi berniat baik serta harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Selain itu bukankah antara kebaikan dan kebodohan sebenarnya berbeda jauh, baik niat maupun dampaknya.


Barangkali kita perlu memikirkan andai ingin menolong atau bersedekah kepada para pengemis, di tempat-tempat umum, lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya? Kalau memberi bantuan sembarangan kepada para pengemis di jalan, jelas lebih banyak mudaratnya. Pertama, tujuan membantu kaum miskin tidak tercapai. Kedua, kita membantu kelompok mafia pengemis. Ketiga, dapat membahayakan diri kita sendiri.


Di sinilah ada baiknya kita memberikan bantuan, sedekah, amal jariah, apapun namanya, kepada lembaga-lembaga resmi yang sudah jelas kredibilitas dan keberadaannya. Jika tidak langsung saja berikan kepada yang kita tahu benar-benar memang membutuhkan.


Menghadapi hal seperti ini khatib salat subuh mengingatkan, “Kalau pun kita tidak mau memberikan bantuan, kita sebaiknya diam saja. Tak usah mengumpat mereka.”


Kita tidak boleh menyuburkan kemalasan dengan memberikan bantuan yang salah arah. Selain itu, bukankah dalam islam tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah?
( Bersambung )


Penulis: Wina Armada Sukardi, wartawan dan advokat senior, juga anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan reportase pribadi yang tidak mewakili organisasi.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda