Cakrawala

Sekelumit Cerita tentang Kekuasaan dalam Al-Qur’an

Written by Hamid Ahmad

Adalah Raja Namrud dari Babilonia yang punya kekuasaan tak terbatas. Imam Mujahid, yang hidup pada pertengahan abad pertama Hijriah, menyejajarkannya dengan tiga raja-raja lainnya: Nabi Sulaiman, Dzul Qarnain, dan Bukhtanushar. Namrud di puncak kecongkakannya membuat sebuah pengakuan: saya adalah tuhan.

Hatta, setelah Sang Raja membakar Nabi Ibrahim a.s. tapi tak mempan lantaran apinya, berkat pertolongan Allah, berubah sejuk berlangsunglah dialog berikut, sebagai dituturkan Al-Quran (Al-Baqarah: 258). Berkata Namrud: “Cobalah Tuhanmu memberimu kekuasaan (kalau benar ada tuhan selain aku).”

“Tuhanku adalah dzat yang menghidupkan dan mematikan,” jawab Ibrahim.

“Saya pun bisa menghidupkan dan mematikan.” Lantas Namrud memanggil dua orang. Yang seorang dibunuhnya begitu saja, yang lain dia maafkan. “Nah, saya berkuasa mematikan dan menghidupkan, kan?”

“Allah menerbitkan matahari dari timur ke arah barat,” Nabi Ibrahim berkata lagi. Kali ini Namrud diam seribu bahasa. Ia tak sanggup membalik keadaan itu.

Tapi Al-Qur’an juga mencatat Fir’aun, raja yang juga dibuat mabuk kepayang oleh kekuasaan yang tanpa batas di tangannya. Raja Mesir Kuna ini juga mempermaklumkan dirinya tuhan, dan rakyat diharuskan menyembahnya.

Menghadapi kedatangan seorang Musa, yang mulai mengancam kekuasaannya, gusarlah dia, dan diundanglah para petinggi di lingkungan kekuasaannya. “Saudara-saudara, saya tidak tahu ada tuhan selain aku,” katanya. Kemudian dia berpaling kepada tangan kanannya, Haman. “Saudara Haman, bakarlah untukku tanah liat, lalu dirikanlah bangunan yang tinggi supaya aku bisa mencapai langit, lalu melihat tuhan Musa,” katanya. “Saya tetap yakin, ia (Nabi Musa) hanya berbual saja.”

Lain lagi dengan kisah Nabi Sulaiman, yang juga punya kekuasaan luar biasa, bahkan seluruh binatang dan jin tunduk padanya, mungkin sebuah kekecualian.

Suatu hari, ia mendengar laporan dari burung kesayangannya, Hud-hud, bahwa ia telah mendapati seorang ratu bernama Bilqis yang juga memiliki kekuasaan besar. Sayang, ratu itu dan rakyatnya menyembah matahari, kata Hud-hud.

Nabi Sulaiman lantas memerintahkan burung itu untuk membawa suratnya kepada sang ratu. “Bismillahir rahmanir rahim,” tulisnya pada pembukaan surat. “Janganlah Anda melawanku, dan menyerahlah.”

Singkat kata, Ratu Bilqis kemudian memutuskan untuk mengirim hadiah kepada Nabi Sulaiman guna melihat bagaimana reaksinya. Dari situ ia bisa mengetahui apa sebenarnya yang dimaui sang pengirim surat serta mengukur kekuatannya.

“Pulanglah,” kata Nabi Sulaiman kepada utusan Ratu Bilqis, seraya menolak pemberian itu. “Apa yang diberikan Allah padaku masih lebih baik (lebih banyak) dibanding yang diberikan-Nya kepada dia (Bilqis).” Tak cukup dengan itu, Nabi Sulaiman juga membekali sang utusan dengan ancaman. “Kami akan mengirim tentara yang tidak ada bandingannya, dan akan kami keluarkan mereka sebagai orang-orang yang hina.”

Nabi Sulaiman kemudian menggunakan pengaruhnya atas jin Ifrith dan orang pintar. Mereka diperintahkan mendatangkan kursi kebesaran Bilqis secepat mungkin. Hup! dalam sekejap mata, berpindahlah kursi itu ke istana Nabi Sulaiman. Disuruhnya orang untuk mengubah sedikit kursi itu. “Kita lihat, pangling atau tidak dia (Bilqis) nanti,” katanya.

Nah, ketika Bilqis datang ke istana Sulaiman, hatinya benar-benar dibuat tak berkutik. “Apakah ini betul kursi kebesaran Anda atau bukan?” tanya Sulaiman. “Sepertinya ya,” jawabnya ragu. Maka, bukan hanya menyerah, ia pun mengikuti ajaran Sulaiman.

Tahta mestinya berada di tangan orang yang punya kompetensi, dari segi moral maupun yang berkaitan dengan teknik penyelenggaraan. Dan Nabi Yusuf yang merasa memenuhi syarat itu, mengajukan dirinya kepada raja untuk diberi tugas mengatur urusan logistik. “Tempatkan saya di bagian logistik. Saya dapat dipercaya dan cakap,” katanya. Ini bukan sebuah promosi diri seorang ambisius. Ini, seluruhnya, demi kemaslahatan rakyat Mesir yang, waktu itu, bakal menghadapi masa berlimpah tujuh tahun, disusul masa paceklik tujuh tahun serta setahun setelah itu yang diwarnai masa-masa sulit dan gampang secara berganti-ganti seperti diramalkan Nabi Yusuf lewat mimpi sang raja. Nabi Yusuf tahu belaka, dialah yang bisa mengelola logistik negara menghadapi masa-masa itu. “Jika urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat,” sabda Nabi Muhammad SAW.

Arkian, pada suatu masa setelah Nabi Musa a.s. Kemaksiatan merajalela di kalangan Bani Israil, sementara kekuasaan berada di tangan seorang raja yang lalim bernama Jalut (Goliath). Banyak orang yang kembali menyembah berhala. Allah lantas mengirim seorang nabi bernama Syamwil. Kemudian, sejumlah kecil orang yang berhasil diislamkannya memohon kepada Allah agar diturunkan seorang raja yang memimpin mereka berjihad melawan kelaliman, melawan Jalut.

Menanggapi permintaan ini, Allah menunjuk Thalut, seorang yang sama sekali tak diperhitungkan. Thalut? kata mereka terheran-heran. “Bagaimana orang lemah seperti dia miskin dan bukan dari keturunan bangsawan akan dijadikan raja kami? Bukankah kami lebih baik dari dia?” begitu mereka mengajukan protes kepada Syamwil. “Tidak apa,” kata Syamwil. “Allah telah memilih dia.”

Singkat kata, berangkatlah Thalut bersama sekelompok kecil pasukannya. Di tengah jalan, sebagian besar dari mereka tak tahan, dan keluar dari barisan. Meski begitu, pasukan yang semakin kecil ini berhasil menghajar pasukan Jalut yang jauh lebih besar. Bahkan nah ini keajaiban lainnya, sang Jalut yang perkasa berhasil dibunuh oleh Daud yang kecil, salah satu anggota laskar Thalut yang kemudian diangkat jadi nabi.

Begitulah sekelumit cerita-cerita tentang kekuasaan dalam Al-Qur’an. Kitab suci ini sarat dengan cerita-cerita yang menggambarkan betapa di setiap masa Allah selalu menurunkan kekuasaan kepada orang-orang tertentu, untuk melawan kezaliman yang merajalela. Kini, tentu tidak ada raja seperti Nabi Sulaiman, yang punya kekuasaan tapi tidak semena-mena, yang tidak lalim. Masa kenabian memang telah berakhir, dan karena itu tak seorang pun bisa mengklaim dirinya mendapat kuasa dari Tuhan.

Sumber:  Panji Masyarakat,  22 Juni 1997

About the author

Hamid Ahmad

Redaktur Panji Masyarakat (1997-2001). Sebelumnya wartawan Harian Pelita dan Harian Republika. Kini penulis lepas dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur.

Tinggalkan Komentar Anda