Adab Rasul

Nabi di Mata Heraklius

Avatar photo
Written by Hamid Ahmad

Siapakah, di antara kalian, yang punya pertalian darah paling dekat dengan orang itu, yang menganggap dirinya nabi?” Ini pertanyaan Heraklius, kaisar Bizantium (Romawi Timur), tentang Nabi Muhammad. Ia bertanya melalui penerjemah istana. Dan Abu Sufyan menjawab, “Saya.”

Heraklius sedang berada di tengah angin. Angin kencang padang pasir mengembuskan kabar tentang seorang “nabi baru”—justru dari pelosok Jazirah Arab yang udik—dan tiupannya sampai kepadanya. Itu adalah masa yang bagai hamil tua. Sudah terbetik berita, di kalangan cerdik pandai agama-agama, tentang sudah dekatnya kedatangan seorang penuntun yang baru. Sementara Heraklius adalah pribadi yang sangat menyukai hal-hal spiritual, dan, seperti dikatakan Encyclopaedia Britannica, digosipkan sebagai “mampu melihat masa depan”. Ia sudah menerima salah satu surat dakwah dari Nabi SAW—dan itu agaknya tahun 630 Masehi, segera sesudah sang kaisar mengembalikan ‘Salib Suci’ yang dulu diboyong Persia ke tempatnya semula di Gereja Kiamat (The Holy Sepulchre) di Yerusalem. Heraklius ingin sekali menyelidiki pribadi si pengirim surat. Kebetulan kafilah dagang Mekah, dipimpin Abu Sufyan, tiba di Himsh (Homs), Suriah, ibu kotanya sebelum nanti terdesak ke Konstantinopel. Ia perintahkan mengundang mereka.

Kaisar dikelilingi para pembesar. Katanya, kepada para punggawanya, “Dekatkan orang itu kepadaku.” Yang dimaksudkannya Abu Sufyan, sumber penuturan yang kemudian direkam Bukhari dari catatan Az-Zuhri ini. “Dekatkan juga ka-wan-kawannya. Bikin mereka ber-diri di belakangnya.” Lalu, katanya kepada penerjemahnya (ini rekaan Abu Sufyan), “Katakan kepada mereka, aku akan menanyai dia tentang orang itu. Jika ia bohong, kalian kasih tahu.” (“Demi Allah,” tutur Abu Sufyan belakangan, “kalau bukan karena takut dicap pembohong, sebenarnya ingin aku berbohong”).

Kaisar bertanya, “Bagaimana garis keturunan orang itu, di antara kalian?”

Jawab Abu Sufyan, “Dia punya nasab (punya ‘darah biru’).”

“Adakah orang lain, di antara kamu, yang sudah mengklaim hal yang sama (kenabian) sebelum dia?”

“Tidak ada.”

“Adakah di antara nenek moyangnya seorang raja?”

“Tidak.”

“Orang-orang muliakah pengikutnya, atau orang-orang lemah?”

“Orang-orang lemah.”

“Makin bertambah, atau berkurang?”

“Malah bertambah.”

“Adakah satu orang saja yang kecewa kepada agamanya setelah memeluknya?”

“Tidak ada.”

“Kalian menuduhnya berdusta, sebelum ia menyatakan yang ia nyatakan itu?”

“Tidak.”

“Pernah dia melanggar janji?”

“Tidak. Tetapi kami sekarang ini berada dalam suatu masa, yang kami tidak tahu apa yang mau dia perbuat.” (Tutur Abu Sufyan kemudian, “Suasananya tidak memungkinkan aku memilih kalimat yang bisa kumasuki sesuatu’, kecuali kalimat itu”).

“Jadi kalian memerangi dia?”

“Demikianlah.”

“Bagaimana perang kalian melawan dia?”

“Silih berganti. Terkadang kami menang, terkadang dia menang.”

“Apa sebenarnya yang dia ajarkan kepada kamu?”

“Ia bilang, sembahlah Allah, jangan sekutukan dengan apa pun, tinggalkan  sesembahan nenek moyang kamu. Ia menyuruh kami sembahyang, berkata benar, menjauhi hal-hal rendah dan menyambung kekeluargaan.”

Maka berkatalah Heraklius kepada penerjemahnya (rekaan Abu Sufyan), “Katakan kepadanya, ‘Aku menanyai kamu tentang nasabnya, kamu jawab, di antara kamu ia punya nasab. Begitulah para rasul, dibangkitkan  di tengah nasab kaum masing-masing. Aku bertanya, adakah di antara kamu yang sudah menyatakan apa yang ia nyatakan itu sebelum dia, dan kamu jawab tidak. Kalau saja jawabnya ya, maka orang itu hanya meniru ucapan orang sebelumnya. Aku bertanya, adakah nenek moyangnya yang raja. Kamu jawab, tidak. Kalau saja ada, aku berkata, ia hanya orang yang menuntut kerajaan bapaknya. Aku bertanya, apakah kalian menuduhnya berdusta sebelum ia menyampaikan apa yang disampaikannya, kamu jawab tidak. Dan kita tahu, orang yang tidak membiarkan dusta kepada manusia tidak akan berdusta kepada Allah. Aku bertanya, orang-orang terhormatkah yang mengikutinya, atau para duafa, kamu jawab: para duafa. Ini aku ingat: kaum lemah yang mengikutinya. Kaum lemah itu pengikut para rasul.’

‘Kemudian aku bertanya, bertambahkah mereka, atau berkurang? Kamu jawab, bertambah. Begitulah tabiat iman, sampai ia menjadi lengkap. Aku bertanya, adakah yang ingin marah (kecewa) kepada agamanya setelah masuk, kamu jawab tidak. Begitulah iman, sampai keramahannya bercampur dengan hati. Aku bertanya, pernahkah ia melanggar janji. Kamu jawab tidak. Dan para rasul memang tidak berkhianat. Aku bertanya, apa yang diajarkannya. Kamu jawab, ia menyuruh kamu, sembahlah Allah semata-mata, jangan serikatkan dengan sesuatu. Ia melarang kamu menyembah berhala, menyuruh kamu sembahyang, berkata benar, menahan diri…’

‘Maka, jika semua yang kamu katakan. memang benar, orang itu akan menguasai tempat kedua kakiku ini berpijak. Jika aku tahu aku bisa sampai kepadanya, aku akan memilih menemuinya. Dan jika aku bersama dia, akan kucuci kedua kakinya’.”

Heraklius tidak masuk Islam. Seluruh punggawanya, berdasarkan pertimbangan kebesaran Kekaisaran Bizantium, menahan dia. Toh mengenai masa depan kebesaran Islam, dan nasib kerajaannya sendiri nanti, semua kata-katanya benar.

Sumber: Panji Masyarakat, 21 Juli 1997

About the author

Avatar photo

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda