Cakrawala

Antara Masjid  dan Pusat Pertokoan (1)

Beberapa teman saya, secara berkelakar tentu saja, sering menjuluki masjid besar baru yang megah di kota saya sebagai shopping center, atau di lain waktu mereka menjulukinya super market. (Kalau sekarang mungkin mal, red). Alasannya sederhana saja: masjid itu belum punya menara. Lagi pula, bentuknya inkonvensional, sehingga dari jauh tampak seperti pusat pertokoan. Maklum saja, teman-teman ini memang mahasiswa seni rupa. Janganlah heran kalau mereka sering menggerutu tentang komposisi warna dan bentuk masjid itu yang terasa mentah.

Mungkin teman-teman ini mengada-ada . Mungkin pula sekadar iseng. Tapi bagi saya, gurauan itu menumbuhkan suatu kesadaran yang lain, yang tentu saja muncul dari dataran pemikiran yang sama sekali lain dengan dataran pemikiran yang dipakai teman-teman tadi untuk mengkritik bentuk fisik masjid besar di kota saya. 

Dasar dataran pemikiran saya itu sederhana: masjid boleh dikatakan sebagai jantung umat Islam. Oleh karena itu, penampilannya bisa diambil sebagai salah satu cermin dari kecenderungan umat. Nah, di dalam konteks inilah, gurauan “shopping center” atau “super market” teman-teman saya tadi mendapatkan formatnya yang baru. Format sebuah peta kondisi-kondisi umat Islam. Peta yang diharapkan dapat menunjukkan jalan untuk mengerti arah orientasi umat, sekaligus memberi gambaran tentang struktur yang melatarbelakanginya.

Masjid dan shopping center adalah dua lembaga yang mewakili dua struktur pemikiran yang berbeda. Shopping center mewakili image sebuah lembaga sekuler,  kapitalistik, materialistik, dan kini juga dapat dipakai sebagai barometer kecenderungan hedonistik masyarakat. Sedangkan masjid menumbuhkan citra tentang sebuah lembaga yang sakral, yang cenderung berorientasi kepada masalah-masalah spiritual dan sosial. Tapi benarkah pembedaan ini masih dapat dipertahankan secara empiris saat ini?

Saya agak meragukannya. Bagaimanapun, keterlibatan kaum muslimin dalam pola-pola hubungan sosial yang baru, yang tumbuh dan dibawa modernisasi masyarakatnya, tentu akan membawa perubahan yang tak kecil dalam sikap dan orientasi-orientasi hidup mereka. Dan, kalau ini benar-benar telah melanda umat Islam, maka kita akan dapat melihatnya dari pola-pola dn sikap-sikap mereka dalam memperlakukan lembaga-lembaga agama. Apakah umat Islam berhasil mengatasi konflik psikologis yang tumbuh dari jumbuhnya dua struktur masyarakat sekaligus, yaitu struktur masyarakat Islam tradisional yang mereka warisi dan struktur masyarakat modern yang dibentuk oleh proses modernisasi? Atau mereka hanya sekadar menempelkan lembaga-lembaga keagamaan Islam ke dalam struktur masyarakat modern yang tidak islami ini? Kalau demikian halnya, konflik psikologis ini bukannya teratasi, tapi sebaliknya malah memperluas jangkauannya sampai akar-akar kehidupan individual umat Islam. Dalam keadaan yang macam ini, ambivalensi sikap merupakan fenomena yang jamak ditemukan dalam masyarakat.

Ambivalensi yang muncul dari keraguan dalam menentukan sikap yang jelas, dan kegagalan mereka dalam merumuskan alternatif. Dengan cara ini, dapatkah kita menyebut masjid sebagai sekadar wakil fisik belaka dari Islam, sedangkan nilai-nilai, orientasi-orientasi, dan struktur yang bercokol di dalamnya sama sekali jauh dari nilai-nilai keislaman? Atau dengan kata lain, kita dapat menyebut masjid sebagai monumen mati, tak berjiwa dan kehilangan fungsi sosialnya dalam masyarakat Islam dewasa ini. Dengan demikian, ia pun gagal untuk dijadikan basis mendinamisasikan kehidupan masyarakat Islam. Selama ini konflik-konflik ini memang cukup bisa diredam, disembunyikan di balik gemerlapnya slogan-slogan kebangkitan Islam. Namun suatu saat ia akan muncul ke permukaan menghantam kita.

Bersambung Sumber: Panji Masyarakat, 21 Februari 1985.

About the author

Anis Sholeh Ba'asyin

Budayawan, lahir di Pati, 6 Agustus 1959. Aktif menulis esai dan puisi sejak 1979. Tulisannya tersebar di koran maupun majalah, nasional maupun daerah. Ia aktif menulis tentang masalah-masalah agama, sosial, politik dan budaya. Di awal 1980an, esai-esainya juga banyak di muat di majalah Panji Masyarakat. Pada 1990-an sempat istirahat dari dunia penulisan dan suntuk nyantri pada KH. Abdullah Salam, seorang kiai sepuh di Kajen - Pati. Juga ke KH. Muslim Rifai Imampuro, Klaten. Sebelumnya 1980an mengaji pada KH. Muhammad Zuhri dan Ahmad Zuhri serta habib Achmad bin Abdurrahman Al Idrus, ahli tafsir yang tinggal di Kudus. Mulai 2001 kembali aktif menulis, baik puisi maupun esai sosial-budaya dan agama di berbagai media. Juga menjadi penulis kolom tetap di beberapa media. Sejak 2007 mendirikan dan memimpin Rumah Adab Indonesia Mulia, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pendidikan non formal, penelitian, advokasi dan pemberdayaan masyarakat. Karya lainnya, bersama kelompok musik Sampak GusUran meluncurkan album orkes puisi “Bersama Kita Gila”, disusul tahun 2001 meluncurkan album “Suluk Duka Cinta”. Sejak 2012, setiap pertengahan bulan memimpin lingkaran dialog agama dan kebudayaan dengan tajuk ”Ngaji NgAllah Suluk Maleman” di kediamannya Pati Jawa Tengah mengundang narasumber tokoh lokal maupun nasional.

Tinggalkan Komentar Anda