Bintang Zaman

Roger Garaudy (3): Berislam Sebelum Jadi Muslim

Dalam tesisnya, La Liberte, Garaudy menerangkan sejarah agama Kristen yang pernah dia anut. Ia mendasarkan pendapatnya kepada Santo Agustinus dan Santo Aquinas yang mengajarkan untuk tunduk pada penindasan. Agustinus mengatakan dalam Kota Tuhan, “Perbudakan  adalah hukuman terhadap kesalahan. Karena itu, Rasul Paulus memperingatkan budak supaya tunduk pada tuannya dan agar melayani mereka dengan kasih sayang serta maksud baik.” Aquinas juga mengatakan pada abad ke-13. “Perbudakan antara sesama manusia adalah alami. Hamba terhadap Tuhannya adalah alat…antara tuan dan budak terdapat hak penguasaan dari jenis khusus.”

Agama seperti itu, menurut Garaudy, pasti tidak berasal dari “zaman wahyu” atau dari Yesus Kristus sendiri. Agama Kristen pada awalnya, begitu juga agama-agama kitabiah  yang lain, adalah agama pembebasan dari kekuasaan kebendaan kaum Yahudi dan penindasan Kerajaan Romawi. Setelah agama menjadi aliran resmi negara sejak Kaisar Konstantin, ia memonopoli semua kekuasaan sehingga menjadi agama opium untuk membius masyarakat.

Karena itu, Garaudy menolak tiga bentuk Tuhan dalam agama opium. Pertama adalah Tuhan abstrak yang mengambil bentuk metafisis seperti tuhannya Aristoteles dan Plato yang dingin dan gersang. Tuhan metafisis ini mengajak menjauhi alam indrawi, tidak menanamkan kehangatan dalam hidup, dan tidak pula mengajak melakukan  inovasi dan kreasi dalam sejarah. Kedua adalah Dieu des trous (Tuhan pemberat atau pengganti) yang menjilat ludahnya kembali setiap kali ada penemuan ilmiah dan kemajuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan. Tuhan seperti ini dapat menerima kezaliman dan rela dengan kenyataan pedih. Ketiga adalah Tuhan pembuat undang-undang dalam bentuk seorang raja pemberang atau kaisar penindas. Agama dari Tuhan seperti ini selalu memihak kepada kekuasaan penindas dan kelas yang memerintah.

Agama pembebasan mesti berasal dari bukan manusia. Pembacaannya terhadap teks-teks agama dari da-lam serta dampak yang ditimbulkannya dalam mendorong orang beriman untuk bekerja, berjuang, dan ber-kreasi membuktikan bahwa agama yang berasal dari wahyu yang transenden adalah agama pembebasan. Agama seperti inilah yang membebaskan manusia dari keterasingan dari diri dan masyarakatnya. Contoh-con-toh untuk itu bertebaran mulai dari sejarah lama hingga sejarah modern, yaitu sewaktu teks-teks agama masih murni. Tuhan yang disembah Tuhan Yang Esa, dan agama berperan sebagai kekuatan pendorong nilai-nilai lu-hur kemanusiaan dan bukan sebagai aliran resmi yang memihak kepada kekuasaan.

Semua agama kitabiah—Yahudi, Kristen, dan Islam—sebenarnya adalah agama pembebasan. Sejarah yang dilalui oleh agama-agama ini, akibat tangan-tangan kotor yang mencemarinya, membuatnya kadang-kadang menjadi seperti agama opium. Orang Yahudi telah menyalahartikan Janji Tuhan kepada Nabi Musa sebagai janji khusus kepada bangsa Yahudi sehingga terbentuk gagasan “bangsa pilihan”. Janji itu tidak lagi sebagai janji pemberian kekuasaan kepada manusia yang menegak-kan ajaran Tuhan, tetapi sebagai janji kekuasaan khusus kepada bangsa Yahudi yang memberi mandat untuk menguasai bangsa-bangsa lain. Tuhan Yang Maha Adil akhirnya dalam tradisi Yahudi menjadi Tuhan kabilah yang berhadapan secara frontal dengan Tuhan atau tuhan-tuhan dari kabilah lain. Tuhan Yang Maha Adil menjadi Tuhan kabilah Yahudi melawan Tuhan kabilah Arab. Dalam dua bukunya L’ affaire Israel (Masalah Israel) dan Palestine, terre des message divins (Palestina, Tanah Risalah Ilahiah) Garaudy mengupas lebih jauh tentang konsep yang salah ini.

Sementara itu, orang Kristen Pasca-Konsili Nikea telah menyalahartikan konsep kasih kristiani yang asli dari pengertian kasih, pemberi kasih, dan yang diberi kasih, menjadi Holy Spirit, Tuhan Bapak, dan Tuhan Anak. Aga-ma murni sebagai agama pembebasan akhirnya dimasuki oleh Stoieisme, Platonisme, dan Gnosticisme yang mengubahnya menjadi keyakinan negatif dan aliran yang lari dari kehidupan, ilmu, dan sejarah.

 Tentang Islam Garaudy menemukannya sebagai agama pembebasan yang terakhir. Islam menjanjikan masa depan yang lebih manusiawi untuk manusia. Inilah satu-satunya agama yang mempunyai teks keagamaan yang tidak pernah tercemar oleh tangan-tangan jahil manusia. Zaman wahyu telah membuktikan keampuhan agama ini dalam mendorong kepada kedamaian, kemajuan, ilmu pengetahuan, dan peradaban yang manusiawi. Kemunduran terjadi di dunia Islam setelah umat Islam berhenti berkreasi, berinovasi, dan berjuang untuk me-wujudkan sorga Allah di muka bumi.

Teriakan Garaudy mengenai ini mirip dengan teriak-an Al-Afghani dan Muhammad Abduh pada abad yang lalu dari negeri yang sama, yaitu Prancis, agar umat Islam kembali kepada inti dan jiwa Islam. Al-Afghani pernah mengatakan bahwa Islam tertutup oleh umat Islam, se, dangkan Abduh pernah berkata, “Saya melihat Islam di Eropa, tetapi tidak melihat umat Islam.” Bedanya, Al-Afghani dan Abduh berbicara dalam nuansa dan agitasi politik dengan media berbahasa Arab, sedangkan Garaudy berbicara dalam nuansa filosofis dan kebudayaan dengan media berbahasa Prancis untuk menghadapi tan-tangan global yang mengancam peradaban umat manusia. Baginya, Islam dengan nilai-nilainya yang murni transendental menjanjikan masa depan yang lebih baik untuk umat manusia. Gagasan inilah yang ia kupas dalam Promesses de l’Islam (Janji-janji Islam) dan L’Isiam habite notre avenir (Islam Menempati Masa Depan Kita), yang ia tulis beberapa tahun sebelum ia resmi menjadi muslim pada 2 Juli 1982.

Catatan Redaksi: Roger Garaudy wafat di Paris pada 13 Juni 2012 dalam usia 98 tahun.

Penulis: Prof.  Dr. Rifyal Ka’bah, M.A.  (1950-2013). Hakim Agung RI (2000-2013),   ahli hukum Islam, mengajar di beberapa perguruan tinggi.  SumberPanji Masyarakat 4 Agustus 1997. Tulisan ini dimuat ketika Rifyal Ka’bah menempuh pendidikan S3 Ilmu Hukum di Universitas Indonesia.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda