Adab Rasul

Adab Terhadap Rasulullah SAW

a woman in blue hijab
Written by Iqbal Setyarso

Ada tiga adab terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Setiap muslim dituntut agar mengagungkan dan memuliakan Rasulullah SAW dengan adab yang tinggi.

“Beliau SAW adalah anugerah. Beliau membacakan ayat-ayat Allah Ta’ala. Wajib bagi setiap muslim mencintai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tiga adab terhadap Rasulullah SAW:

1. Adab qalbi, yaitu adab dari hati. Ini puncak dari segala adab.

2. Adab qauli, adab yang menyangkut ucapan kita. Setiap muslim wajib menjaga ucapannya terkait Rasulullah SAW.

3. Adab amali, adab yang berhubungan dengan tubuhnya. Setiap muslim dianjurkan untuk melaksanakan segala sunnahnya.

Tentang itu, Imam Ibnu Katsir pernah berkata: “Dimakruhkan meninggikan suara di makam Rasulullah sebagaimana saat hidupnya.”

Dikisahkan, ada dua orang di masa Umar bin Khatthab r.a. meninggikan suaranya di Masjid Nabawi. Lalu Umar berkata kalau kalian penduduk Madinah akan kuhajar karena ini masjidnya Rasulullah SAW.

Ada sahabat yang suaranya memang tinggi saat berbicara.

Ketika turun ayat yang melarang  meninggikan suara melebihi Rasulullah SAW, seorang sahabat  memilih dia dalam rumah. Nabi Muhammad SAW merasa kehilangan sahabatnya itu. Nabi berkata ,”Ditanya, di mana dia.”

Sahabat menjawab,“Dia di rumah takut suaranya lebih tinggi.”

Lalu Rasulullah mengutus sahabat untuk memanggil orang itu. Orang itu merasa amalnya sudah rusak karena suaranya yang tinggi. Lalu dikatakan kepadanya bahwa dia ahli surga, maukah kamu masuk surga? “Iya,  ya Rasul,” jawabnya. “Nanti aku doakan kamu mati syahid dan masuk surga,” kata Nabi. Akhirnya dia mati syahid dan masuk surga sesuai janji Rasulullah SAW.

Allah Ta’ala mengagungkan Nabi Muhammad SAW tidak pernah memanggil Nabi dengan namanya. Bahkan, Allah Ta’ala mengagungkan Nabi Muhammad SAW dengan bersumpah atas umur Nabi Muhammad SAW.

Umar bin Khatthab dikenal tegas dan keras terhadap segala kemungkaran. Ketika berbicara di dekat Nabi Muhammad SAW dia tak berani meninggikan suaranya hingga sahabat lain tak mendengar pembicaraannya.

Abu Ja’far pernah berdebat dengan Imam Malik di Masjid Nabawi. Lalu ditegur sama Imam Malik tidak boleh meninggikan suara di Masjid Rasulullah, lalu Abu Ja’far langsung diam. Sahabat kalau menyampaikan hadis Rasulullah tidak dalam keadaan berdiri, tidak dalam perjalanan, dan dalam selalu dalam keadaan berwudhu.

About the author

Iqbal Setyarso

Wartawan Panji Masyarakat (1997-2001). Ia antara lain pernah bekerja di Aksi Cepat Tanggap (ACT), Jakarta, dan kini aktif di Indonesia Care, yang juga bergerak di bidang kemanusiaan.

Tinggalkan Komentar Anda