Cakrawala

Mahalkah Pendidikan Di Pesantren?

Written by Saeful Bahri

Sebuah media online merilis infografik tentang tiga pesantren termahal di Indonesia. Entah, bagaimana cara pewartanya  menyimpulkan tiga pesantren yang dimaksud sebagai yang termahal. Barangkali sekenanya saja dengan perspektif angka-angka yang ada dalam pikirannya. Berita tersebut memantik beragam komentar. Salah satunya komentar warganet yang mengatakan,  “mahal darimana, biaya masuk SD saja ada yang sampai 30 juta rupiah” katanya.  Seorang warganet yang kebetulan anaknya sedang belajar di pesantren yang disebut sang pewarta berkomentar,”engga sih, biaya itu murah dan terjangkau” katanya.

Benarkah biaya pendidikan di pesantren mahal?

Mahal atau murah tentunya relatif. Jika diumpamakan dengan barang. Biasanya semakin bagus kualitas suatu barang, pastinya harganya tidak murah. Semakin rumit pembuatan suatu benda, biasanya setelah jadi, dijual dengan harga yang tinggi. Begitu logika pasar yang terjadi. Seseorang yang tidak punya kemampuan finansial yang cukup untuk membeli suatu barang, cenderung mengatakan barang itu mahal. Ada pula yang mengatakan, harga tidak pernah bohong.

Membandingkan biaya hidup di pesantren dengan suatu barang tentunya tidak sepadan. Not apple to apple. Pesantren adalah lembaga pendidikan. Tempat di mana seorang santri dididik selama 24 jam. Ditempa dengan beragam kegiatan untuk membentuk jasmani dan ruhaninya. Pikiran, wawasan, dan hatinya.  Mereka menetap di dalam asrama dengan segala aktifitas yang membutuhkan pembiayaan. Seperti sebuah rumah besar yang dihuni oleh banyak orang. Intinya,  di pesantren ada biaya yang bisa dihitung dan tidak bisa dihitung. Ada yang bisa dirupiahkan ada yang tidak bisa dirupiahkan. Saya akan ajak Anda mencermati biaya hidup di pesantren.

Berapa iuran bulanan di pesantren? mungkin antara 1 sampai 1,5 juta rupiah. Bahkan banyak pesantren yang biayanya per bulan di bawah 1 juta rupiah. Mari kita hitung. Iuran itu biasanya sudah mencakup semua kebutuhan santri (all in). Antara lain untuk biaya makan, listrik, air,  laundry, asrama, pendidikan, dan kesehatan selama satu bulan. Jika 1 juta rupiah dibagi 30 hari maka biaya hidup seorang santri di pesantren sekitar Rp. 33.000 perhari. Biaya-biaya itu semua dinikmati oleh santri, makan 3 kali, kesehatan, bahkan ada yang termasuk biaya laundry. Jangan lupa mereka dididik dan dibekali pengetahuan oleh guru.

Kalau dari biaya Rp 1 juta rupiah dialokasikan untuk biaya makan santri Rp 450.000 ribu per bulan, itu artinya rata-rata biaya sekali makan sekitar Rp 5000. Total untuk 3 kali makan Rp. 15.000. Kira-kira kalau kita makan di warteg dengan uang Rp 5000 bisa makan pakai lauk apa? Tapi faktanya, dengan jumlah yang minim itu tidak ada santri di pesantren yang makan tanpa lauk. Kalau kemudian lauknya sangat sederhana semacam tahu, tempe, telur itu bagian dari proses pendidikan kesederhanaan dalam soal makanan. Pesantren bisa saja realistis untuk mematok biaya makan dengan harga tinggi. Siakan dihitung jika sekali makan Rp 15000. Tapi nyaris tidak dilakukan oleh para kiai. Lalu bagaimana mengatur biaya yang minim itu? Para kiai biasanya sangat percaya dengan konsep berkah.

Ada seorang kiai yang menasehati wali santri untuk jangan merasa telah membayar. Karena bayarannya yang mereka keluarkan tidak sebanding dengan kenyataan yang ada di lapangan. Pasalnya di balik angka-angka itu ada sisi lain lain yang tidak bisa dihitung dengan angka, yaitu pelimpahan amanat, peralihan tanggung jawab, dan rasa aman. Tiga hal tersebut tidak bisa dirupiahkan.

Bukankah banyak orang tua yang melimpahkan anaknya ke pesantren karena ancaman negatif di lingkungan rumahnya? Bahkan ancaman itu semakin dekat, ia masuk ke kamar, ruang tamu, ruang keluarga, sampai semua sudut yang ada di rumah. Ancaman itu ada dalam genggaman tangan anak-anak, handphone misalnya.

Berapa banyak ayah ibu di rumah yang meluapkan emosi dan memarahi anaknya yang asyik dengan handphone tapi susah disuruh shalat atau membaca al-Qur’an.  Belum lagi pergaulan yang bisa merusak akhlaknya. Jujur saja berapa banyak orang tua dengan terpaksa  menitipkan anaknya di pesantren karena tak sanggup mendidik anak-anaknya. Daripada marah-marah lebih baik mereka masuk pesantren.

Di pesantren, kiai dan guru berperan tidak hanya sebagai guru yang menambah isi otaknya, tapi juga mendidik, mengasah hati, dan jiwa santri agar halus perangai dan budi pekertinya. Peran inilah yang tidak bisa dihitung dengan angka-angka.

Sebagai orang tua, hendaknya menjaga keikhlasan kiai dan guru-gurunya. Bangun sinergi dan silaturahmi dengan mereka. Tunaikan kewajiban yang menjadi hak pesantren. Berikan apa yang menjadi hak anak Anda. Semua biaya hidup di pesantren itu untuk anak Anda. Bukankah kewajiban orang tua menafkahi anaknya?

Bersyukurlah ketika anak Anda berada di pesantren. Ibadah dan belajar mereka terbimbing dan terawasi. Sekali lagi, mendidik anak pesantren adalah mengajarkan mereka hidup mandiri dan bersahaja. Anak akan beralih dari pola hidup serba dilayani menjadi pelayan dirinya sendiri. Ini penting untuk kehidupan mereka di masa yang akan datang. Agar mereka kelak menjadi anak yang kuat dan bermanfaat.

Mari bantu pesantren. Lembaga pendidikan ini membantu orangtua memecah problematika mendidik anak di zaman milenial. Untuk kalangan pesantren, mari kita jaga amanat orang tua yang menitipkan anaknya untuk dididik di pesantren sebaik-baiknya. Sekali lagi mahal atau murah itu relatif. Kalau ternyata memang mahal, wajar. Karena itu semua untuk anak-anak kita. Dan ingat, tidak ada pesantren yang dibangun oleh negara.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda