Cakrawala

Kolom Fachry Ali: Orde Baru

Written by Panji Masyarakat

Saya  masih duduk di kelas IV madrasah ibtidaiyah (setingkat SSD, red), ketika gejala keruntuhan kekuasaan Orde Lama mulai terlihat dengan nyata. Saya mungkin tidak merasakan apa-apa, kalau “semangat baru” itu tidak muncul dalam keluarga. Suatu bentuk semangat penolakan terhadap eksistensi kekuasaan Orde Lama yang telah terpupuk jauh’ sebelumnya. Sebab, dalam genggaman kekuasaan “lama”, bukankah Hamka, Natsir, Roem dan beberapa pemimpin demokratis lainnya dipenjarakan? Bukankah PKI, musuh dari semua agama, didukung dan dibela oleh Soekarno dan rezimnya?

Inilah gelora yang terjadi di dalam keluarga saya, seperti juga berkembang dalam setiap keluarga muslim lainnya. Dan, seperti seorang petugas KB — demikianlah, sejauh yang saya ingat — ibu saya menjadikan dirinya sebagai partisan, mendatangi rumah demi rumah — di mana kaum ibu, sebagian besar, masih terpesona dengan kebesaran Soekarno. Ibu saya, seakan-akan merasa hidup kembali dengan munculnya Orde Baru. Dan saya, berdebat habis-habisan tentang kehebatan RPKAD menghancurkan PKI dengan seorang anggota KKO, bekas murid ibu saya.

Kemenangan Orde Baru, mungkin juga bisa dilihat dari rasa pemilikan keluarga-keluarga muslim semacam itu — yang juga merasa dirinya menang. Dan lewat perspektif ini pula kita bisa mengira-ngira pada tingkat apa, Orde Baru pada mulanya berakar. 

Persoalannya kemudian bukan saja terletak pada apakah keluarga-keluarga pendukung Orde Baru di masa awalnya itu masih bisa menaruh harapan kepada sesuatu yang telah didukungnya. Melainkan juga bagaimana harapan yang telah terpatrikan itu bisa memberi ruang yang lebih luas lagi bagi suatu bentuk partisipasi yang lebih substansial. Sehingga gelora baru yang mereka rasakan, ketika Orde Baru untuk pertama kalinya lahir, terus-menerus mendapatkan momentum yang tepat.

Dua dasawarsa lebih dua tahun, mungkin bukanlah umur yang terlalu panjang bagi sebuah orde pemerintahan. Tapi jelas pula, umur itu tidak terlalu muda. Terutama dalam hal-hal yang menyangkut aspek substansial. Jika dalam dasawarsa pertama, kerangka luarlah yang menyibukkan  Orde Baru — pembangunan ekonomi, industrialisasi atau juga modernisasi —  maka dalam dua dasawarsa ke depan, substansi kehidupan, mungkin, merupakan bagian terpenting untuk direalisasikan oleh orde ini.

Aspek substansial — kerohanian, kemanusiaan dan kebebasan — inilah yang mungkin memperpanjang pertautan antar keluarga-keluarga dengan Orde Baru. Sebab, pembangunan  ekonomi dan modernisasi yang berlangsung  selama ini, untuk sebagian besar — terutama dari perspektif keluarga-keluarga di atas — hanya melahirkan keterasingan dan suasana ganjil: hubungan-hubungan manusia,  walau masih tetap berbau feodalisme,  telah kian impersonal.

Keluarga-keluarga itu mungkin membutuhkan kelimpahan ekonomi, modernisasi dan segala hal yang material. Tapi kehangatan hidup, seperti yang mereka harapkan ketika Orde Baru muncul, tidak pernah bisa mereka tinggalkan.

Sumber: Panji Masyarakat, No. 548,  21-31 Agustus  1987

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda