Cakrawala

Al-Quran, Terjemahan dan Tafsirnya di Indonesia

Avatar photo
Written by Fuad Nasar

Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Keseluruhan ayat Al-Quran sebagai kalam Allah yang merupakan sumber utama ajaran Islam mengandung kebenaran mutlak. Keaslian dan kelestarian Al-Quran dijamin Allah sampai akhir zaman tanpa menafikan pentingnya andil umat Islam sendiri dalam menjaga kemuliaan kitab suci yang diimaninya.

Pengarang Amerika James A. Michener dalam Islam The Misunderstood Religion (1985) menulis hasil pengamatannya, “Al-Qur’an boleh jadi merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca di muka bumi, kitab yang paling sering dihafalkan, dan kitab yang paling berpengaruh dalam kehidupan orang yang mempercayainya,  Kitab ini belum setua Perjanjian Baru, tertulis dalam gaya yang cemerlang. Kitab itu bukan puisi dan prosa, namun mengandung potensi untuk membangkitkan gairah iman para pembaca dan pendengarnya. Al-Qur’an adalah kitab yang sangat praktis dan memberikan pembahasan tentang kehidupan yang ideal.” ungkap James A. Michener.

Perkembangan dakwah Islam secara global melahirkan kebutuhan terhadap mushaf Al-Qur’an, terjemahan dan tafsirnya dalam berbagai bahasa. Penulisan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an bukan memindahkan teks suci Al-Qur’an dari bahasa Arab ke dalam bahasa nasional dan lokal. Terjemahan dan tafsir hanyalah upaya untuk mengungkapkan makna ayat-ayat Al-Qur’an sesuai kaidah bahasa dan ilmu tafsir agar mudah dipahami dan diamalkan oleh seluruh umat Islam. Dalam hubungan ini tidak sembarang orang bisa menulis terjemahan dan tafsir Al-Quran tanpa memiliki kompetensi keilmuan.

Sejauh ini terdapat empat bentuk karya tafsir Al-Qur’an di Indonesia, yaitu; terjemahan, tafsir surah dan juz tertentu, tafsir tematik, dan tafsir lengkap 30 juz. Penulisan karya tafsir Al-Qur’an meliputi tiga kategori, yaitu: karya perorangan, karya kolaborasi dua atau tiga orang, dan karya tim penyusun. Terjemahan dan tafsir Al-Qur’an yang disusun oleh para ahlinya sangat bermanfaat khususnya bagi umat Islam yang tidak menguasai bahasa Arab. Karya terjemahan dan tafsir menjadi sarana penyiaran agama Islam dalam kerangka “membumikan” Al-Qur’anul Karim. Semua terjemahan dan tafsir Al-Quran yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia selalu menyertakan teks asli Al-Quran berbahasa Arab dan ditashih oleh Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran Kementerian Agama RI.

Sejarah penerjemahan dan penulisan tafsir Al-Qur’an di Nusantara bermula semenjak awal abad ke-16. Menurut Peter Riddel, sebagaimana dikutip Beggy Rizkiyansyah (2014) sebuah naskah tafsir surat Al-Kahfi telah ditulis pada abad ke 16 Masehi. Naskahnya dibawa dari Aceh ke Belanda pada awal abad ke 17 M oleh seorang ahli bahasa arab bernama Erpinus (wafat 1624). Manuskrip itu menjadi koleksi Cambridge University. Meski tidak diketahui siapa penulisnya, namun diperkirakan tafsir tersebut ditulis pada masa awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dengan muftinya adalah Syams Al-Din Sumatrani. Satu abad kemudian, masih di Aceh, ditemukan tafsir yang lengkap 30 juz, yaitu Turjuman Al- Mustafid karya Abd Al-Rauf Al-Sinkili (1615-1693). Diperkirakan, ia menulis tafsir sepulang dari menuntut ilmu selama 19 tahun di Hijaz.

Syaikh Abdur Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili diakui oleh kalangan sejarawan sebagai perintis penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Melayu. Abdur Rauf al-Fansuri atau al-Singkili menjabat Mufti Kerajaan Aceh Darus-Salam pada zaman pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Ulama dan pejuang pendidikan asal Sumatera Barat Prof. Dr. Mahmud Yunus (1899-1982) dikenang sebagai pelopor pola baru penulisan Tafsir Al-Qur’an di Tanah Air. Di masa itu pandangan konservatif menyatakan haram hukumnya menerjemahkan Al-Qur’an. Mahmud Yunus seorang yang berpikiran modern memiliki pandangan lain, sehingga menerjemahkan Al-Qur’an dan menerbitkannya per juz tiap bulan. Hukum menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa non-Arab bukanlah ketentuan syariat atau masalah pokok dalam agama Islam.   

Tafsir Qur’an karya Mahmud Yunus diterbitkan per juz sejak 1922 sampai lengkap 30 juz tahun 1938. Sampai saat ini sudah mengalami cetak ulang lebih dari 70 kali.  Selain itu, Mahmud Yunus juga menerbitkan Terjemahan Al-Quran, tanpa tafsir untuk memudahkan membaca Al-Quran.

Dalam kurun waktu itu tahun 1928 terbit Tafsir Al-Furqan karya Al-Ustadz Ahmad Hassan (1887-1958). Ulama kelahiran Singapura 1887 dari keluarga campuran Indonesia-India itu seorang ahli fikih/ushul fikih, tafsir, hadits, dan ilmu kalam. Tafsir Al-Furqan mula-mula diterbitkan per juz, sampai lengkap 30 juz pada tahun 1956. Sebagaimana diakui oleh banyak kalangan pembaca dan pemerhati bahwa Tafsir Al-Furqan memiliki keunggulan dari sisi kekuatan bahasa dan pilihan kata. Faktor itulah  yang menjadikan karya terbesar A. Hassan tersebut digemari pembaca di berbagai pelosok Tanah Air dan Semenanjung Melayu. 

Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy (1904-1975) menulis karya terbesarnya Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur (Tafsir An-Nur) mulai tahun 1951. Dalam seminar di Jakarta tahun 1973 ulama asal Aceh itu menyatakan bahwa umat Islam Indonesia membutuhkan Tafsir Indonesia. “Al-Qur’an adalah kitab yang berlaku untuk seluruh tempat dan seluruh masa. Kita harus berusaha menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam penafsirannya itu.“ tegas Hasbi Ash Shiddieqy.

Pemerintah melalui Kementerian Agama sejak 1960-an memberi perhatian terhadap penerjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan Kitab Suci Al-Qur’an tertuang dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) No II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Semesta Berencana Tahapan Pertama 1961 – 1969, Lampiran A4, Agama/Kerochanian.

Menteri Agama Prof. K. H. Saifuddin Zuhri tahun 1963 melaksanakan Ketetapan MPRS dengan membentuk Dewan Penterjemah Kitab Suci Al-Qur’an berdasarkan Keputusan Menteri Agama. Dewan Penterjemah yang ditunjuk oleh Menteri Agama terdiri dari: Prof. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Prof. Dr. H. Bustami A. Gani, Prof. H. Muchtar Yahya, Prof. H.M. Toha Yahya Omar, Prof. Dr. H. A. Mukti Ali, Drs. Kamal Muchtar, H. Gazali Thaib, K.H.A. Musaddad, K.H. Ali Maksum, dan Drs. Busjairi Madjdi. Pada tahun 1975 Kementerian Agama menyusun Al-Quran dan Tafsirnya terdiri dari 10 jilid. Ketua Tim Penyusun ialah Prof. Dr. H. Bustami A. Gani dan dilanjutkan oleh Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML.

Prof. Dr. Hamka (1908- 1981) seorang  ulama dan pujangga Islam Indonesia menulis  karya terbesarnya Tafsir Al-Azhar. Tafsir karya Buya Hamka merupakan tafsir terbesar pertama karya perorangan dalam bahasa Indonesia. Tafsir Al-Azhar terdiri dari 30 jilid yang  terbagi masing-masing jilid 1 juz. Hamka nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah semasa hidupnya adalah Penasihat PP Muhammadiyah dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama. Ia dilahirkan di nagari Sungai Batang Maninjau Sumatera Barat tanggal 17 Februari 1908. Hamka menulis dan menyelesaikan naskah Tafsir Al-Azhar sewaktu dalam tahanan politik rezim Orde Lama tahun 1964-1966.  Edisi perdana Tafsir Al-Azhar diterbitkan 1967 dan edisi terakhir menggenapkan 30 juz terbit tahun 1981, beberapa bulan sebelum pengarangnya berpulang ke rahmatullah tanggal 24 Juli 1981. Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir An-Nur karya Tengku Hasbi Ash Shiddieqy merupakan Tafsir Al-Qur’an karya perorangan berjilid-jilid yang pertama dalam bahasa Indonesia.

Selain itu pada tahun 1963 khazanah tafsir Al-Quran di Indonesia bertambag dengan terbitnya Tafsir Sinar karyaBuya H. A. Malik Ahmad (1912- 1993). Tafsir Sinar ditulis menurut urutan nuzul (turunnya) surat-surat Al-Qur’an mulai dari surat al-Alaq sampai surat at-Taubah. H. A. Malik Ahmad yang berasal dari nagari Sumanik Sumatera Barat semasa hidupnya adalah Wakil Ketua Umum dan Penasihat PP Muhammadiyah.

Terjemahan Al-Quran secara puitis berjudul Bacaan Mulia disusun oleh Dr. Hasn Bague Jassin atau biasa disingkat H. B. Jassin (1917-2000). Ia seorang ahli sastra, kritikus sastra, dan dokumentator sastra Indonesia terlengkap. Karya terbesar “Paus Sastra Indonesia” itu diluncurkan di Jakarta pada tahun 1977. H. B. Jassin menulis karya monumentalnya dalam persinggahan di beberapa negara.  Sejumlah kota tempat H. B. Jassin mengerjakan terjemahan Al-Qur’an ialah Amsterdam, Berlin, Paris, London, Antwerpen, Kuala Lumpur, Singapura, serta kampung-kampung kecil seperti Leiden, Zaandam, Reuver, Peperga, dan beberapa kali dalam perjalanan di kapal terbang, tulis H. B. Jassin pada kata pengantarnya. 

Perkembangan tafsir Al-Quran di Indonesia memperoleh nuansa baru dengan terbitnya  Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry Datuk Tan Besar (1916-1985) pada dekade 80-an. Menurut penulisnya, Tafsir Rahmat dihadirkan dalam rangka meningkatkan nilai ilmiah tafsir Al-Qur’an sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Tafsir Rahmat merupakan tafsir pertama dalam huruf Latin yang dibaca dari kanan ke kiri. H. Oemar Bakry lahir di nagari Kacang Solok Sumatera Barat pada 26 Juni 1916. Ia menamatkan pendidikan di Perguruan Thawalib (Thawalib School) Padang Panjang.

Di dalam Tafsir Rahmat terangkum 138 motto dakwah tentang keimanan, ibadah, sosial, ekonomi, kemasyarakatan atau kenegaraan, dan lain-lain. Segi bahasa Indonesia mendapat perhatian besar dari penulisnya. Sebagai contoh, “samak” dan “samawat” yang selalu diterjemahkan “langit”, dalam Tafsir Rahmat diterjemahkan “ruang angkasa.”

Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an adalah karya monumental Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Tafsir ini disusun sewaktu Quraish Shihab bertugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, Somalia, dan Jibuti berkedudukan di Cairo tahun 1999-2002. Tafsir Al-Mishbah terdiri dari 15 volume (15 jilid), masing-masing jilid terdiri dari 2 juz. Cetakan pertama Tafsir Al-Mishbah terbit pada tahun 2000.

Pada tanggal 13 Desember 2016 Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Tafsir At-Tanwir cetakan pertama jilid 1. Tafsir At-Tanwir  disusun berurutan sesuai mushaf, mulai dari surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Nas. Tafsir At-Tanwir memuat pesan-pesan Qurani seputar: etos ibadah (pembaharuan nilai-nilai ibadah yang tidak sekadar mekanis-ritualis yang berujung pada keshalehan individual, tetapi juga tindakan praksis dalam bingkai keshalehan sosial); etos ekonomi(semangat kerja, disiplin, tepat waktu, orientasi hasil, hemat walau tidak kikir, kerjasama, menghindari kerugian, tanggung jawab); etos sosial (solidaritas, persaudaraan, toleransi, demokrasi, orientasi kepentingan bersama, kesadaran lingkungan, penghargaan kepada orang lain, pengendalian diri, kepedulian sosial, semangat berkorban di jalan Allah), dan etos keilmuan (menyadari arti penting ilmu dan pengetahuan serta dorongan untuk menguasai sains dan teknologi bagi kepentingan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat).

Selain terjemahan dan tafsir Al-Quran tersebut di atas, sejarah terjemahan dan tafsir Al-Qur’an di Indonesia mencatat sederet karya ulama dan cendekiawan semenjak masa sebelum kemerdekaan hingga kini, antara lain:

  • Tafsir Hidayatur Rahman karya K.H. Moenawar Chalil.
  • Tafsir Hibarna karya K.H. Iskandar Idries.
  • Tafsir Al-Ibriiz karya K.H. Bisri Musthofa.
  • Tafsir Al-Qur’anul Karim karya Al-Ustaz A. Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas, dan Abdur Rahim Haitamy.
  • Al-Qur’an-ul Hakim dengan Terjemahan dan Tafsirnya karya kolektif M. Kasim Bakry, Imam M. Nur Idris, dan A. Dt. Madjoindo.
  • Tafsir Qur’an-naskah asli, terjemah, dan keterangan, disusun oleh Zainuddin Hamidy dan Fachruddin HS.
  • Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an karya Bachtiar Surin.
  • Al-Qur’an Karim dan Terjemahan UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta, terjemahan disusun oleh Prof. Zaini Dahlan, M.A. mulai tahun 1995.
  • Al-Qur’an Terjemah Indonesia oleh Tim Dinas Pembinaan Mental TNI-Angkatan Darat (Tim Disbintalad).
  • Tafsir Al-Qur’an UNISBA (Universitas Islam Bandung).
  • Tafsir Al-Qur’an At-Tibyan oleh Mohammad Said.
  • Tafsir Al-Qur’an Per Kata karya Ustadz Mahmud Asy-Syafrowi.
  • Tafsir Qur’an Per Kata, Dilengkapi dengan Asbabun Nuzul & Terjemah karya Dr. Ahmad Hatta, M.A.
  • Tafsir Salman, merupakan Tafsir Ilmi Juz ‘Amma surah Al-Naba sampai dengan Al-Nas disusun oleh Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB (Institut Teknologi Bandung).
  • Tafsir Al-Qur’an karya Prof. Dr. M. Yunan Yusuf.
  • Tafsir At-Taysir karya Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA.
  • Tafsir Al-Quran Tematik oleh Tim Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
  • Tafsir Al-Amin karya Muhammad Amin Suma.

Dalam perjalanan sejarah terjemahan dan tafsir Al-Qur’an di Indonesia juga terdapat sejumlah karya terjemahan dan tafsir yang disusun menggunakan aksara Arab Melayu dan bahasa daerah. Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an berkontribusi dalam pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan pelestarian bahasa daerah sebagai unsur kebudayaan nasional.

Sementara itu di sisi lain kebangkitan kesadaran beragama dan kajian Islam di lingkungan Kampus, Pesantren, Masjid, serta minat generasi muda Muslim yang haus terhadap pengetahuan agama juga mendorong pertumbuhan terjemahan dan tafsir Al-Qur’an di Tanah Air.  Belakangan beberapa tafsir terkenal berbahasa Arab dan Inggris dialih-bahasakan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia, antara lain:

  • Terjemahan Tafsir Ibnu Abbas karya Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdul Manaf al-Quraisy.
  • Terjemahan Tafsir Ibnu Mas’ud  karya Abdullah bin Gafil bin Syamakh bin Fa’r bin Makhzum bin Sahilah bin Kahil bin al-Haris bin Tamim bin Sa’d bin Huzail bin Mas’ud.
  • Terjemahan Tafsir Ath-Thabari karya Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari.
  • Terjemahan Tafsir Al-Qurthubi karya Abd Abdillah Muhammad ibnu Ahmad al-Anshari al-Qurthubi.
  • Terjemahan Tafsir Ibnu Katsir karya Al-Hafizh Imaduddin Abul Fidaa Ismail Ibnu Katsir.
  • Terjemahan Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Sayuthi.
  • Terjemahan Tafsir Al-Razi, Bahasa Sunda, karya Abu Abdillah Fakhruddin ar-Razi.
  • Terjemahan Tafsir Adhwa’ul Bayan karya Syaikh asy-Syanqithi. 
  • Terjemahan Tafsir Al-Kasyaf, aplikasi digital, karya Abul Qarim Jarullah az-Zamakhsyari.
  • Terjemahan Tafsir Al-Maraghi karya Syaikh Ahhmad Musthafa al-Maraghi.
  • Terjemahan Tafsir Juz Amma karya Syaikh Muhammad Abduh.
  • Terjemahan Tafsir Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Quthb.
  • Terjemahan Tafsir Al-Quranul Karim karya Prof. Dr. Syaikh Mahmoud Syaltout.
  • Terjemahan Tafsir Al-Asas karya Sa’id Hawwa.
  • Terjemahan Tafsir Sya’rawi karya Syaikh Muhammad Mutawally Sya’rawi.
  • Terjemahan Tafsir Al-Mizan karya Allamah Sayid Muhammad Husain Thabathaba’i.
  • Terjemahan Tafsir Al-Amtsal karya Syaikh Nasir Makarim Syirazi.
  • Terjemahan Tafsir As-Sa’di karya Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as-Sa’di.
  • Terjemahan Tafsir Al-Quran Al-Aisar karya Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi.
  • Terjemahan Tajjut-Tafaasir Tafsir Al-Quran karya Al-Imam Muhammad Usman Abdullah Mirgani.
  • Terjemahan Tafsir Singkat Al Quran dan Terjemah – Tafsir Sesuai Pemahaman Para Sahabat karya Dr. As’ad Mahmud Humad.
  • Terjemahan Tafsir Al-Jailani karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  • Terjemahan Syafwatutu Tafasir karya Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni. 
  • Terjemahan Tafsir Al-Munir karya Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili.
  • Terjemahan Tafsir Al-Muyassar karya Aidh al-Qarni.
  • Terjemahan The Holy Quran: Text, Translation and Commentary karya Abdullah Yusuf Ali. Penerjemah: Ali Audah, Penerjemah Puisi: Sapardi Djoko Damono.
  • Terjemahan tafsir the Message of the Qur’an karya Muhammad Assad (Leopold Weiss).

Tulisan ini mengacu pada buku saya yang insya allah akan terbit yaitu Mengenal Karya Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an  di Indonesia”, penerbit Prodeleader.

About the author

Avatar photo

Fuad Nasar

Pemerhati Agama dan Sejarah, Alumni Sekolah Pascasarjana UGM, Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI

Tinggalkan Komentar Anda