Bintang Zaman

Sjafruddin Prawiranegara (1):  Sambil Mengenang Kemerdekaan

Written by Panji Masyarakat

Kemerdekaan tidak serta-merta aman dalam genggaman tangan. Tidak kurang dari tiga kali rongrongan dilakukan setelah itu oleh pihak Belanda—sekali di Surabaya dan dua kali di Yogyakarta. Dua-duanya merupakan agresi dan pelanggaran terhadap garis demarkasi yang telah disepakati dalam Perjanjian Renville. Pada agresi yang terakhir, 19 Desember 1948, mereka bahkan berhasil menguasai Yogyakarta, pusat pe-merintahan saat itu, dan menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, dan sejumlah menteri. 

Dengan ditangkapnya para pucuk pimpinan, yang adalah dwitunggal proklamator kemerdekaan, pemerin-tahan RI praktis lumpuh. Untung, pimpinan negara sempat membuat surat perintah—kepada Menteri Kemakmuran Sjafruddin Prawiranegara—untuk membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRT) di Padang. Waktu itu ia sedang mengadakan kunjungan ke Bukittinggi, Suma-tera Barat. 

Alhamdulillah. Ternyata itu keputusan yang tepat. Berkat adanya PDRI, yang memerintah secara mobil di hutan belantara selama tujuh bulan, dengan Sjafruddin yang menjabat sebagai perdana menteri dan menteri kemakmuran, Republik Indonesia yang masih bayi itu hasil diselamatkan. Berbagai kekuatan perjuangan di Jawa, Sumatera, dan luar negeri dapat tetap :abersatu. Dunia internasional jadi maklum bahwa pe-tnerintah RI tetap eksis meski menghadapi gempuran yang mahahebat. Tanpa PDRI, barangkali akan ditempuh jalan Iain, tetapi barangkali juga nasib Republik akan lain. Wallahu a’lam

Namun, mengapa Sjafruddin, tokoh yang sampai kini belum juga dianggap layak menyandang gelar sebagai pahlawan (padal 7 November 2011 Sjafruddin Prawiranegara ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, red) , yang dipilih waktu itu? Bukan menteri-menteri yang lain? Ada dua alasan yang dikemukakan Bung Hatta. Pertama, ia dipandang sebagai menteri yang paling cakap. Kedua, usianya yang 37 tahun dirullai belum tua sehingga diharapkan dapat bergerak secara mobil. 

Anyar Kidul dan Buku-buku Marxis

Sjafruddin lahir di Anyar Kidul, Serang, Banten, pada 28 Februari 1911. Keluarganya berasal dari kalangan menakningrat, priyayi. Ayahnya, Raden Arsyad Prawiraatmaja, adalah pamong praja di daerah kelahirannya dan salah seorang pemimpin Sarekat Islam (SI) cabang Banten. Sementara ibunya seorang putri keturunan Raja Pagaruyung, Minangkabau, yang karena gigih menentang Belanda dibuang ke Banten pada 1850. 

Pendidikan dasar Sjafruddin dimulai di Serang di sekolah ELS (Europeesche Lagere School). Pada 1924 ayahnya dipindahkan ke Ngawi, Jawa Timur, karena dianggap Belanda terlalu dekat dengan rakyat kecil. Di kota inilah Sjafruddin menamatkan ELS. Setamat dari MULO (Meer Uitbreid Lager Onderwijs, atau SMP) di Madiun, lalu AMS (SMTA), ia masuk RHS (Rechts Hoge School atau Sekolah Tinggi Hukum) di Jakarta dan tamat pada 1939. 

Masa muda Sjafruddin sama sekali jauh dari kegiatan politik menentang Belanda. Ia tercatat hanya masuk USI (Unitas Studiosorum Indonesiensis), organisasi mahasiswa yang bersifat hura-hura dan tidak menghiraukan per-kembangan sosial politik Indonesia. Rasa kebangsaannya baru tergugah ketika ia menyaksikan sendiri penderitaan rakyat Indonesia yang lebih parah di bawah penjajahan Jepang, 1942. Saat itulah ia mulai berjuang. 

Dalam perjuangan kemerdekaan Sjafruddin lebih dekat dan lebih cenderung kepada kelompok sosialis yang dipimpin Sutan Syahrir. Maklum, sejak di AMS ia sudah senang membaca buku-buku yang berbau marxis. Menurut pengakuannya sendiri, akibat bacaannya tersebut ia sempat mengalami keguncangan imaia selama beberapa tahun. Ketika ayahnya meninggal, barulah ia sadar dan kembali kepada Islam. 

Setelah Indonesia merdeka, ia memilih organisasi Masyumi (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) yang dibentuk pada 7 November 1945. Sebagai orang yang banyak berkenalan dengan ajaran sosialisme, sebenarnya Sjafruddin lebih bersimpati ke-pada Partai Sosialis. Namun karena hormat dan cintanya kepada sang ayah, ia memilih Masyumi—yang tergolong masih sega-ris dengan SI, tempat ayahnya bernaung. Ayahnya memang seorang muslim yang taat, dan kematiannya telah mengubah hidup Sjafruddin menjadi seorang muslim yang baik. Sejak itu timbul keinginan yang mengge-bu dalam dirinya untuk memperdalam pengetahuan keis-laman. Dalam wadah Masyumi ini ia bisa belajar Islam dan bahasa Arab dari teman-temannya. Di sini pulalah ia memadukan pengetahuan dan kecenderungan sosialismenva dengan ajaran Islam. 

Jabatan di Pemerintahan

Dalam pemerintahan, berbagai posisi penting pernah dijabatnya. Ia diangkat menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) pada 1945. Ia pun menjadi menteri muda keuangan dan menteri ke-uangan dalam dua kabinet Syahrir vang dibentuk pada 3 Maret 1946 dan 2 Oktober 1946. Ketika Kabinet Muhammad Hatta dibentuk pada 29 Januari 1948, ia di-percaya sebagai menteri kemakmuran. Setelah menye-rahkan kembali mandat kepada Presiden Soekarno, pada 1950, Perdana Menteri RIS Moh. Hatta menunjuknya sebagai menteri keuangan. Kemudian, setelah Indonesia kembali ke Negara Kesatuan, ia diangkat menjadi presiden De Javanesche Bank. Pada 1953 bank ini diganti namanva menjadi Bank Indonesia, dan Sjafruddin ditunjuk sebagai gubernurnya yang pertama. 

Dalam sejarah politik di Indonesia, tercatat beberapa kali Presiden Soekarno bertindak menyalahi Konstitusi. Misalnya, lewat Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ia membubarkan Konstituante yang masih bekerja merumuskan dasar negara. Ia pun mendesakkan sistem Demokrasi Terpimpin dan kebijaksanaan Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis). Menurut Moh. Hatta, wakil presiden pertama dan yang meletakkan jabatan karena perbedaan prinsip dengan Soekarno, dengan demokrasi ala Soekarno ini sang presiden telah bertindak sebagai seorang diktator dan memberi kesempatan kepada PKI untuk hidup di Indonesia. 

Selain itu, kebijaksanaan pembangunan terpusat di Jakarta. Akibatnya daerah-daerah bergolak. Sjafruddin pun tampil memimpin Pemerintahan Revolusioner Re-publik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat (1958-1961), bersama M. Natsir dan Sumitro Djojohadikusumo, yang bertujuan mendesak Presiden Soekarno agar kembali kepada Konstitusi. Pemerintah pusat kemudian menumpas pemberontakan itu dengan kekuatan senjata. Sjafruddin dan Natsir, beserta lawan-lawan politik Soekarno lainnya, ditahan—tanpa proses hukum—sampai lahirnya Orde Baru, 1966. 

Keluar dari Penjara

Toh, keberadaannya di PRRI telah memberi dia penagalaman baru: dia belajar memberi khutbah, dari Buya Malik Ahmad. Ternyata, pengetahuan dan keterampilan-thi berguna ketika ia mendekam di penjara. Di sana ia bersama tokoh-tokoh Masyumi lainnya diminta menjadi khatib Jumat secara bergiliran. Maka tampillah Sjafruddin dengan khutbah-khutbahnya yang merupakan hasil perenungan dia. Berbeda dengan para khatib apologetik yang cenderung menunjukkan keselarasan Islam dengan sistem-sistem modern, Sjafruddin lebih banyak menun-jukkan kelemahan-kelemahan dalam sistem yang ada, khususnya liberalisme, kapitalisme, dan marxisme. Dia memang paham betul dengan dunia modern. 

Sekeluar dari tahanan, Sjafruddin membentuk Himpunan Usahawan Muslimin Indonesia (Husami). Salah satu kegiatannya adalah mengurus pemberangkatan jemaah haji Indonesia. Namun Pemerintah Orde Baru melarang usaha ini karena dianggap menyaingi monopoli pemerintah. Sjafruddin akhirnya mengarahkan kegiatannya ke bidang dakwah. Pada 1983 ia dipilih menjadi ketua umum Korps Muballigh Indonesia (KMI). Walau demikian, perhatiannya kepada perkembangan politik tidak menyurut. Bersama-sama Ali Sadikin dan kawan-kawan ia ikut menandatangani “Pernyataan Keprihatinan” terhadap situasi politik kenegaraan Indonesia selama Orde Baru. Sebuah pernyataan yang kemudian dikenal dengan sebutan “Petisi 50”, sesuai dengan jumlah penandatangannya, yang dianggap begitu keras sehingga ke-50 orang itu dicap pembangkang (dissident). 

Sjafruddin menutup buku kehidupannya yang penuh geliat dan dinamika pada 15 Februari 1989. Ia wafat dalam usia 78 tahun. 

Bersambung

Penulis:  Muhammad Iqbal (saat menulis artikel ini, penulis mahasiswa Program Doktor IAIN Jakarta). Sumber: Panji Masyarakat, 25 Agustus 1997 

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda