Ads
Cakrawala

Menghadapi Paradoks Kehidupan

Avatar photo
Ditulis oleh Arfendi Arif

Tidak bisa dibayangkan kesedihan yang menimpa Ira. Anak kesayangannya Muhammad Hasya Attalah (18 tahun), yang masih kuliah di Universitas Indonesia (UI) tewas tertabrak pensiunan polisi di Jalan Srengseng Sawah, Jagaraksa, Jakarta Selatan (6/10/2022). Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Tak hanya kehilangan, sang anak yang telah pergi selamanya itu pun ditetapkan sebagai tersangka. Padahal ia adalah korban dari peristiwa naas tersebut.

Dalam hidup ini kita sering ditemukan hal-hal yang paradoks atau saling berlawanan. Mungkin Anda seorang pekerja keras, jujur, ulet dan bersungguh-sungguh, tetapi rezeki dan keberuntungan belum tentu dekat dengan  kehidupan keluarga Anda. Tetapi, di sekitar Anda ada orang yang bekerja seadanya, tidak ngoyo, berangkat ke tempat kerja semaunya, bangun pagi tidak terburu-buru, namun rezekinya mudah datang seakan hinggap menempel kepadanya

Bisa saja Anda seorang sarjana dan berpendidikan tinggi, yang secara teori pasti mudah mengumpulkan uang,  kenyataannya tidak selalu demikian. Kerabat saya pendidikan SD saja tidak selesai, namun rezeki begitu mudah didapatnya, ia memiliki mobil rumah lebih dari cukup, dan usahanya lumayan lancar serta memiliki beberapa karyawan. Sedangkan ada orang yang pendidikannya bagus begitu payah mencari uang, sehingga hidupnya terasa berat dengan pekerjaan yang menguras fisik, sementara hasilnya minim,  tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Yang lebih menyedihkan lagi kenapa orang-orang miskin yang beban hidup ekonominya sudah berat sering pula tertimpa musibah. Saya punya tetangga yang kondisi ekonominya sangat sulit, anaknya pulang sekolah jatuh dari kendaraan didorong temannya, akibatnya kakinya patah dan terpaksa berobat dengan biaya yang jauh lebih besar dari penghasilannya.

Kalau kita baca berita di media, kita cukup pilu melihat kejadian bahwa seorang pemuda yang bekerja sebagai pegawai di toko pakaian sambil kuliah, begitu akan diwisuda ia meninggal karena dibunuh pacar temannya sesama karyawan, padahal kalau ia sudah sarjana tentu harapannya adalah mencari pekerjaan lain yang lebih baik dengan pendapatan yang kebih besar, tetapi nasib menentukan lain.

Kita belum lagi menceritakan bagaimana para pekerja bangunan yang membanting tulang untuk istri dan anaknya, tewas tertimpa balok atau runtuhan puing bangunan, padahal ia satu-satunya harapan keluarganya untuk membiayai hidup sehari-hari. Demikian juga keluarga miskin yang ditimpa penyakit ganas, dan tidak mampu berobat sehingga akhirnya meninggal  secara perlahan-lahan.

Di samping ada orang yang bergulat dengan penderitaan hidup, pada sisi lain kita melihat ada orang yang mudahnya mendapatkan uang dan bergelimang kemewahan. Di media kita baca menjelang pilkada, pilpres dan lainnya, pejabat atau calon pejabat mengumumkan harta kekayaannya yang mencapai miliaran, bahkan triliunan  rupiah, memiliki dolar, rumah, tanah, kendaraan, saham dan lainnya, terlepas dari mana kekayaan itu diperoleh.

Orang miskin juga bisa termangu-mangu membaca besarnya gaji pejabat negara, fasilitas yang didapatkan, insentif, tunjangan serta jalan-jalan ke luar negeri dengan dalih  studi banding dan sebagainya. Padahal, ada juga orang yang mempertanyakan  apakah pendapatan yang diperolehnya telah sesuai dengan prestasi kerja yang diberikannya. Banyak juga yang mengatakan, bahwa kekayaan yang diperoleh para pejabat di negera kita tidak semuanya diperoleh secara jujur, tetapi diduga sebagian karena hasil korupsi  atau mencuri uang negara.

Bagi orang miskin yang hidupnya terasa berat ketimpangan sosial ekonomi yang dikemukakan di atas akan dirasakan sebuah ketidakadilan. Dan ini terjadi bukan  hanya dalam kehidupan ekonomi, tetapi juga di bidang hukum. Kita baca dalam pemberitaan ada orang-orang yang kebal hukum, walaupun diduga kuat telah melakukan kesalahan, namun sulit diseret kemeja hijau karena adanya perlakuan tebang pilih dan pilih kasih. Atau, karena kekuatan uangnya ia mampu membayar pengacara, hakim atau jaksa untuk membebaskannya dari tudingan. Sebaliknya, ada orang yang punya niat untuk membongkar kejahatan serta berupaya menegakkan hukum secara adil bisa saja diperkarakan dengan tuduhan mencemarkan  nama baik seseorang.

Penegakkan hukum yang timpang adalah paradoks lainnya yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang yang tidak berpunya karena kesalahannya begitu mudah diseret ke dalam penjara mungkin dengan kasus yang ringan saja, sebaliknya orang kaya atau orang kuat bisa meloloskan dirinya dari jerat hukum dengan kesalahan yang nyata. tetapi punya cara untuk berkelit.

Dalam hidup ini banyak hal yang tidak menyenangkan, dan bahkan menyakitkan untuk kita lihat dan rasakan. Penderitaan hidup, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan beragam kenestapaan lainnya bisa menyebabkan manusia putus asa dan stres berat dibuatnya. Menghadapi hal ini kalau saja manusia tidak memiliki daya tahan yang kuat  bisa dipastikan rumah sakit jiwa penuh dengan orang-orang yang tidak waras pikirannya.

Riha Menerima Ujian Allah

Agama memiliki sebuah kekuatan yang mengajarkan bahwa dalam hidup ini manusia bisa saja menghadapi hal-hal yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Untuk hal yang  menyenangkan manusia disuruh bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diterimannya, sedangkan berbagai musibah dan hal yang menyakitkan yang terjadi dalam kehidupan manusia dianjurkan bersabar dan menerimanya secara Ridha ( senang dan rela).

Ridha adalah kekuatan yang dapat menjadi senjata bagi manusia untuk tidak berputus asa dalam hidup. Dengan semangat rida seseorang menerima setiap musibah yang menimpa hidupnya dengan lapang dada, ia yakin bahwa penderitaan dalam hidup adalah ujian dari Allah yang kalau dihadapi dengan tabah justru bisa membuka jalan untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia.

Dalam rida, manusia mampu menyimpan semangat optimisme ketika penderitaan hidup dirasakan amat berat, manusia tidak jatuh ke jurang frustrasi dan terpuruk pada kekecewaan yang dalam. Keyakinan dan Iman kepada Allah membuat manusia percaya bahwa Tuhan pasti menolong hambanya, dan tidak akan membiarkan manusia menderita.

Kesulitan dan penderitaan dalam hidup adalah tes dari Allah untuk melihat kadar keimanan manusia kepada sang Khalik. Apakah Imannya hanya seadanya atau Iman yang sejati dan tulen tidak tergoyahkan hanya oleh kesulitan hidup yang belum seberapa. Kita sebagai manusia yang hidup pada abad ini belum seberapa ujian yang diberikan Allah bila dibandingkan dengan para nabi dan rasul Allah. Padahal mereka sudah dijamin Allah masuk surga, suci dari dosa masih mendapatkan ujian dari Allah, bahkan yang tidak mungkin kita mampu menghadapinya. Allahu a’lam.

Tentang Penulis

Avatar photo

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda