Muzakarah

Seks Islami, Film Begituan, dan Malam Pertama

selective focus photography of silver colored engagement ring set with pink bow accent on throw pillow
Written by Panji Masyarakat

Saudara Ari, di Jakarta, beberapa hari mendatang akan melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah. Kita turut berbahagia. Tetapi ia mengaku gelisah. Banyak pertanyaan berkecamuk —yang terpenting, bagaimana menghadapi malam pertama nanti. Ia mengaku “tidak berpengalaman” dalam soal itu. Soal apa, Anda tahu sendiri. Padahal sebenarnya selama ini ia sudah “belajar”. Dari mana? Dari film-film “begituan”, yang terkadang dia tonton bersama teman-temannya. Seks di situ, katanya, sangat liar. Jadi ia ingin tahu, adakah tuntunan agama mengenai hubungan seks. “Bagaimana malam pertama itu menurut Islam?”

Jawaban Tim Muzakarah

Malam pertama, Dik Ari, malam yang indah. Tapi memang juga bisa menjadi malam yang gundah. Paling tidak, gelisah. Itu kata orang.

Bisa dibenarkan. Hanya saja, di antara yang mengatakan malam pertama bisa menjadi malam yang gundah biasanya terdapat mereka yang memandang kesuksesan hu-bungan seksual pada malam itu benar-benar mutlak. Mereka ini golongan yang khas juga—yang perhatiannya kepada hubungan seks seperti mengalahkan segala-galanya.

Seks memang penting. Dan jika Dik Ari mempertanyakannya, itu juga bagus. Dan wajar. Yang tidak wajar, dalam pandangan agama, adalah “seksualisme”— “paham” yang, katakanlah, mendasarkan hidup semata-mata pada hubungan seks. Seakan-akan tidak ada yang lain, yang mereka ketahui, yang (jauh) lebih penting. “Dzaalika mablaghuhum minal (Itulah batas ilmu mereka)”, meminjam kalimat Quran (Q. 53:30). Film-film  biru, yang Dik Ari ikut tonton, lahir dari “paham” itu, disadari atau tidak. Karena itu jangan Dik Ari kecewa kalau kami katakan bahwa film biru bukan sarana yang baik untuk sumber “pelajaran”. Apalagi Dik Ari sendiri menyimpulkan bahwa seks di sana begitu liar. Begitu membuat kita, maaf saja, seperti binatang.

Ini harus kami katakan lebih dulu, karena seorang pemuda atau gadis benar-benar tidak membutuhkan film biru untuk “pelajaran”-nya. Malahan bisa sebaliknya: ia akan punya tuntutan yang tidak-tidak, diilhami adegan-adegan yang ditontonnya, dan bisa kecewa kalau ternyata tidak bisa mendapatkannya nanti. Misalnya karena sang istri ternyata tidak cocok untuk khayalan-khayalannya yang mengada-ada. Mereka yang kecanduan film begituan bisa saja merasakan kehidupan perkawinan mereka hambar. Di situlah konyolnya.

Beribu-ribu, berjuta-juta, suami-istri hidup bahagia walaupun (atau justru karena) tidak menonton film jorok. Sebab kebahagiaan perkawinan tidak tergantung semata-mata pada seks. Bahkan yang disebut tuntutan biologis (yang sering dibilang “nafkah batin”) tidak hanya berarti hubungan seks. Ada cinta, kasih sayang, simpati, empati, rasa persahabatan, sikap saling mendukung, perasaan membela, perasaan dibela, saling menutupi aib pa-sangannya, persis seperti yang difirmankan dalam Qur’an, “Mereka (wanita) pakaian bagi kalian dan kalian (1a-ki-laki) pakaian bagi mereka” (Q. 2:187). Demikianlah “agar kamu bisa tenteram bersamanya, dan Ia menjadi-kan di antara kamu cinta dan kasih sayang” (Q. 30:21).

Perkawinan itu sendiri digambarkan dengan sebagai: “Kalian sudah menyerahkan diri yang satu kepada yang lain, sedangkan mereka (istri) sudah mengambil dari kalian (suami) perjanjian yang tebal.” Itulah sebabnya, Dik Ari, ada kalimat yang akan Dik Ari ucapkan pada upacara perkawinan: “Dan pergaulilah mereka (istri) dengan budi”. Kelanjutan ayat itu: “Kemudian jika kamu (suami) enggan kepada mereka, boleh jadi kamu enggan kepada sesuatu padahal Allah sudah menjadikan di dalamnya kebajikan yang banyak.” Itulah gambaran kebahagiaan perkawinan yang sebenarnya. Termasuk di dalamnya kehidupan seksual, tetapi itu hanya salah satu.

Itu pertama. Yang kedua, kebiasaan membesar-besarkan hubungan seks malam pertama itu bisa merupakan petunjuk untuk sesuatu yang bagus, tapi dengan akibat yang bisa jelek. Bagusnya: menganggap penting malam pertama berarti menganggap penting keperawanan—pada si jejaka maupun si gadis. Sebab baru pada malam itulah mereka mengenal seks dalam arti yang sebenarnya. Artinya mereka, sebagaimana Dik Ari sendiri, alhamdulillah terpelihara. Di masyarakat Barat, atau masyarakat mana pun yang menempuh cara hidup berseks bebas, tidak ada itu “malam pertama”— atau, tidak ada artinya; tak ada lagi surprise-nya.

Adapun jeleknya: anggapan bahwa malam  pertama “harus sukses” adalah anggapan yang keliru. Sebab kehidupan seks perkawinan tidak hanya pada malam pertama; bahkan banyak kasus kebahagiaan seksual suami-istri di-bangun secara bertahap—dengan kemungkinan pada malam-malam pertama tidak sempurna, tidak “tuntas”, bahkan gagal. Karena itu nasihat kami: jangan berlebih-lebihan  menganggap penting malam pertama—lebih penting dari pelaksanaan hubungan seksnya sendiri. Nah, untuk pelaksanaan itu, dua persiapan mental perlu dilakukan.

1. Pertama, Dik Ari, bersiaplah untuk berhasil. Ini, tidak boleh tidak, menyangkut teknik sanggama. Dan tek-nik yang pertama kali penting tidak lain yang berkenaan  dengan kejiwaan. Laki-laki, Dik Ari, ditakdir-kan Allah sebagai pemegang kunci kesuksesan hubungan  itu. Bukan perempuan: Benar bahwa perempuan, khususnya dalam cita rasa modern sekarang, tidak diseyogyakan untuk hanya pasif. Tetapi laki-laki adalah penentu: ia harus membuat sukses tidak hanya untuk dirinya, tapi lebih-lebih untuk istrinya. Kita sebut “lebih-lebih”, karena justru sukses si istri itulah (orgasmus) yang harus dipikirkan si suami begitu ia mulai.

2. Seorang suami yang baik ialah yang bisa merasakan kesenangan besar pertama kali bukan dari orgasmus-nya sendiri, tapi dari orgasmus istrinya. Kepuasan ini agak rohaniah juga sifatnya: di situ terkandung belas kasih yang sebenar-benarnya, cli situ pula terdapat makna sejati dari tugas laki-laki yang “memberi”, sementara perempuan “menerima”. Sebab perempuan bukanlah objek seks, dalam arti alat kepuasan laki-laki. Melainkan kawan laki-laki dalam menapaki jalan yang satu itu. Nabi Muhammad SAW  melarang kita melakukan lazi (memutus jimak sebelum ejakulasi; coitus interruptus), kecuali bila istri kita setuju. Mengapa?

3. Pertama, karena lazl itu mengejutkan istri kita—membuat  kecewa. Kedua, tentunya istri menyetujui hanya kalau beliau sudah “selesai” (orgasmus). Jadi, suami harus mengendalikan diri—dan, bagi calon pengantin, berlatih untuk itu. Caranya? Baik, kita sing-gung juga sedikit.

4. Pertama, jangan sekali-kali tenggelam dalam emosi, dalam hal ini berahi. Berat, bukan, padahal kita sangat mencintai istri kita? Apalagi proses cumbu rayu sebelum jimak adalah proses yang mesra. Cara ter-bagus “melupakan perasaan” ialah memperkuat konsentrasi kita ke hal-hal lain di luar persebadanan (ada, malah, yang mengalihkan pikirannya ke rasa pegal atau capek di bagian tubuh tertentu). Tapi itu hanya bisa kita lakukan kalau kita selalu dalam keadaan sadar. Karena itu, hubungan badan yang dilakukan dengan hati riang -)ada si laki-laki (bukan riuh rendah, sebab itu makruh, bahkan bisa haram) lebih bisa mernuaskan istri dibanding yang dilakukan dengan sendu, khusyuk, dan “tenggelam”.

5. Barulah nanti, bila istri sudah selesai dan suami akan menyelesaikan tugasnya (baik berbarengan maupun sendirian), ia boleh melepaskan pertahanannya. Itulah memang tugas laki-laki—membahagiakan wanita, dan dengan itu ia bahagia. Ini termasuk ajaran mu’asyarah bil ma’ruf itu—pergaulan dengan budi. Karena itu yang perlu dipesankan kepada calon pengantin laki-laki ialah ini: jangan berniat “menikmati”, melainkan “berjuang”. Ya. Perkuat benteng pertahanan—begitu. Ini mungkin terdengar lucu, tapi benar.

6. Sebaliknya, si istri: ia justru dinasihati untuk tidak menunda—kecuali kalau ia mau kecolongan. Lebih-lebih jika ia termasuk wanita yang merasa lebih baik jika bisa mengalami orgasmus beberapa atau lebih dari satu kali. Memang ada yang begitu, Dik Ari. Adapun cara kedua, dalam mengendalikan diri, adalah olahraga.

7. Itu persiapan pertama. Yang kedua, bagi pengantin baru, ialah ini: persiapan mental kalau-kalau gagal. Baik suami maupun istri tidak boleh terkejut kalau ternyata “perjuangan belum berhasil”. Di sini ter utama dituntut kearifan istri. Jika ia misalnya ber-sikap atau mengucapkan kata-kata kurang enak, aki-bat kegagalan itu, dan suami tidak siap mental dari awal; hubungan harmonis bisa terganggu sejak hari pertama. Padahal, dengan kesabaran, itu bisa diper-baiki, insya Allah, di malam-malam selanjutnya (dan kalau tidak juga, bisa berkonsultasi dengan dokter atau ahlinya).

8. Ini layak dicamkan, Dik Ari. Kesabaran, dalam ajaran agama, juga dituntut untuk hubungan suami-istri, yang dalam ajaran agama juga termasuk ibadah. “Bukankah kalau (seks) disalurkan pada tempat haram akan mengakibatkan dosa? Begitu juga, jika disalurkan pada tempat halal, mendapat pahala.” Demikian sabda Nabi SAW, seperti dituturkan Abu Dzarr Al-Ghiffari r.a., riwayat Muslim.

9. Bagaimanakah hubungan badan itu dilaksanakan, dalam arti “bentuk-bentuknya”?- Kalau Dik Ari menanyakan ini, maka jawabnya: bebas. Atau, ungkapan dalam  Qur’an, “menurut cara kamu” (Q: 2:223). Ayat ini dahulu diturunkan berkenaan dengan pen-dapat orang Yahudi bahwa menggauli istri dari arah belakang (bukan sodomi!) dilarang—karena, kata mereka, bisa bikin anak juling (lihat Al-Kasysyaf, I, 362; Razi, VI, 76-77; Ruhul Bayan, I, 347; Ibn Katsir, I, 261). Qur’an menyatakan batalnya pendapat itu.

10. Selain sodomi, juga terdapat larangan lain: bersebadan dalam keadaan istri datang bulan. Allah berfirman: “Katakanlah, haid itu kotoran, karena itu jauhilah wanita (jangan bersanggama) di dalam masa haid” (Q. 2:222). Dahulu, para sahabat bertanya mengenai kebiasaan orang Yahudi, lagi-lagi, yang suka mengeluarkan istri mereka yang sedang haid dari rumah semula, dan tidak mau makan-minum bersama. Nabi kemudian bersabda, “Tetaplah berkumpul dengan istri-istri kalian semua di dalam rumah, lakukanlah sesuatu dengan mereka, kecuali bersetubuh” (Sunan Abu Dawud, I, 177). Boleh seketiduran, boleh bermesraan. Why not? Hanya yang satu itu, no way.

11. Kalau istri sedang bebas, nah, melakukan “pemanasan” sebelum sanggama dihukumi sebagai sunnah (tradisi Nabi). Dalam istilah agama, itu disebut mula’abah—dari asal la’ibo., artinya ‘bermain-main’.(Wahbah Az-Zuha Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, III /555). Dalam hubungan dengan “perjuangan” untuk memberi kebahagiaan (kepuasan)  kepada istri, proses pendahuluan ini justru sangat penting—agar istri benar-benar siap. Yang perlu dijaga ialah, sekali lagi, bagaimana agar suami tetap “berkepala dingin”. Still cool when everyting is going hot, orang inggris bilang.

12. Apalagi, Dik Ari, wanita berbeda dengan laki-laki. Umumnya wanita menghadapi malam pertama de-ngan kurang-lebih rasa takut. Berhubungan badan bagi banyak dari mereka ibarat memasuki sebuah du-nia yang masih gelap, yang belum  pernah dialami (kecuali yang sudah mengalami, dan itu tidak kita bicarakan), dan sedikit banyak wanita sadar bahwa ialah yang akan “menanggung akibat”. Ada seorang gadis, yang sudah berkenalan bertahun-tahun dengan calon suaminya, malahan pingsan pada malam pertama, ketika hendak memasuki “gerbang yang asing” itu. Mungkin memang ada sesuatu yang khas pada latar belakang psikologisnya. Tapi, betapapun, diperlukan pengertian dan simpati. Sikap simpatik sangat penting, lebih-lebih bila seorang suami tidak begitu fasih bicara.

13. Selanjutnya terdapat beberapa sopan santun yang kita warisi dari Nabi SAW di sekitar sanggama. Mi-salnya, “Jika siapa saja dari kamu datang kepada istrinya (bersebadan), sebaiknya ia menutup tubuhnya dan tidak bertelanjang bulat …” dan seterusnya—demikian Rasulullah bersabda, seperti dikutip Utbah ibn Abdillah dan diriwayatkan Ibn Majah. Rasulullah pada dasarnya seorang yang sangat sopan dan menjaga kehormatan diri. Bahkan tidak pernah beliau mandi dengan membuka seluruh pakaian. Itu memang bagus dituruti (selalu bagus meneladani Rasulullah), tetapi disebutkan, dalam sabda beliau di atas, sebaiknya. Artinya, tidak wajib.

14. Yang mutlak dinasihatkan di sini adalah doa. Ya, sanggama ada doanya. Dan ini penting, sebab di sam-ping menyangkut diri suami-istri juga keturunan. Hanya salah satu saja kami sebutkan di sini, yang paling singkat:

15. Allaahumma jannibnasy syaithaana wa jannibisy syaithaana maa razaqtanaa” (Allah, jauhkan karni dari setan dan jauhkan setan dari yang (mungkin) akan Engkau anugerahkan kepada kami”. Yang mungkin dianugerahkan Allah ialah anak. Kalau mau diucapkan asli-nya, kata ganti kami di situ (na) ditukar dengan saya (ni). (Selanjutnya lihat Al-Fiqhul Isiami,; Al-Mughni, VII, 25; Ihyaa ‘Ulumiddin II, 46, dst.; Kasysyaful Qanna’, V, 216, dst.; Mukhtasharu Minhajil Qashidin, 73; Fathul Mu’in, 107; Al-Adzkar An-Nawawi, 159; Nailul Authar, VI, 194). Memang, rnembaca doa tidak perlu secara formal benar, seperti untuk orang kenduri. Cukup baca diam-diam. Juga bacaan basmalah maupun hamdalah di awal dan akhir.

16. Setelah sanggama, tentulah mandi jinabat—membasahi  seluruh tubuh, sampai ke akar-akar rambut. Man-di ini wajib untuk bisa melaksanakan salat. Adapun puasa, misalnya, sah tanpa mandi. Mereka yang melakukan jimak lebih dari sekali dalam satu malam cukup mandi satu kali. Juga tidak diwajibkan mandi sebelum tidur—cukup membersihkan diri sekadarnya  dan berwudu, kalau ingin meneladani Rasulullah. Tidak harus, memang. (Lihat Al-Fiqhul Islami,I11, 556).

17. Tidak ada hari baik dan hari buruk untuk sanggama. Juga sama saja: malam, pagi, sore, siang, subuh. Cuma sebagian ulama menyunahkan malam Jumat—semata-mata karena mengingat kemuliaan malam itu. Jadi sunah ulama, bukan sunah Nabi. Katanya, sih, kalau.punya anak, anaknya baik. Hanya ada ancar-ancar, kalau bisa dituruti: suami-istri jangan tidak bersenggarna lebih dari empat hari (di luar masa haid, tentunya), kecuali kalau ada halangan. Itu baik untuk hubungan mereka. Prinsipnya, malah, makin sering makin bagus. Nah. Asal tidak ada madharat apa-apa, baik buat istri maupun suami. Jangan memaksakan diri, tentu saja.

Terakhir, Dik Ari, kita dilarang menceritakan rahasia seks rumah tangga kita kepada orang lain. (Az-Zuhaili, III, 556). Ada, memang, dalam hidup ini, hal-hal yang harus ditutup (ingat prinsip “tutup-menutupi” antara suami-istri), meskipun yang ditutupi itu barang halal. Berciuman suami-istri, misalnya, halal. Tapi kalau di-lakukan di depan orang lain, di muka umum, nah, menjadi haram. Bukan ciumannya yang haram, tapi pamerannya itu. Itulah etika pegangan kita.

Baiklah. Seks itu penting, dan membahagiakan kawan hidup kita sangat penting. Toh kita tidak akan menyembah seks. Asal hubungan seks suami-istri berjalan? “di atas batas minimal”, sementara segi-segi lain bagus, itu sudah bagus sekali. Toh terdapat banyak sekali pasangan yang tetap saja kurang sukses dalam hal itu—di samping yang malahan tidak pernah merasakannya. Untuk mereka semua, Allah menurunkan rahmat-Nya. Malahan mereka yang (terpaksa) menahan nafsu seumur hidup, dan ridha, alias ikhlas, mereka diberi janji surga. Termasuk para janda yang memutuskan tidak kawin lagi demi pendidikan anak-anak.

Kalau hanya seks tujuan perkawinan, bahaya bisa muncul bila suami-istri berangkat tua dan makin tua: mereka tidak punya apa-apa lagi selain itu. Justru yang “selain itu” itu yang harus dikembangkan sejak awal. Yaitu cinta yang sebenarnya, kasih Sayang yang sebenarnya, taraahum (saling merahmati), saling membela, saling menutupi.  Selamat menikah, Dik Ari. Allah memberkati Anda berdua.

Sumber: Panji Masyarakat, 25 Agustus 1997

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda