Cakrawala

Robohnya Pesantren Kami

Written by Saeful Bahri

Harus diakui bahwa pesantren tidak hanya menyandang label sebagai pendidikan tertua dan berwatak pribumi. Lebih penting dari itu, pesantren telah memberikan kontribusi nyata dan peran yang signifikan sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia. khususnya sebagai benteng moral dan tempat untuk tafaquh fiddin (kajian agama).

Lembaga pendidikan pesantren memiliki kekhasan sendiri yang tidak dimiliki model pendidikan lain. Seperti madrasah atau sekolah. Bahkan, pesantren punya  rukun sendiri. Tidak sah atau tidak bisa disebut pesantren jika salah satu rukunnya tidak terpenuhi. Rukun-rukun itu salah satunya adalah keberadaan seorang kiai.

Kiai menjadi pemeran utama. Alur cerita sebuah pesantren dilihat dari ketokohan sang kiai. Ia menjadi magnet yang menarik orang datang kepadanya untuk menimba pengetahuan agama. Kiai sendiri adalah sosok yang punya kharisma dan kapasitas pengetahuan agama yang mumpuni. Menjadi rujukan masyarakat dalam segala urusan. Tidak hanya urusan agama tapi juga urusan sosial bahkan politik.

Pesantren dengan segala dinamikanya patut diapresiasi. Bagaimana bisa model pendidikan Islam ini masih bisa bertahan, tak tergerus oleh perkembangan dan perubahan zaman.  Setiap tahun ada saja pesantren baru yang berdiri. Meski tak bisa dimungkiri banyak juga pesantren yang bangkrut. Sirna tertelan zaman. Tinggal cerita dan namanya saja.

Cerita yang memilukan tentang pesantren juga banyak. Kisah yang paling pedih adalah saat kita jumpai sebuah pesantren yang tadinya maju dan berkembang terpaksa harus bubar. Tidak seperti sekolah pada umumnya, pesantren maju dan berkembang atas dasar kepercayaan masyarakat. Maka, biasanya yang menjadi rujukan seorang santri atau orang tuanya, bukan dimana lokasi pesantrennya, tapi siapa kiainya.

Sikap percaya itulah yang menjadi tolak ukur maju dan berkembangnya sebuah pesantren. Dengan sendirinya, tugas berat pesantren adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadapnya. Sebab kepercayaan seperti barang pecah. Jika terlanjur pecah sulit dikembalikan seperti semula. Krisis kepercayaan terhadap sebuah pesantren yang menyebabkan keruntuhannya antara lain:

Kegagalan Regenerasi

Sebab, pesantren mengandalkan kepada ketokohan kiai. Sementara kiai juga manusia yang pasti menjemput ajalnya. Tidak sediki pesantren bubar karena ketiadaan kiainya. Sementara sang kiai tidak menyiapkan kader sebagai generasi pelanjutnya. Kegagalan menyiapkan kader ini karena sejatinya kader terbaik itu ada pada keturunannya. Karena pesantren pada umumnya nyaris mirip dengan sebuah kerajaan yang diwarisi turun temurun. Sementara tidak mesti pasti keturunannya seperti orang tuanya. Karena itulah untuk menjaga kesinambungan para kiai mengambil langkah antisipatif dengan menikahkan putra atau putrinya dengan anak kiai yang lain. Atau mendidik anaknya untuk mempelajari ilmu agama secara serius dan mendalam.

Konflik Internal

Cukup banyak terjadi kasus keruntuhan pesantren karena sebab di atas. Semacam ada perebutan pengaruh atau kekuasaan di antara keluarga.  Hal ini sedikit banyak disebabkan faktor pertama di atas. Tidak hanya pesantren yang statusnya miliki keluarga saja. Pesantren dengan status wakaf saja tidak serta bebas dari konflik dan ketegangan yang menyebabkan terjadinya krisis kepercayaan dari masyarakat.

Kiai Tersangkut Hukum

Kalau ada seorang kiai yang berbuat baik dalam pandangan orang adalah hal yang biasa. Tapi jika seorang kiai bersikap sebaliknya stigma buruk atas dirinya teramat keras. Sudah barang tentu pesantrennya ikut terbawa stigma buruk. Kepercayaan terhadap pesantren dengan sangat cepat terjun bebas. Apalagi jika kasus hukumnya karena asusila atau terlibat korupsi.

Mengabaikan Legal Formal

Faktor ini biasanya terjadi ketika pesantren yang dibangun kiai atas bantuan seseorang dalam bentuk wakaf atau hibah sebidang tanah. Karena baik sangka  dan saling percaya, kiai mengabaikan soal-soal administratif yang berkaitan dengan status legal formal akte wakaf atau hibah. Seiring waktu berjalan pemberi bantuan atau keturunannya menyoal status lahan tersebut. Memang tidak terlalu mecederai namai baik kiai seperti faktor sebelumnya.

Faktor-faktor di atas dapat kita jumpai kala menemukan alasan mengapa pesantren bubar. Sebuah ironi yang memilukan karena terjadi pada sebuah lembaga pendidikan yang menjadi garda moral dan karakter generasi masa depan. Apa kata orang jika di dalam tubuh pesantren ada perseteruan kekuasaan. Pilu hati jika membaca berita ada praktek-praktek asusila atau pelanggaran hukum yang dilakukan seorang  kiai atau guru- gurunya.

Adapun sebab-sebab kemajuan sebuah pesantren adalah antitesis dari faktor-faktor keruntuhannya. Ditambah dengan manajemen yang kuat dan solid. Mandiri, kaderisasi yang efisien dan sistematis. Dan responsif terhadap perubahan. Juga menjaga nilai-nilai moral dan spiritual.

Pesantren yang masih tegak berdiri patut belajar dari pengalaman-pengalaman yang menyebabkan keruntuhan pesantren. Lembaga pendidikan Islam ini harus terus tegak sampai dunia berakhir. Karena sesungguhnya keruntuhan pesantren lebih banyak disebabkan oleh faktor internal ketimbang eksternal. Pesantren harus berbenah agar tidak punah. Harus terus berinovasi agar tidak mati. Harus terus berkembang agar tidak tumbang. Seperti falsafah yang sering kita dengar di pesantren, ”mempertahankan tradisi lama yang masih baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik”.

About the author

Saeful Bahri

Alumni dan guru Pondok Pesantren Daar el Qolam, Tangerang, Banten. Pernah belajar di UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten, Universitas Indonesia, dan Universiti Kebangsaan Malaysia. Selain mengajar di almamernya, ia juga menulis beberapa buku di antaranya Lost in Pesantren (2017), 7 Jurus Betah di Pesantren (2019), yang diterbitkan Penerbit Republika Jakarta.

Tinggalkan Komentar Anda