Hamka

James Rush tentang Hamka (2): Aman, Damai , Modern di Bawah Lindungan Ka’bah

Written by Panji Masyarakat

Hamka menjadi anggota dan pemimpin Muhammadiyah dan Masyumi. Pendidikannya dibentuk dan dibatasi hanya oleh penguasaannya terhadap satu bahasa asing, yaitu bahasa Arab, bahasa Islam. Dia menjadi mubalig yang digemari dan disegani orang sejak masih muda sampai ke akhir hidupnya, dan hampir selama hampir tiga puluh tahun ia menjadi imam besar Masjid Agung Al-Azhar di Jakarta. Karena alasan inilah maka Hamka sejak lama diakui sebagai ulama yang terhormat. Berikut kelanjutan  ceramah James Robert Rush mengenai Hamka dan Sejarah Indonesia Modern yang pernah dimuat pada Panji Masyarakat No. 379, tahun 1982.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an Hamka menerbitkan majalah (Panji Masyarakat dan Gema Islam), menulis terus mengenai berbagai hal, dan melakukan pekerjaan besar yang menimbulkan rasa hormat, yaitu menulis tafsir Al-Qur’an yang lengkap (Tafsir Al-Azhar). Perhatian Hamka tertarik pada bidang yang sangat luas, oleh sebab itu para pembacanya meliputi lapisan yang luas juga. Dapat diduga, pembacanya lebih luas dari pembaca penulis lain, yang dalam spesialisasi mereka sendiri jauh melampaui Hamka.

Gaya tulisannya tidak formal, lincah, berwarna-warni, dan sering beremosi. Gayanya penuh semangat dan penuh dengan ciri khas kepribadian Hamka sendiri. Hamka mempunyai bakat istimewa untuk menarik perhatian para pembaca dan untuk menyederhanakan masalah serta ide-ide yang majemuk. Hamka menulis secara sederhana dan langsung, menjauhi gaya yang kering dan akademis. Dia sering menyelipkan contoh-contoh yang menarik, kadang-kadang puisi dan pencerminan pengalaman pribadi dalam karangannya. Dalam generasinya ia adalah satu di antara penulis dalam bahasa Indonesia yang paling menyenangkan. Walaupun gaya tulisannya tetap diwarnai oleh akarnya sebagai orang Minangkabau, tetapi dia menganggap bahasa Indonesia sebagai suatu unsur yang esensial dalam perkembangan kebudayaan Indonesia yang nasional.

Seperti diuraikan oleh Taufik Abdullah, panggilan utama Hamka adalah panggilan agama. Walaupun dalam hidupnya Hamka melibatkan diri dalam banyak kegiatan terutama menulis dan termasuk yang komersial seperti penerbitan tema utama dalam hidupnya bukan menulis, melainkan Islam itu sendiri. Ayahnya, Haji Rasul, ulama ternama dan gurunya juga ulama-ulama terkenal, di antaranya Sutan Mansur. Hamka menjadi anggota dan pemimpin Muhammadiyah dan Masyumi. Pendidikannya dibentuk dan dibatasi hanya oleh penguasaannya terhadap satu bahasa asing, yaitu bahasa Arab, bahasa Islam. Dia menjadi mubalig yang digemari dan disegani orang sejak masih muda sampai ke akhir hidupnya, dan hampir selama hampir tiga puluh tahun ia menjadi imam besar Masjid Agung Al-Azhar di Jakarta.

Karena alasan inilah maka Hamka sejak lama diakui sebagai ulama yang terhormat. Jadi, di mata umat Islam ia punya wibawa, dan wibawa keulamaannya ini memperluas pengaruhnya. Kalau semua karya Hamka dipertimbangkan bersama-sama, dan diperhatikan dalam konteks sejarahnya, kita dapat menemukan beberapa tema utama yang muncul berulang-ulang seperti jelujur bengan merah dalam tenunan. Tema ini merupakan penerapan pendidikan dan pengalamannya atas masalah istimewa yang lahir dari keadaan dan peristiwa-peristiwa di sepanjang hidupnya., baik untuk ia sendiri maupun untuk umat Indonesia pada umumnya. Dapat dilihat bahwa tema ini sangat umum, dan merupakan penerapan ide-ide pembaruan di Indonesia yang ada kaitannya dengan Muhammad Abduh dan pembaru Islam lain. Karena itu pengungkapan ide-ide ini tidak orisinal. Yang penting di sini ialah pengacuan yang khas yang tampak dalam karya Hamka, dan vitalitas serta keteguhan yang selalu mewarnai tulisannya. Yang paling menonjol adalah pandangan luas dan komprehensif, dengan hati nurani Islam tapi tubuhnya Indonesia.

Masyarakat baru yang diharapkan seharusnya bukan masyarakat yang terpecah-pecah dalam ras suku dan kedaerahan seperti ketika Hamka dilahirkan. Sejak masa mudanya Hamka sudah tidak menghiraukan pertentangan-pertentangan kecil antara kaum agama dan adat Minangkabau demi pandangan masyarakat yang luas seperti dianjurkan oleh Muhammadiyah dan gerakan nasionalis yang sedang berkembang, seperti ketika ia menolak dalam pendidikan agamanya pemusatan terhadap pelajaran fikih yang terinci. Kekerdilan dan penyalahgunaan sistem adat, terutama di Minangkabau, merupakan tema yang diulang-ulang dalam ceritanya. Dalam serangannya yang paling gencar terhadap praktik adat, terbit pada 1946, ia membandingkan adat “yang tidak lapuk kena hujan dan tidak lekang kena panas” dengan batu lumutan yang lebih baik disimpan di museum sebagaimana halnya pusaka yang berharga tapi tidak lagi berguna. Meskipun kecamannya terhadap praktik adat makin lemah dalam usia tuanya ketika ia telah menjadi penostalgia arti penting mengatasi kesempitan masyarakat daerah merupakan tema penting dalam pandangan yang menyeluruh. Di antara tema-tema yang menonjol dalam tulisan Hamka adalah sejarah. Hamka menulis banyak buku khusus tentang sejarah, termasuk empat jilid Sejarah Ummat Islam, beberapa tulisan tentang sejarah Islam di Sumatera dan tentang peranan sejarah Muhammadiyah, kumpulan sketsa tokoh dan peristiwa dalam sejarah Indonesia lama, sebuah biografi tentang ayahnya dan sebuah otobiografi.

Tulisan Hamka mengenai sejarah dimulai dari lahirnya agama dan kebudayaan Islam di tanah Arab dan diakhiri dengan lahirnya Indonesia Merdeka. Bagi Hamka semua ini tercurah dalam satu proses perjalanan sejarah ketika Islam menjadi unsur utamanya. Pandangan tentang sejarah meliputi bidang yang luas (ia sering menyelipkan tentang sejarah Yunani, Yahudi, Prancis, dan Amerika) serta yang khusus, misalnya, ia seorang pencatat silsilah dan fakta-fakta terinci yang tekun. Bagi Hamka mengetahui sejarah sangat penting untuk mempertahankan kelestarian hidup. Orang harus mengetahui hubungan sejarah di tempat mereka dan masyarakat mereka dilahirkan. Pengertian Hamka tentang sejarah tentu saja terbatas dan berat sebelah, lebih menitikberatkan pada peranan Islam pada peristiwa yang terjadi menuju Indonesia merdeka, dengan mengesampingkan faktor penting yang lain. Namun, inilah pandangan sejarah yang dipercaya olehnya benar dan ia coba meyakinkan pembacanya.

Akhirnya saya berpendapat, menarik diamati bahwa pada waktu Hamka menganjurkan pemuda Indonesia untuk menjadi ilmuwan dan ahli teknik (bukan pengarang atau penyair) ia sendiri lebih tekun memusatkan diri pada agama, mengabdikan dirinya untuk dakwah, meneruskan peranannya sebagai imam, dan akhirnya sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia.

Dalam studi dan tulisannya tentang kepercayaan dan pengetahuannya yang mendalam, tercermin secara dramatis dalam keberhasilannya menyusun tafsir Al-Quran yang lengkap. Dalam hal ini ia sekali lagi menekankan unsur utama pandangan hidupnya. Sebagaimana Islam menjadi tema utama dalam sejarah, ia juga merupakan tema dalam seluruh kehidupan. Dalam keadaan yang cepat berubah, pergolakan dan kekacauan, Islam merupakan pegangan yang terkokoh. Juga dalam zaman modern ia merupakan sendi yang utama. Dan untuk masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, ia merupakan tiang penyangga.

Apakah Indonesia menjadi negara Islam atau tidak, ia berharap agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang aman, damai, dan modern di bawah lindungan Ka’bah.

Bersambung

James Robert Rush dilahirkan pada 23 Agustus 1944 di Maryland, Amerika Serikat. Pada 1972 ia memperoleh Ph.D. di bidang sejarah pada Yale University. Disertasinya  “Opium Farms Nineteenth Century Java; Community and Change in a Colonial Society, 1860-1911” telah diterjemhkan ke dalam bahasa Indonesia. Pengajar sejarah pada almamaternya ini wafat pada 3 Juni 2022.  Karyanya  tentang Hamka, Hamkas’s Great Story: A Master Writer’s of Islam for Modern Indonesia (2016) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Adicerita Hamka; Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern dan diterbitkan Penerbit Gramedia tahun 2017.

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda