Tafsir

Tentang Ritus Baca Al-Qur’an (3)

Written by Panji Masyarakat

Tradisi di Belakang Ritus

Yang ritual dari Al-Qur’an tidak hanya tradisi harian pembacaan kitab suci itu, yang merupakan bentuk pelahiran pertama. Tetapi juga yang kita kenal sebagai seni baca Al-Qur’an, pelahiran kedua, yang kemudian kurang lebih menjadi sah sebagai “bagian dari ibadah” berkat dukungan dari bentuk pelahiran ketiga dan yang muncul lebih dahulu: Ilmu Qiraat. (Cukup banyak, betapapun, kalangan ulama yang tidak menyukai tradisi “menyanyikan” Al-Qur’an).

Ilmu Qiraat adalah sebuah disiplin yang mewujudkan dirinya dalam penguasaan mazhab-mazhab bacaan, dikenal sebagai Qiraat Tujuh dan, ditambah tiga yang lain, Qiraat Sepuluh, yang perbedaan masing-masingnya, yang terletak pada rincian cara pengucapan bagian-bagian ayat, termasuk keberlain-lainan vokal (ditumbuhkan oleh periwayatan lisan yang kemudian dibukukan) —  dan itu menyangkut cara-cara membaca Kitab Suci sejak zaman sahabat Nabi.

Pada kurun mutakhir, seni baca Qur’an dalam kenyataan tidak hanya merupakan ajang peragaan lagu, dengan pakem-pakemnya yang baku dan yang menumbuhkan dunia sendiri, tapi juga sebuah bidang yang mengaktualkan kembali disiplin Ilmu Qiraat yang antik, rumit, dan bersandar pada hafalan itu, yang dalam pelahiran seni tersebut muncul berupa variasi-variasi yang kaya.

Adapun pelahiran keempat dari aspek ritual Qur’an adalah sebuah tradisi yang hakikatnya paling kuno dan, seperti yang menyangkut perbedaan-perbedaan qiraat, berhubungan dengan masa penurunan wahyu dan pengumpulan Qur’an sendiri. Yakni hifzh (penghafalan) Qur’an. Tidak seperti kitab suci yang mana pun di dunia, Al-Qur’an adalah satu-satunya yang melahirkan segolongan “rohaniwan” (meskipun istilah ini bukan milik Islam) yang sendirinya bukan ulama, bukan mubalig, bukan ahli hadis, ahli fikih maupun tafsir, bukan pula filosof dan bukan yang disebut sebagai kaum sufi, tetapi para hafizh (penghafal).

Kekunoan tradisi ini terlihat sejak perekam wahyu-wahyu Al-Qur’an sendiri dilakukan pertama kali dengan penghafalan massal, di samping dengan penulisan oleh sekitar 36-50 sahabat Nabi yang tidak semuanya sengaja dikoordinasikan.

Bahwa Al-Qur’an tak mungkin hilang, atau tertukar, dijamin (dalam dimensi keyakinan) oleh firman Allah, “Sungguh Kami, Kamilah yang menurunkan peringatan dan sungguh kamilah yang memeliharanya”. (Q.S. 15:9).  Dalam dimensi praksis  penghafalan yang dilakukan oleh  ratusan orang, dan kemudian secara beranting ribuan orang, hampir-hampir satu-satunya kesibukan di luar perang dan pencarian nafkah sehari-hari. Sampai-sampai penulisan hadis Rasul sendiri, meskipun bukan tidak dilakukan, sangat diwaspadai kemungkinannya tercampur dengan pencatat ayat.

Oleh itu pula, beberapa “keanehan” dalam pencatatan atau penghafalan sebagian sahabat, dari Abdullah ibn Mas’ud, misalnya, yang di sana-sini mengira penafsirannya sendiri tentang suatu ayat merupakan bagian dari ayat yang dicatat atau dihafalnya (dan yang tetap dipelihara sebagai dokumen dalam Ilmu Quran) dengan segera akan diketahui dan “dilokalisasi”. Dari situ juga diketahui mana-mana model bacaan yang memang pernah terdapat tetapi sudah diputuskan Ijmak sebagai syaadzdz alias tidak boleh dipakai.

Pemasyarakatan tuntas itu juga dilakukan lewat salat jamaah, yang sekaligus merupakan “peragaan” hafalan Qur’an. Nabi sendiri memberikan ancar-ancar pemberian prioritas untuk imam salat jamaah kepada “orang yang paling bagus Qur’annya di antara kamu (aqra-ukum)” atau “orang yang paling banyak hafalan Qur’annya di antara kamu (aktsarakum Qur-anan).

Berbagai madrasah dan pesantren hifzul Qur’an (sekarang populer dengan istilah “tahfidz”, red) didirikan khusus untuk hafalan Quran, dari abad ke abad dan para lulusan dengan tenang menyandang beban pemeliharaan hafalan Qur’an seutuhnya seumur hidup. Pada zaman klasik, mengikuti jejak para sahabat Nabi, umumnya para jenius besar Islam adalah sekaligus (bahkan sejak usia belia) para hafiz dari Imam Syafi’i sampai Ghazali sampai Ibn Taimiah.

Adapun sejak beberapa dasawarsa terakhir di Indonesia, barangkali seperempat dari dunia penghafal Qur’an yang diisi generasi baru itu bersentuhan dengan seni baca Qur’an dan, khususnya menyangkut mereka yang mendapat pengajaran ilmu-ilmu Al-Qur’an, seperti pada tingkat akademi, sudah lebih dahulu dengan Ilmu Qiraat. Bertiga bidang-bidang itu membentuk sebuah dunia besar yang, khasnya di Indonesia (dan tidak di Timur Tengah, dari negeri-negeri Arab sampai ke Turki maupun Iran), hampir separonya diisi kaum wanita, dan mengekalkan arti kehadiran Al-Quran sebagai ajang kehidupan ritual.

Dengan kata lain, bukan kehadirannya yang khas sebagai petunjuk. Mengenai itu kita belum bicara.

Penulis: Syu’bah Asa (1943-2011), pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi dan Asisten Pemimpin Umum Panji Masyarakat.  Sebelumnya bekerja di majalah Tempo dan  Editor. Sastrawan yang pernah menjadi anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok ini sempat menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sumber: Panji Masyarakat, 26 Mei 1997

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda