Cakrawala

Kisah Nabi Musa Mengungkap Kejahatan

camels at the site of pyramids
Written by Arfendi Arif

Al-Quran adalah wahyu Allah yang membacanya bagi seorang muslim adalah ibadah. Ketika membaca kitab suci ini–setelah  al-Fatihsh–kita disuguhi sebuah surat yang dari judulnya saja sudah menimbulkan daya tarik. Itulah surat al-Baqarah yang artinya sapi betina. Surat al-Baqarah surat yang paling terpanjang dari 7 surat terpanjang dalam Al-Quran yang disebut sab’u at thiwal.  Jumlah ayat surat al-Baqarah 286 ayat.

Kenapa disebut surat al-Baqarah yang artinya sapi betina, karena ada cerita yang di dalamnya mengungkap peristiwa pembunuhan yang terjadi di Bani Israil, yaitu umat Nabi Musa ‘alaihi salam.

Kisahnya terkait soal waris. Diceritakan, seorang Bani Israsil yang memiliki kekayaan cukup besar tidak mempunyai ahli waris yang akan menerima hartanya jika ia meninggal. Satu-satunya yang ada adalah keponakannya. Karena ponakannya ini tidak sabar menunggu pamannya mati, maka pamannya ini dibunuhnya untuk segera dapat meraup hartanya. Begitu mayat yang dibantainya ini tidak bernyawa lagi lalu diletakkannya di sebuah rumah anggota Banii Israil, sehingga menjadi tertuduh. Tentu saja ia menolak dakwaan tersebut. Maka terjadilah kehebohan siapa sesungguhnya pembunuh mayat tersebut.

Karena tidak ditemukan jalan pemecahan untuk mengungkap pelaku pembunuhan tersebut, mereka akhirnya  sepakat menemui Nabi Musa  untuk menanyakannya, sebab Musa selama ini telah menunjukkan banyak mu’jizat mengatasi masalah-masalah besar.

Nabi Musa yang didatangi kaumnya tersebut lalu berdoa kepada Allah untuk mengungkap kasus keji tersebut. Allah menjawab dengan meminta Nabi Musa untuk menyuruh kaumnya memotong sapi  betina. Namun, jawaban Musa ini mereka anggap main-main dan sengaja memperolok,-olok. Menanggapi tudingan tersebut tentu saja Musa sedikit marah. Hal inilah yang dilukiskan dalam Al- Quran:

” Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya,” Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina “. Mereka bertanya,” Apakah engkau akan nenjadikan kami sebagai ejekan?”. Dia (Musa) menjawab,” Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh” (al-Baqarah ayat 67).

Nabi Musa seorang Nabi dan Rasul tentulah tidak main-main menjawab. Jawaban Musa ini sesungguhnya tersirat bahwa merekalah orang yang bodoh dan tidak berilmu sehingga melontarkan keraguan seperti itu. Dan kita tahu, Bani Israil ini meski telah banyak ditolong oleh Nabi Musa, namun mereka masih juga ragu dan tidak mau patuh pada ajaran Nabi Musa.

Selain itu menurut ahli tafsir dengan memerintahkan menyembelih sapi ini  Nabi Musa berharap kepercayaan dan keyakinan mereka yang pernah menyembah sapi yang disesatkan oleh Samiri yang dulu pernah membuat patung sapi, bisa dikikis dengan simbol penyembelihan sapi ini.

Seperti diketahui ketika Nabi Musa menerima wahyu Taurat dari Allah di Bukit Thur selama 40 hari, Samiri seorang pengikutnya memperdaya Bani Israil untuk menyembah patung sapi yang dibuatnya.

Dengan perintah Nabi Musa yang sudah cukup jelas menyuruh menyembelih sapi betina, rupanya Bani Israil mencoba mencari celah untuk menggagalkan dengan banyak bertanya secara mendetil sehingga malah menjadi bumerang buat mereka dengan semakin sulitnya mencari sapi betina yang diperintahkan oleh Nabi Musa. Dialog Nabi Musa dengan Bani Israil terlihat dalam Al-Quran yang menunjukkan betapa Bani Israil ini makin terpojok dan bersusah payah mencari sapi yang dibutuhkan untuk mengungkap pelaku pembunuh tersebut. Kisah itu bisa dicermati dalam surat al-Baqarah berikut.

Mereka berkata,” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang sapi betina itu. Musa menjawab,” Dia (Allah) berfirman bahwa sapi  betina itu tidak tua dan tidak muda, tetapi pertengahan antara itu. Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu” (sl-Baqarah ayat 68).

Mereka bukannya langsung mengerjakan, tapi terus bertanya kembali. Mereka berkata,” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya. Musa menjawab,” Dia (Allah) berfirman bahwa sapi itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, yang menyenangkan orang-orang yang memandangnya “(al-Baqarah ayat 69).

Tidak hanya sampai disitu, mereka terus bertanya. Mereka berkata, ” Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami tentang sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu belum jelas bagi kami dan Jika Allah menghendaki, niscaya kami mendapat petunjuk” (al-Baqarah 70).

Musa menjawab,” Dia (Allah) berfirman, sapi itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, sehat, dan tanpa belang.”Mereka berkata,” Sekarang barulah engkau menerangkan hal yang sebenarnya”. Lalu,mereka menyembelihnya dan nyaris mereka tidak melaksanakan perintah itu” (al-Baqarah ayat 71).

Nyaris tidak bisa melaksanakannya karena betapa sulitnya mencari sapi yang disebutkan oleh Nabi Musa tersebut. Sapi tersebut terpaksa harus dibeli dari  sapi milik seorang  anak yatim yang merupakan peninggalan dari ayahnya yang shaleh dan bertakwa kepada Allah dengan harga yang cukup tinggi.

Lalu pada ayat 72 dan 73 surat al-Baqarah Allah berfirman, ” Dan ingatlah ketika kamu membunuh seseorang lalu kamu tuduh menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kamu sembunyikan ” (al-Baqarah ayat 72).

Lalu Kami berfirman,” Pukullah mayat itu dengan bagian dari sapi itu !”. Demikianlah Allah menghidupkan orang yang telah mati dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasan-Nya agar kamu mengerti” (al-Baqarah ayat 73).

Setelah mayat itu hidup lalu dia memberi tahu orang yang membunuhnya, yaitu keponakannya sendiri, dan tentu saja keponakannya tersebut gagal menjadi waris.

Hikmah

Peristiwa pembunuhan yang diungkapkan dalam kisah Nabi Musa tersebut mungkin bisa dimiripkan dalam konteks sekarang semacam utopsi untuk membuktikan adanya pidana kejahatan. Hanya utopsi atau petunjuk Allah  tersebut hanya bisa dilakukan oleh Nabi atau Rasul sebagai manusia plihan atau kekasih Allah. Dan, rata-rata para Rasul memiliki keistimewaan ini yang disebut mukjizat.

Kemudian dalam peristiwa pengungkapan kejahatan yang dilakukan oleh Nabi Musa ini  dapat juga dipetik pelajaran, bahwa janganlah ada upaya untuk mengulur-ulur atau menunda-nunda penyelidikan suatu kejahatan. Bila sudah ada petunjuk atau bukti-bukti awal harus segera dilakukan segera secara tuntas, sehingga pelaku kejahatannya menjadi terang benderang dan bisa segera diketahui. Jadi tidak ada upaya  untuk menutupinya.

Kisah Nabi Musa mengungkap kasus pembunuhan ini meski peristiwanya sudah ribuan tahun lalu,  namun secara universal ia bisa berulang dalam konteks zaman sekarang dengan bentuk dan cara yang berbeda.

Pengulangan peristiwa akan selalu terjadi dalam kehidupan ini. Itulah yang disebut sejarah akan selalu berulang.

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda