Ads
Bintang Zaman Haji Misbach

Haji Misbach (1): Menjadikan Islam Bergerak

Avatar photo
Ditulis oleh Iqbal Setyarso

Mochammad Misbach atau Haji Misbach adalah tokoh unik dalam sejarah Indonesia. Di samping menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, ia dikenal sebagai penganut setia komunisme. Misbach sangat mengagumi kepribadian Nabi Muhammad sekaligus mengidolakan Karl Marx. Seorang demonstran, Soe Hok Gie yang dikenal oleh para aktivis pada zamannya, menyebut Misbach sebagai Haji Revolusioner (Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan, 2005: 6). Haji Misbach berpulang, 24 Mei 1926, dan dimakamkan di kuburan Penindi, Manokwari, di samping kuburan istrinya. Apa yang membedakan gerakan Haji Misbach di Surakarta dengan Muhammadiyah di Solo.

Haji Misbach adalah pejuang antikolonialisme yang berpikiran radikal. Herman Hidayat melalui makalah “Perjuangan dan Pemikiran H.M. Misbach” yang dimuat dalam antologi Jejak Kebangsaan: Kaum Nasionalis di Manokwari dan Boven Digoel (2013) menyatakan pemikiran Misbach tentang aktualisasi dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam dan Marxisme ditujukan untuk menentang penindasan kolonial Belanda .


Jauh sebelum orasi dan perjuangannya menggema di beberapa surat kabar sepanjang dekade 1910-an dan 1920-an, masa kecil Misbach tergolong biasa saja. Ia lahir di Kampung Kauman Surakarta pada 1876 dari keluarga pedagang batik yang cukup berada. Orangtuanya memberikan nama kecil Ahmad. Pendidikan Ahmad diawali dengan belajar di pesantren, kemudian ia menuntut ilmu pengetahuan dasar di sekolah bumiputra Ongko Loro selama delapan bulan.


Menurut Hidayat, perpaduan belajar di sekolah agama dan sekolah umum memberikan Ahmad perspektif yang luas terhadap lingkungan sosialnya. Meski datang dari keluarga saudagar sekaligus pejabat Muslim di Keraton Solo, tak lantas membuat Ahmad berperilaku layaknya ningrat. Ia justru digambarkan sebagai pribadi yang ramah kepada siapa saja termasuk rakyat miskin dan sangat alim. Lulus dari sekolah bumiputra, Ahmad langsung meneruskan usaha dagang ayahnya. Di bawah pengawasannya, bisnis batik keluarga Ahmad menjadi sangat maju. Kebetulan bisnis batik di awal abad ke-20 memang tengah melejit. Tak lagi menjadi pengepul, Ahmad berhasil membuka rumah pembatikan sendiri di kampungnya. Hidup demi kaum yang tertindas, rupanya, berdagang saja tidak membuat Ahmad berpuas hati. Ia justru tertarik pada gejolak sosial-politik yang mewarnai Tanah Jawa pada permulaan abad ke-20.


Menurut Mu’arif dalam artikelnya di alif.id, ketertarikan Ahmad bermula dari kesukaannya membaca surat kabar Doenia Bergerak. Surat kabar berhaluan kiri itu diterbitkan oleh Indische Journaist Bond (IJB), sebuah organisasi pers pribumi bentukan Sarekat Islam (SI). Memasuki usia dewasa, Ahmad—kala itu telah menikah dan beralih nama menjadi Darmodiprono—memutuskan pergi berhaji. Sepulang dari ibadah haji ia mengambil nama Islam: Mochammad Misbach. Di saat bersamaan keinginan untuk terjun ke dunia pergerakan semakin bulat. Haji Misbach pun bergabung ke IJB pada 1914. Perjuangan Haji Misbach melawan penindasan pemerintah kolonial dimulai dari balik meja redaksi. Sepanjang 1915 hingga 1919 ia berkenalan dengan haji-haji tokoh pergerakan dari Surakarta dan Yogyakarta, termasuk di antaranya Kiai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Sepanjang tahun-tahun itu pula Misbach giat menulis untuk surat kabar Medan Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917).

Ekspresif Menggugah
Kembali merujuk pada penelitian Herman Hidayat, sekitar April 1919, Misbach membuat karikatur di surat kabar Islam Bergerak yang menyebut kapitalis Belanda suka menindas petani dengan membebani mereka dengan kerja paksa, upah yang kecil, dan pajak yang tinggi. Tak hanya pemerintah kolonial, penguasa-penguasa feodal, termasuk Pakubuwono X yang terkenal lengket kepada Belanda, pun dicerca. Retorika khas Haji Misbach, menurut Hidayat, berhasil menggerakkan aksi mogok petani di beberapa perkebunan Belanda di tahun 1919. Sikapnya yang terlampau vokal perihal ketimpangan hubungan antara penguasa dengan kaum pekerja membuat Misbach dikejar-kejar pemerintah kolonial. Ia akhirnya dibui pada 1920 atas tuduhan penistaan.


Penjara tampaknya telah menempa Misbach menjadi pribadi yang baru. Selama dalam tahanan dia banyak bersosialisasi dengan para aktivis Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV), embrio Partai Komunis Indonesia (PKI). Dari dalam penjara Misbach mulai mengenal Marxisme. Berdasarkan penelusuran Ruth T. McVey dalam The Rise of Indonesian Communism (1965), setelah terbebas dari penjara di tahun 1922, Misbach dan para pendukungnya berhasil mengambil alih Medan Moeslimin dan Islam Bergerak. Di sanalah ia dengan lantang menunjukkan sikap menentang kapitalisme. Akibatnya, hubungan antara Misbach dengan Partai Sarekat Islam jadi tak harmonis. Misbach juga mulai menyerang organisasi-organisasi pembaruan Islam, seperti halnya Muhammadiyah. Ia menjuluki mereka sebagai kapitalis Muslim. Kritik tersebut dikeluarkannya dalam Medan MoeslimIn edisi 20 November 1922 dan Islam Bergerak edisi 10 Desember 1922.

Pergerakan Islam
Adalah Takashi Shiraisi yang mengungkapkan, bedanya dinamika sosial Islam di Yogya dan Surakarta masa itu. Ini dikaitkan dengan persamaan dan perbedaan antara KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah dan, Misbach, seorang muslim ortodoks yang saleh, progresif, dan hidup di Surakarta.


Di Yogya, Muhammadiyah yang lahir pada 1912 di Kauman, segera menjadi sentral kegiatan kaum muslimin yang saleh yang kebanyakan berlatar belakang keluarga pegawai keagamaan Sultan. Ayah Dahlan adalah chatib amin Masjid Agung dan ibunya putri penghulu (pegawai keagamaan kesultanan) di Yogya. Para penganjur Muhammadiyah umumnya anak-anak pegawai keagamaan. Kala itu birokrat keagamaan umumnya adalah alat negara sehingga, kata Shiraisi, wewenang keagamaannya tidak berasal dari kedalaman pengetahuan tentang Islam tetapi karena jabatannya. Meskipun mereka berhaji dan belajar Islam, masih kalah wibawa dibandingkan para kiai yang pesantrennya bebas dari negara. Kendati demikian, reformisme Muhammadiyah berhasil menyatukan umat Islam yang terpecah-pecah. Tablig-tablignya, kajian ayat yang dijelaskan dengan membacakan dan menjelaskan maknanya di masjid-masjid, pendirian lembaga pendidikan Islam, membangunkan keterlenaan umat Islam. Mereka tumbuh menjadi pesaing tangguh misionaris Kristen dan aktivis sekolah-sekolah Bumiputra yang didirikan pemerintah.


Lain halnya dengan di Surakarta, kala itu belum ada pengaruh sekuat Dahlan dan Muhammadiyah. Ini karena di Surakarta sudah ada sekolah agama modern pertama di Jawa, Madrasah Mamba’ul Ulum yang didirikan patih R. Adipati Sosrodiningrat (1906) dan Sarekat Islam (SI) pun sudah lebih dulu berkiprah sebagai wadah aktivis pergerakan Islam. Di Surakarta, pegawai keagamaan yang progresif, kiai, guru-guru Al-Qur’an, dan para pedagang batik mempunyai forum yang berwibawa, Medan Moeslimin. Di situlah pendapat mereka yang kerap berbeda satu sama lain tersalur. Kelompok ini menyebut diri “kaum muda Islam”.


Dalam pergerakan Islam Surakarta dan Yogya terdapat perbedaan mencolok. Di Yogya, gerakan Islam tidak hanya reformis, tetapi juga modernis. Tetapi di Surakarta, gerakan kaum muda Islam semua bersifat modernis tetapi tidak semua reformis. Kegiatan keislaman di Surakarta banyak dipengaruhi kiai yang progresif dalam metode penyampaian tetapi ortodoks secara isi dakwahnya, seperti Kiai Arfah dan KH Muhammad Adnan. Sampai suatu ketika ortodoksi yang cenderung menghindar ijtihad itu terpecah pada tahun 1918.


Perseteruan Itu pun Maujud
Perpecahan kelompok Islam di Surakarta dipicu artikel Djojosoediro di surat kabar Djawi Hisworo, yang mana pemimpin redaksinya adalah Martodharsono. Pada saat itu, Djojosoediro, atas persetujuan dan dorongan dari Martodharsono, menulis:
“Ah seperti pegoeron (tempat beladjar ilmoe). Saja boekan goeroe, tjoemah bertjeritera atau memberi nasihat, keboetoelan sekarang ada waktoenja. Maka baiklah sekarang sadja. Adapon fatsal (selamatan) hoendjoek makanan itoe tidak perloe pakai nasi woedoek dengan ajam tjengoek brendel. SEBAB GOESTI KANDJENG NABI RASOEL ITOE MINOEM TJIOE A.V.H. DAN MINOEM MADAT, KADANG KLE’LE’T DJOEGA SOEKA. Perloe apakah mentjari barang jang tidak ada. Maskipon ada banjak nasi woedoek, kalau tidak ada tjioe dan tjandoe tentoelah pajah sekali.”


Umat Islam, terutama di Surakarta, gempar dengan tulisan tersebut. Sebagian besar menganggap bahwa tulisan tersebut merupakan pelecehan terhadap Nabi Muhammad dan umat Islam. Sarekat Islam, sebagai organisasi Islam terbesar kala itu, merasa wajib untuk melakukan pembelaan. Untuk itu, pada awal Februari 1918, Tjokroaminoto telah membentuk apa yang disebut Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) untuk “mempertahankan kehormatan Islam, Nabi, dan Kaum Muslimin”.


Martodharsono sendiri bukan orang sembarangan. Dia adalah murid Tirto Adhi Soerjo, sang pemula, dan Raden Pandji Natarata alias Raden Sastrawidjaja, ahli sastra dari Yogyakarta. Ketika artikelnya mulai mendapat respons dan kemarahan dari umat Islam, Martodharsono pun berusaha memberikan klarifikasi di surat kabar Djawi Hisworo. Namun, klarifikasi tersebut tidak bisa memadamkan api yang sudah terlanjur berkobar.


Sidik, Amanat, Tableg, Vatonah (SATV)
Pembentukan TKNM oleh Tjokroaminoto inilah yang kemudian mencuatkan nama Misbach sebagai mubalig vokal. Misbach lalu menyikapi dengan segera membentuk perkumpulan tablig reformis bernama Sidik Amanat Tableg Vatonah (SATV) untuk memperkuat “kebenaran dan memajukan Islam”. Ia menyebar seruan tertulis menyerang Martodharsono serta mendorong terlaksananya rapat umum dan membentuk subkomite TKNM. Segeralah beredar cerita, Misbach akan berhadapan dengan Martodharsono di podium. Komunitas yang dulunya kurang greget menyikapi keadaan itu tiba-tiba menjadi dinamis. Kaum muslimin Surakarta berbondong-bondong menghadiri rapat umum di lapangan Sriwedari, pada 24 Februari 1918 yang konon dihadiri 20.000-an orang. Tjokroaminoto mengirim Haji Hasan bin Semit dan Sosrosoedewo (penerbit dan redaktur jurnal Islam Surabaya, Sinar Islam), dua orang kepercayaannya di TKNM. Waktu itu terhimpun sejumlah dana untuk pengembangan organisasi ini. Muslimin Surakarta bergerak proaktif menjaga wibawa Islam terhadap setiap upaya penghinaan terhadapnya. Inilah awal perang membela Islam dari “kaum putihan” Surakarta.


Belakangan, muncul kekecewaan jamaah TKNM ketika Tjokro tiba-tiba saja mengendurkan perlawanan kepada Martodharsono dan Djawi Hisworo setelah mencuatnya pertikaian menyangkut soal keuangan dengan H Hasan bin Semit. Buntutnya, H Hasan bin Semit keluar dari TKNM. Beredar artikel menyerang petinggi TKNM. Muncul statemen seperti “korupsi di TKNM dianggap sudah menodai Nabi dan Islam”.


Dalam situasi itu, Misbach muncul menggantikan Hisamzaijni, ketua subkomite TKNM dan menjadi hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Medan Moeslimin. Artikel pertamanya di media ini berjudul “Seorang Kita”. Dalam artikel itu, ia menyajikan gaya penulisan yang khas, yang kata Shiraisi, menulis seperti berbicara dalam forum tablig. Ia mengungkapkan pendapatnya, bergerak masuk ke dalam kutipan Al-Qur’an kemudian keluar lagi dari ayat itu. “Persis seperti membaca, menerjemahkan, dan menerangkan arti ayat Al-Quran dalam pertemuan tablig.” Sikap Misbach ini segera menjadi tren, apalagi kemudian secara kelembagaan perkumpulan tablig SATV benar-benar eksis melibatkan para pedagang batik dan generasi santri yang lebih muda.


SATV menyerang para elite pemimpin TKNM, kekuasaan keagamaan di Surakarta, menyebut mereka bukan Islam sejati, tetapi “Islam lamisan”, “kaum terpelajar yang berkata mana yang bijaksana yang menjilat hanya untuk menyelamatkan namanya sendiri.” Dasar keyakinan SATV dengan Misbach sebagai ideolognya, “membuat agama Islam bergerak”. Misbach kondang di tengah muslimin bukan sekadar karena tablignya, melainkan ia menjadi pelaku dari kata-kata keras yang dilontarkannya di berbagai kesempatan. Ia dikenal luas karena perbuatannya “menggerakkan Islam”: menggelar tablig, menerbitkan jurnal, mendirikan sekolah, dan menentang keras penyakit hidup boros dan bermewah-mewah, dan semua bentuk penghisapan dan penindasan.


Menurut Shiraisi, ada dua perbedaan SATV dibanding Muhammadiyah. Pertama, Muhammadiyah menempati posisi strategis di tengah masyarakat keagamaan Yogya, sedangkan SATV adalah perhimpunan muslimin saleh yang merasa dikhianati oleh kekuasaan keagamaan, manipulasi pemerintah, dan para kapitalis non-muslim. Kedua, militansi para penganjur Muhammadiyah bergerak atas dasar keyakinan bahwa bekerja di Muhammadiyah berarti hidup menjadi muslim sejati. Sedangkan militansi SATV berasal dari rasa takut untuk melakukan manipulasi, dan keinginan kuat membuktikan keislamannya dengan tindakan nyata. Di mata pengikut SATV, muslim mana-pun yang perbuatannya mengkhianati kata-katanya berarti muslim gadungan. (Bersambung)

Tentang Penulis

Avatar photo

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda