Tasawuf

Dari Kisah Rabi’ah dari Basrah dan Rabi’ah dari Suriah

Avatar photo
Written by A.Suryana Sudrajat

Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.  (Q. 5:119; 98:8)

“Ya Allah, jika aku beribadah lantaran takut neraka, bakarlah aku dalam api neraka-Mu. Dan jika aku beribadah karena mengharap surga-Mu, tutuplah pintunya bagiku. Tetapi jika aku beribadah hanya karena ridha-Mu, jangan sembunyikan keindahan-abadi-Mu dari pandangku.”

Ah, siapa di antara kalangan tasawuf yang tidak mengenal baris-baris doa itu. Bagi Rabi’ah Al-Adawiyah, seperti diungkapkan penulis biografinya,  Fariduddin Aththar (Tadzkiratul Auliya, Memoir of Saints), doa lebih merupakan “percakapan cinta” dengan Tuhan, dan sikap ridha. Bukan permohonan atas nama dirinya atau yang lainnya. Rabi’ah memang tidak memberikan ruang apa pun di dalam hatinya kecuali cintanya untuk Tuhan. Kecintaan itu ia tumpahkan lewat doa dan salat. Kabarnya, dalam semalam saja ia sembahyang ratusan rakaat.

Apatah lagi untuk aktivitas duniawi. Perempuan yang emoh kawin ini hampir-hampir tidak punya waktu. Baginya waktu adalah untuk Tuhan. Lain tidak.

Pernah suatu hari sahabatnya, Malik ibn Dinar, mendapatkan Rabi’ah sedang terbaring sakit. Beralaskan tikar lusuh dan berbantal batu bata. Kendinya, tempat menyimpan air wudu dan minum, sudah pecah pula. Murid Hasan Al-Bashri itu tidak tega. “Aku punya beberapa teman yang kaya,” katanya. “Kalau kau perlu bantuan, aku bisa kontak mereka.”

“Malik, kamu  salah besar,” kata Rabi’ah. “Bukankah yang memberi mereka dan aku sama?”

“Memang,” sahut Malik.

“Apakah Allah akan lupa kepada hamba-Nya yang miskin karena kemiskinannya? Akankah pula Dia ingat kepada hamba-Nya yang kaya, seperti temen-temen ente itu, lantaran kekayaannya?”

“Ya, tidak tentunya.”

“Karena Dia mengetahui keadaanku, ngapain pula repot-repot mengingatkan­-Nya. Apa yang diinginkan-Nya, kita harus menerimanya.”

Memang sulit merayu Rabi’ah. Hasan Al-Bashri yang sering disebut-sebut sebagai guru Rabi’ah, konon pernah mental pula.

Syahdan, Al-Hasan dan kawan-kawan mendesak agar Rabi’ah menikah. “Oke,” jawab Rabi’ah. “Aku akan kawin dengan seseorang yang paling pintar di antara kalian. Siapa?”

Rame-rame mereka menunjuk Al-Hasan van Basrah itu.

“Jika Bapak dapat menjawab empat pertanyaan ini, saya siap jadi istri Bapak, kata Rabi’ah seraya menghampiri orang tua itu.

“Silakan, dan jika Allah mengizinkan saya akan menjawab pertanyaan Saudari,” jawab Hasan, kalem.

“Apakah yang akan dikatakan hakim dunia ini saat kematianku nanti? Akankah aku mati dalam keadaan Islam atau  murtad?”

“Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab?”

“Waktu aku di kubur nanti, apakah aku dapat menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir?”

“Hanya Allah yang tahu.”

“Ketika manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar, dan di hari perhitungan itu semua manusia akan menerima buku. Apakah aku akan menerima  di tangan kanan atau di tangan kiriku?”

“Hanya Allah yang tahu.”

Jawaban Al-Hasan juga sama ketika Rabi’ah apakah kelak ia akan masuk dalam kelompok orang-orang yang masuk surga atau yang masuk neraka.

“Aku sudah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku. Bagaimana aku harus bersuami yang kepadanya aku harus menghabiskan waktu dengannya.”

Menurut Margaret Smith dalam Rabi’a, the Mystic and Her Fellow Saints in Islam (1974), kisah lamaran Hasan Al-Basri itu, sebagaimana diceritakan tulisan sebelumnya,  digambarkan lebih dalam satu versi. Meskipun secara kronologis tidak mungkin Al-Hasan meminang Rabi’ah, mungkin kisah itu menceritakan pinangan orang lain. Harap dimaklum, ulama besar itu wafat 70 tahun sebelum kematian Rabi’ah. Kisah tentang Rabi’ah memang tidak ditulis pada zamannya. Aththar sendiri, yang pertama kali menulis biografinya, terpaut jarak tiga abad. Tapi mengapa Rabi’ah tak hendak kawin? Lebih memilih jadi istri di surga kelak? “Sebuah pernikahan,” katanya, “hanya bagi mereka yang memiliki suatu wujud. Yakni mereka yang masih menginginkan keindahan dunia. Padaku, wujud itu sudah lebur.”

Tapi ada Rabi’ah yang kawin, yang terkadang dikacaukan dengan Rabi’ah yang dari Basrah itu. Namanya Rabi’ah binti Ismail asal Suriah. Ia hidup 50 tahun sebelum Rabi’ah Adawiah. Asketis perempuan yang satu ini terkenal dengan salat-salat dan puasanya.

Syahdan, Rabi’ah ditinggal mangkat suaminya. Ia memperoleh warisan senilai 300.000 dinar. Tapi yang terkenal adalah suaminya yang kedua, Ahmad ibn Abi Al-Hawwari, yang juga lebih mengutamakan kehidupan spritual. Dari harta pusaka itu Rabi’ah memang mampu mengongkosi rumah tangganya dan seorang saudara laki-laki Ahmad. Ahmad sendiri pastilah bukan orang yang berpunya. Maklum profesinya cuma pembantu, atau jongos bahasa lamanya.

Bosnya, Abu Sulaiman, semula keberatan. “Tak seorang pun dari sahabat-sahabat kita yang menikah menjadi baik,” katanya. Kata Ahmad, majikannya itu berubah pikiran setelah, untuk beberapa saat, menyembunyikan kepalanya ke dalam baju. “Ahmad, nikahilah perempuan itu,” begitu kepala Abu Sulaiman menyembul dari balik kain.

Mereka menikah. Hanya saja hubungan keduanya lebih didasarkan pada cinta platonik. “Aku tidak mencintaimu sebagaimana seorang istri terhadap suami,” kata Rabi’ah. “Cintaku kepadamu seperti seorang saudara perempuan. Dan gairahku kepadamu hanyalah untuk melayanimu.” Kita tidak tahu, apakah “pasangan tasawuf” ini sesekali juga terlibat gairah asmara. Yang jelas, servis Rabi’ah untuk sang suami amat baik dan penuh keikhlasan. Ketika menghidangkan makanan ia tampak ramah. “Makanlah. Sebab tak satu pun makanan yang kumasak tanpa menyebut nama-Nya.”

Menurut Ahmad, istrinya punya beberapa keajaiban. Suatu hari Ahmad diminta menyingkirkan sebuah baskom. Sebab di situ Rabi’ah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa Khalifah Harun Ar-Rasyid akan meninggal dunia. Sungguh mengejutkan, kata Ahmad, beberapa hari kemudian pemimpin yang agung itu benar mangkat.

Nabi bersabda bahwa, “Allah tidak melihat penampilan luar kalian.” Bagi Aththar, yang menafsirkan makna hadis itu,  penampilan lahiriah itu di dalamnya menyangkut jenis kelamin. Jadi, seperti sudah dibuktikan oleh Rabi’ah dari Basrah dan Rabi’ah dari Suriah, seorang perempuan bisa mencapai derajat yang paling tinggi dalam kehidupan spiritual. Apatah lagi untuk capaian-capaian yang sifatnya duniawi. Bukankah sekarang banyak perempuan yang jadi pemimpin, bahkan dunia?

About the author

Avatar photo

A.Suryana Sudrajat

Pemimpin Redaksi Panji Masyarakat, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihsan Anyer, Serang, Banten. Ia juga penulis dan editor buku.

Tinggalkan Komentar Anda