Ads
Aktualita

KH Ali Yafie: Anregurutta, Istikamah sampai Akhir

Avatar photo
Ditulis oleh Iqbal Setyarso

Berita yang terjejak di media, setidaknya satu tahun sebelum Prof. AG (Anregurutta). H. Muhammad Ali Yafie berpulang, muncul pada portal makassar.tribunnews.com, berjudul Teladan Prof Dr KH Ali Yafie Tetap Dakwah Di Usia 95 Tahun, bertarikh Jumat, 5 Februari 2021 (diakses Senin, 27 Februari 2023). Artikel itu diawali, Anregurutta Prof Dr Ali Yafie menjadi narasumber bersama Imam Besar Masjid Istiqlal Anregurutta Prof Nasaruddin Umar dalam haul ke-42 KH Muhyiddin Zain.

Kiai Haji Ali Yafie dianugerahi umur panjang yang jauh melampaui rata-rata usia orang-orang Indonesia. Pada 1 September 2020, di musim wabah ini, ia berulang tahun ke-94. Tujuh bulan sebelum ia merayakan ulang tahunnya itu, pada Januari 2020, Ali Yafie menjalani perawatan di rumah sakit untuk ke sekian kalinya karena usia tua dan berbagai penyakit. Di ruangan yang sama, hanya dipisahkan oleh selembar gorden, Aisyah Umar, istrinya, dirawat juga. Alih-alih menunjukkan wajah sedih atau mengeluh, Ali Yafie justru tampak segar dan berusaha berbagi senyum kepada para penjenguknya.


Hilmy Muhammad (cucu K.H. Ali Maksum), serta Nurhasanah (istri Hilmy) menjenguknya, mereka mendapati Ali Yafie, dengan setengah berbaring di ranjang, sedang membaca sebuah kitab yang cukup tebal. Hilmi Muhammad mengungkapkan apa yang muncul di hatinya (dan itu dituangkannya dalam penyampaian tertulisnya), “Setua itu masih membaca dengan tekun. Ini orang luar biasa.” Setelah beberapa pekan dirawat, Ali Yafie kembali pulih. Saat di rumah, sejumlah tokoh menjenguknya. Di antaranya K.H. Mustofa Bisri beserta keluarga hingga Shinta Nuriyah, istri mendiang Gus Dur. Sementara itu istri Ali Yafie mengembuskan napas terakhir pada Jumat, 24 Juni 2020 di usia 88 tahun. Pasangan Ali Yafie dan Aisyah dianugerahi empat putra (Helmy Ali, Saifuddin Ali, Azmi Ali, dan Badrudtamam Ali), lima cucu, dan empat cicit.


Mengawali Karier sebagai Guru Agama
Pada 1942, Ali Yafie memulai karier sebagai guru agama di Rappang hingga 1944 dan Wakil Qadhi Jampue, Pinrang hingga 1947. Pada 1952, ia diangkat sebagai Kepala Bagian Sekretaris Kantor Urusan Agama Kabupaten Parepare. Setahun kemudian ia juga mulai mengajar sebagai guru agama di SMA Negeri Pare-pare hingga 1955. Pada 1955, ia dipromosikan menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Pare-pare dan menjabat hingga 1959. Spesialisasinya adalah pada ilmu fiqh dan dikenal luas sebagai seorang ahli dalam bidang ini. Ia diangkat sebagai hakim anggota di Pengadilan Agama Tinggi Ujung Pandang sejak 1959 sampai 1962, kemudian Kepala Inspektorat Peradilan Agama Indonesia bagian Timur (1962-1965).


Sejak 1965 hingga 1971, ia menjadi dekan di fakultas Ushuluddin IAIN Ujung Pandang, dan aktif di NU tingkat provinsi. Ia mulai aktif di tingkat nasional pada 1971. Pada Muktamar Nahdlatul Ulama 1971 di Surabaya ia terpilih menjadi Rais Syuriyah. Pada pemilu 1971 ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Nahdlatul Ulama untuk daerah pemilihan Sulawesi Selatan. Kemudian ia tetap menjadi anggota DPR tiga periode sampai 1987, ketika Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Djaelani Naro, tidak lagi memasukkannya dalam daftar calon.


Sejak itu, Ali Yafie mengajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam di Jakarta, dan semakin aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada Muktamar NU di Semarang 1979 dan Situbondo 1984, ia terpilih kembali sebagai Rais, dan di Muktamar Krapyak 1989 sebagai wakil Rais Aam. Karena Kiai Achmad Siddiq meninggal dunia pada 1991, maka sebagai Wakil Rais Aam ia kemudian bertindak menjalankan tugas, tanggung jawab, hak dan wewenang sebagai pejabat sementara Rais Aam.


Tiga Hal Menonjol
Tentang beliau, paling tidak ada tiga hal yang menonjol. Pertama, ia dilahirkan di tahun istimewa karena pada tahun itu pula Nahdlatul Ulama didirikan. Ali Yafie dilahirkan di Donggala, Sulawesi Tengah pada 1 September 1926 atau 23 Safar 1345. Pada bulan ketika Ali Yafie dilahirkan itu, muktamar NU pertama diselenggarakan. Di tahun ini pula, lahir seseorang yang kelak menjadi Rais ‘Aam NU yang saat meninggal kedudukannya digantikan Ali Yafie, yaitu K.H. Achmad Shiddiq (1926-1991). Bagi orang NU, tahun 1926 memang tahun istimewa. Karel A. Steenbrink, indonesianis senior asal Belanda, mencatat bahwa saat Ali Yafie dilahirkan banyak terjadi peristiwa penting di Hindia Belanda. Dari gempa bumi di Padang Panjang hingga pemberontakan haji-haji komunis di Banten.


Kedua, yang tidak bisa dilupakan dari Ali Yafie adalah pengunduran dirinya sebagai Pejabat Sementara Rais Aam PBNU pada Musyawarah Nasional di Bandar Lampung, 21 Januari 1992. Peristiwa ini jadi legendaris karena pengunduran diri dari posisi paling puncak adalah tindakan langka di NU. Mundurnya Ali Yafie juga makin dikenang karena berkaitan langsung dengan Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU. Apa yang menyebabkan Ali Yafie memilih mundur? Semua bermula ketika Ghafar Rachman, saat itu Sekjen PBNU, menerima bantuan dari “Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB)”. Bantuan senilai Rp50 juta itu diberikan kepada sebuah madrasah kecil milik Kiai Junaidi di Tuban, Jawa Timur. Ali Yafie bereaksi keras terhadap bantuan ini. Beberapa tahun setelah kejadian, tirto.id memperoleh cerita tangan pertama mengenai pemberian bantuan ini dari anak Junaidi. Ali Yafie tidak mau menoleransi hubungan dengan institusi yang kegiatannya berisi perjudian. Sementara Gus Dur terkesan tidak terlalu memperhatikan kasus bantuan ini.


Sikap Ali Yafie yang sangat keras memang agak janggal karena disertai semacam “adu kekuatan”. Seperti yang diutarakan K.H. Ilyas Ruhiat, PBNU ketika itu telah mengambil sikap tegas dengan meminta Sekjen PBNU Ghafar Rachman mundur, memberi peringatan kepada Gus Dur, meminta maaf, dan mengembalikan uang sumbangan dari SDSB. “Tetapi hasil rapat PBNU rupanya tidak mengubah keputusan Kiai Ali Yafie untuk mundur kalau Abdurrahman Wahid tidak dibebastugaskan,” tulis Ilyas dalam esai berjudul “Setelah Kasus SDSB Itu” yang dimuat di buku 70 Tahun KH. Ali Yafie (1996). Setelah keributan itu Ali Yafie tetap takzim kepada NU.


Ketiga, Ali Yafie adalah satu-satunya ulama dari luar Jawa yang pernah menduduki maqam paling puncak di NU, yakni sebagai rais ‘aam. Posisi ini melebihi yang pernah diraih dua tokoh NU luar Jawa lainnya, Idham Chalid (1921-2010) dari Kalimantan Selatan dan Zainul Arifin Pohan (1909-1962) dari Sumatra Utara—keduanya Pahlawan Nasional. Meskipun kedudukan Ali Yafie hanya menggantikan Achmad Shiddiq (1926-1990), posisi ini sulit dicapai ulama luar Jawa sesudahnya. Bahkan belum tentu akan terjadi hingga 50 tahun ke depan. Ini saya yakin betul karena “politik Jawa” di NU makin menguat, di samping sangat susah mencari ulama seperti Ali Yafie.


“Luar biasa, ‘kiai Jawa’ menghormati ulama ‘luar Jawa’,” begitu banyak orang berkomentar atas terpilihnya Ali Yafie sebagai Wakil Rais ‘Aam, mendampingi Achmad Shiddiq yang terpilih untuk kedua kalinya sebagai Rais ‘Aam pada Muktamar NU 1989 di Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Di deretan kursi syuriah, memang Ali Yafie paling senior dibanding yang lain, misalnya Ilyas Ruhiat (1934-2007) atau Sahal Mahfudh (1937-2014). Namun tak cuma perkara umur, Ali Yafie bersanding dengan Achmad Shiddiq karena kualitas keilmuan dan kiprahnya di NU yang berlangsung sangat lama.


Perbedaan Sikap, Bukan Perpecahan
Menjadikan sikapnya sebuah keteladanan yang membekas, itulah jejak Ali Yafie. Publik paham, dan selalu merujuk pada sikap Ali Yafie tanpa perlu menciptakan polemik berkepanjangan.


Ia masih bersedia memunculkan nama-nama calon Rais ‘Aam, dan saat Ilyas Ruhiat terpilih menggantikan dirinya, Ali Yafie mengapresiasinya dengan baik. Seperti ditulis Ayunk Notonegoro di alif.id, Ali Yafie juga mengatakan di depan publik bahwa NU tidak pecah, melainkan ada perbedaan yang tidak bisa dijembatani. Dua tahun kemudian, ia hadir dalam acara pembukaan Muktamar NU 1994 di Cipasung, Tasikmalaya. Atas pengunduran diri Ali Yafie, Gus Dur memilih tidak banyak berkomentar di media.


Dalam beberapa kesempatan Gus Dur justru menyalahkan media yang sengaja ngompor-ngompori hubungan dirinya dengan sang senior. Bahkan di arena Munas, seperti dilaporkan Tempo (1 Februari 1992), Gus Dur berterima kasih kepada Kiai Ali Yafie karena telah mengabdi untuk NU dengan ikhlas. Gus Dur yang sudah mengenal Ali Yafie sejak 1970-an menyatakan keprihatinannya atas perselisihan tersebut. “Dalam hati saya menjerit pada Allah, kenapa ini terjadi. Tapi roda organisasi harus jalan terus,” kata Gus Dur seperti dikutip Tempo. Dalam buku 70 Tahun KH. Ali Yafie, banyak tokoh NU yang menyesalkan pengunduran diri Ali Yafie. K.H. Ilyas Ruhiat, K.H. Abdul Muchith Muzadi, K.H. Chalid Mawardi, K.H. Yusuf Muhammad, hingga K.H. Hasyim Muzadi menulis dengan nada penyesalan mengapa Ali Yafie tidak melanjutkan kiprah di NU. “Beliau Masih Sangat Dibutuhkan NU,” demikian judul artikel K.H. Wahid Zaini dalam buku itu.


Bahkan, Nurcholish Madjid, dalam buku tersebut, di paragraf pertama mengingat orang yang pertama kali mengenalkan dirinya dengan Ali Yafie adalah Gus Dur. “Pertama kali saya mendengar tentang tokoh Kiai Ali Yafie dari Gus Dur. Pada saat itu, awal 70-an, saya rasakan adanya hubungan yang sangat khusus antara Gus Dur dengan Kiai Ali Yafie. Paling tidak, hubungan itu berupa sikap kagum dan penghargaan yang tulus dari Gus Dur, seorang tokoh muda yang namanya mulai meroket, kepada kemampuan ilmiah keagamaan kiai dari Sulawesi Selatan itu,” begitu Cak Nur menulis. Kesaksian Cak Nur atas perhatian Gus Dur pada Kiai Ali Yafie juga dibenarkan oleh Mustofa Bisri. “Yang ‘menjelaskan’ sosok Kiai Ali Yafie di banyak kesempatan, ya, Gus Dur. Salah satu pekerjaan Gus Dur memang begitu, mengenalkan tokoh-tokoh hebat seperti Allahu yarham Kiai Sahal [Mahfudh], bahkan banyak tokoh lain,” ungkap Gus Mus.


Sikap Ali Yafie yang dipandang tanpa kompromi, di antaranya dipengaruhi oleh sikap Gus Dur yang sangat keras terhadap MUI dan ICMI. Jadi tidaklah berlebihan jika ada persepsi bahwa Ali Yafie berbeda dengan Gus Dur karena dua institusi tersebut.

Bernasab Ulama Besar Nusantara
Dari DDI ke NU Muhammad Ali, begitu nama lahir Ali Yafie, adalah anak ketiga dari lima bersaudara (empat saudaranya yang sudah meninggal: As’ad, Muzainah, Manarussana, dan Amira). Ayahnya bernama Syekh Muhammad al-Yafie dan ibunya bernama Imacayya, putri raja dari salah satu kerajaan di Tanete di pesisir barat Sulawesi Selatan. Seturut penuturan Helmi Aly, putra Ali Yafie, Imacayya meninggal saat Ali Yafie berumur 10 tahun. Ayahnya menikah lagi dengan Tanawali. Pasangan ini diberi empat keturunan: Muhsanah, Husain, Khadijah, dan yang masih hidup bungsunya, Idris. Muhammad Al-Yafie meninggal pada awal 1950-an. Muhammad Al-Yafie memiliki ayah bernama Syekh Abdul Hafidz, ibunya bernama Fatimah. Dalam beberapa literatur diinformasikan bahwa Abdul Hafidz adalah satu dari tiga orang Nusantara yang menjadi guru besar di Makkah. Dua ulama lainnya adalah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (dari Bukittinggi) dan Syekh Nawawi al-Bantani (Banten). Keterangan ini bisa kita temukan, misalnya, di Ensiklopedi Islam Indonesia (2002, edisi revisi) dalam entri ‘Ali Yafie’. Ensiklopedia itu memasukkan Ahmad Khatib dan Nawawi, namun entri Abdul Hafidz tidak ada.


Sebelum aktif di NU, Ali Yafie muda adalah aktivis Darud Dakwah wal Irsyad (DDI). Keaktifannya di DDI sejak masih sangat belia adalah fondasinya untuk berkiprah secara lebih luas di tingkat nasional. Lebih-lebih, Ali Yafie sukses mengembangkan organisasi yang berfokus pada pendidikan ini. Saat K.H. Abdurrahman Ambodalle memimpin DDI, Ali Yafie menjadi sekjennya. Pasangan pemimpin ini meraih era emas pertama DDI.


Keaktifannya di NU bukanlah “menyeberang” dari DDI. Kedua organisasi sebenarnya satu haluan, yaitu organisasi keagamaan berbasis pesantren tradisional yang bermazhab “Ahlussunnah wal Jamaah” (Aswaja). Dalam Ensiklopedia NU, DDI seperti halnya Mathalul Anwar di Banten, Al-Washliyah di Sumatra Utara, Perti di Sumatera Barat, atau Nahdlatul Wathan di Lombok. Organisasi-organisasi ini dinamakan “rumpun Aswaja”, yaitu sama-sama golongan Islam bermazhab Aswaja dan menerima tradisi tasawuf atau tarekat. Kiprah Ali Yafie di NU adalah kisah panjang dan berliku. Ia mulai aktif saat NU berbentuk partai dari tahun 1953 di Pare-Pare hingga 1971 saat ia hijrah di Jakarta, dari mulai NU kembali ke khittah pada 1984 hingga pengunduran dirinya dari Rais ‘Aam di tanggal 21 Januari 1992. Namanya juga tercatat di Pesantren Situbondo sebagai salah satu ulama yang aktif menginisiasi pendirian Ma’had Aly, pendidikan tinggi ala pesantren yang sekarang terus berkembang.

Menyebal dari Habitat Tradisional
Prestasinya di NU kemudian membawa Ali Yafie ke organisasi-organisasi di luar habitat tradisionalnya, seperti di ICMI, MUI, Bank Muamalat (sebagai salah satu pendiri), hingga Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta (sebagai rektor). Kalau muncul persepsi bahwa Ali Yafie lebih dekat dengan kalangan “Islam kota” atau, katakanlah, golongan “Islam modernis” tidaklah berlebihan, apalagi dipandang dengan kekuasaan Orde Baru. Posisi Ali Yafie di beberapa institusi di luar NU menunjukkan itu. Misalnya di MUI, ia pernah menduduki posisi puncak. Di Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) pun demikian; meskipun tidak di pucuk pimpinan, kedudukan Ali Yafie sangat strategis. Kiprah Ali Yafie di dua organisasi itu telah didokumentasikan panjang-lebar dalam buku Wacana Baru Fiqih Sosial: 70 Tahun K.H. Ali Yafie (Jamal D. Rahman dan kawan-kawan, 1997) dan KH. Ali Yafe: Jati Diri Tempaan Fiqih (2001).


Nama Ali Yafie juga tampak mencolok dalam struktur redaksi jurnal Ulumul Qur’an yang digawangi aktivis-intelektual M. Dawam Rahardjo. Hanya Ali Yafie yang namanya ada “kiai-nya”. Selain dia, nama-nama yang berbaris di sana adalah aktivis dan intelektual “Islam kota” yang bergelar doktor dan master seperti Quraish Shihab, Marwah Daud Ibrahim, Abdul Hadi W.M., Komaruddin Hidayat, Ahmad Syafii Maarif, dan sebagainya. Bergantian dengan dewan redaksi lainnya, Ali Yafie menulis di rubrik “Iftitah”. Beliau, misalnya, menulis esai berjudul “Alquran Memperkenalkan diri” (1989) dan “Masyarakat Ummi” (1997). Ali Yafie juga pernah mengulas secara mendalam tentang asuransi dalam artikel bertajuk “Asuransi dalam Perspektif Islam” (1996). Analisisnya khas ulama fikih: bersandar pada literatur Islam klasik, mengungkapkan perbedaan-perbedaan, dan cenderung hati-hati. Ketika jurnal ini sempat memicu kontroversi karena penamaannya, yaitu “Ulumul Qur’an”, Ali Yafie dan Qurasih Shihab menjadi rujukan untuk berkonsultasi. Jurnal “Ulumul Qur’an” dibentuk pada 1989.


Ini artinya Ali Yafie sudah dilirik kalangan “Islam kota” sebelum posisinya kokoh di MUI atau ICMI. Namun demikian, Ali Yafie tetaplah ulama yang independen dan pendapat-pendapatnya dinilai jernih. Ketika gelombang demonstrasi merebak akibat jajak pendapat yang dilansir tabloid Monitor, Ali Yafie lantang menyerukan tidak boleh ada kekerasan. “Jangan menggunakan kekerasan. Kalau kita terpancing, bisa dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” tutur Ali Yafie, yang waktu itu Wakil Rais ‘Aam PBNU dan Ketua MUI, seperti dikutip Editor (November 1990).


Meminta Soeharto Mundur
Saat Presiden Soeharto di ambang kejatuhan karena tuntutan rakyat dan mahasiswa, ia mendatangkan para tokoh agama. Pada 19 Mei 1998 SEJUMLAH tokoh Islam diminta pendapatnya oleh Soeharto di Istana. Mereka antara lain Gus Dur, Ma’ruf Amin, Malik Fadjar, Emha Ainun Nadjib, Nurcholish Madjid, dan Ali Yafie.


Dalam foto-foto yang beredar di media, saat Soeharto berbicara, Ali Yafie, yang mengenakan setelan baju sari berwarna abu-abu, tampak berdiri di tengah. Di samping kirinya ada Ma’ruf Amin dan Gus Dur. Di samping kanannya ada Malik Fadjar dan Emha Ainun Nadjib. Menurut penuturan Helmi Aly, bapaknya datang ke istana dengan dijemput langsung oleh Probosutedjo, adik tiri Soeharto. Dua hari sebelum ada undangan resmi, Ali Yafie secara informal sudah diberi tahu oleh Helmi melalui telepon. Helmy sendiri mengaku mendapat informasi dari Masykur Maskub, yang waktu itu Direktur Lakpesdam NU.


Hampir bisa dipastikan, informasi ini bersumber dari PBNU. Dalam perbincangan lewat telepon, selain memberi informasi, Helmy juga menanyakan kira-kira apa yang akan disampaikan bapaknya di depan Soeharto.


Helmi Aly: “Nanti mau ngomong apa kalau ketemu Soeharto?”


Ali Yafie: “Ya, nanti kita lihat situasinya.”


Helmi Aly: “Mungkinkah diminta turun saja?” Mendengar usulan itu, Ali Yafie tertawa kecil sambil berkata, “Ya, nanti kita lihat.”


Besoknya, pemberitaan di televisi ramai melaporkan kedatangan tokoh-tokoh agama tersebut. Nurcholish Madjid sebagai juru bicara menyampaikan telah bertemu Soeharto dan menyampaikan perkembangan situasi genting secara, meminjam istilah Nurcholish, “detik per detik.”


“Bahkan Kiai Ali Yafie, ulama dari Sulawesi Selatan, meminta agar Pak Harto turun,” kata Nurcholish seperti diceritakan Helmi Aly (tirto.id, 26 Jan 2021, diakses Senin, 27 Februari 2023).


Penggenggam Fikih yang Istikamah
Hingga wafatnya, ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darud Da’wah wal Irsyad (DDI), Pare-pare, Sulawesi Selatan yang didirikannya pada 1947, serta sebagai anggota dewan penasehat untuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Ali Yafie pernah menjadi Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (2002-2005) sebelum Ibrahim Hosen. Jabatan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (1998-2000), setelah diketuai KH Hasan Basri –lalu setelahnya ketua MUI adalah KH Sahal Mahfudz. Jabatan sebagai Rais Aam Nahdlatul Ulama pernah beliau ampu (1991-1992).


KH Ali Yafie pernah menjadi Anggora Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (1 Oktober 1971-1 Oktober 1987), dalam kurun itu keterpilihan KH Ali Yafie itu untuk Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan (1971-1982), untuk Daerah Pemilihan Kalimantan Selatan (1982-1987).


Posisi KH Ali Yafie selaku “Majelis Syuyukh” Darud Da’wah wal Irsyad (Masa jabatan 2022-2023)
Nama lahir Ali Yafie, Muhammad Ali, kelahiran Wani, Labuan Donggala, Sulawesi Tengah (Hindia Belanda), 1 September 1926. Muslimin Indonesia amat kehilangan KH Ali Yafie, yang berpulang 25 Februari 2023 dalam usia 96 tahun, di RumahSakit Premier Bintaro, Tangerang Selatan Banten.

Tentang Penulis

Avatar photo

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda