Cakrawala

Mencemaskan Masa Depan Penerus Generasi Intelektual Minang

gray newton s cradle in close up photogaphy
Written by Arfendi Arif

Hanya dalam jarak 5 hari telah  berpulang ke rahmatullah dua orang tokoh Indonesia yang berasal dari ranah Minang, yaitu pada 22 Mei wafat Prof. Dr. Fahmi Idris politisi yang juga pengusaha dan mantan aktifis 66 dalam usia 79 tahun. Kemudian pada 27 Mei wafat pula Syafii Maarif intelektual dan pemikir Islam terkemuka  dalam usia 87 tahun.

Berpulangnya Buya Syafii Maarif kehariban-Nya semakin menambah jumlah intelektual asal Minang yang meninggal dunia. Sebelumnya telah meninggal Prof. Arbi Sanit pada 25 Mei 2021 dalam usia 82 tahun. Kemudian Dr. Mochtar Naim meninggal psda 15 Agustus 2021 dalam usia 89 tahun. Sebelumnya telah dipanggil Allah pula Dr. Deliar Noer pada 18 Juni 2008 pada usia 82 tahun. Jauh sebelumnya juga telah wafat Dr. Alfian pada 25 November 1992 dalam usia 52 tahun dan Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar yang wafat dalam usia 61 tahun  pada 18 Desember 1995.

Mereka ini adalah intelektual yang  namanya  cukup harum dan  pakar yang mumpuni di bidangnya. Secara akademis mereka bergelar doktor dan profesor atau guru besar. Mereka semua menikmati pendidikan bukan hanya  dalam negeri di universitas ternama, juga pendidikan di luar negeri di universitas bergengsi. Mereka juga produktif dalam melahirkan tulisan, baik berupa buku maupun artikel yang mengulas berbagai masalah sosial, politik dan budaya. Mereka menjadi nara sumber utama  media besar nasional untuk mencerahkan masyarakat.

Buya Syaafi Maarif adalah ahli sejarah dengan bidang studi sejarah Asia Tenggara  dan Timur Tengah di Ohio University dan Ph.D dari University of Chicago, kedua gelar ini  dari Amerika Serikat. Sementara  Deliar Noer spesialisasinya studi politik Asia Tenggara dan mendapat gelar MA dan Ph.D dari Cornell University.

Kemudian Dr. Alfian dan Arbi Sanit sama-sama ahli politik. Alfian ahli politik yang memperoleh MA dan Ph.D dari  Universitas Wisconsin. Sementara Arbi Sanit pakar di bidang sistem politik yang melakukan studi bebas  tentang Sistem Politik Indonesia di Universitas  Wisconsin Amerika Serikat tahun 1973-1974.

Selanjutnya Dr. Muchtar Naim adalah ahli antropologi yang memperoleh MA dari McGill University dengan tesis” The NU Party ( 1952-1955 )” : “ An Inquary into the Origin of its Electoral Success”. Sedangkan gelar doktor diperoleh dari University of Singapore dengan judul ” Merantau Minangkabau Voluntary Migration “.

Sementara Harsya Bachtiar adalah ahli sejarah dan sosiologi yang memperoleh gelar sarjana dari Universitas Amsterdam (Belanda),  kemudian MA dan Doktor masing-masing dari Cornell University dan Harvard University, keduanya dari perguruan tinggi Amerika Serikat.

Yang masih berkiprah

Di antara intelektual asal Minang yang masih berkiprah saat ini,ada beberapa orang. Mereka juga orang yang dinilai mumpuni dan ahli di bidangnya, di antaranya Prof. Dr.Emil Salim, Prof. Dr. Taufik Abdullah dan Prof. Dr. Azyumardi Azra.

Profesor Emil Salim seorang ekonom senior yang sejak masa Orde Baru hingga kini keahliannya masih dibutuhkan. Pada era Orde Baru ia menjabat tiga kali menjadi menteri dan memimpin departemen yang berbeda. Emil Salim juga adalah tokoh internasional yang kepakarannya selain di bidang ekonomi, juga lingkungan hidup. Ia banyak menduduki posisi penting di bidang ekonomi dan perencanaan pembangunan di negara kita sejak awal Orde Baru hingga sekarang, sebagai penasehat ekonomi yang keahliannya sangat dibutuhkan.  Emil Salim adalah alumnus MA dan Doktor dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Ia pernah menjabat Dewan Pertimbangan Presiden (2010-2014). Emil Salim kini berusia 92 tahun.

Taufik Abdullah adalah sejarawan senior yang perhatiannya total ke bidang keilmuan,  terutama sejarah yang menjadi keahliannya. Ia pernah menjadi Kepala LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada 2000-2002. Tamat dari Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada tahun 1962, kemudian melanjutkan hingga meraih doktor   dengan spesialisasi Sejarah Asia Tenggara di Cornell University tahun 1972. Tulisannya tersebar di penerbitan dalam dan luar negeri. Taufik Abdullah kini berusia 86 tahun.

Profesor Azyumardi Azra tergolong yang masih muda dibanding dua orang di atas. Kini berusia 67 tahun dan masih aktif menjabat. Baru saja terpilih sebagai Ketua Dewan Pers Pusat. Sekarang menjabat Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebelumnya, ia adalah Rektor IAIN  Jakarta menjabat selama dua periode, 1998-2002 dan 2002-2006. Di masa Azyumardi lah IAIN berubah menjadi UIN pada Mei 2002.

Azyumardi Azra tamat dari Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta tahun 1982,  kemudian dengan beasiswa Fulbright Scholarship  melanjutkan studi Columbia University, New York, Amerika Serikat, dan memperoleh gelar MA pada Departemen Bahasa dan Budaya Timur Tengah.

Kemudian di kampus yang sama ia juga memperoleh gelar MA pada Departemen Sejarah pada tahun 1990. Dan, gelar Ph.D pada tahun 1992 dengan desertasi berjudul, “ The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Networks Of Middle Eastern and Malay Indonesian ‘ Ulama ‘ in the Seventeeth and Eighteenth Centuries” diraih di kampus ini juga.

Ayah empat anak ini adalah seorang ilmuan bertaraf Internasional. Azyumardi,  hampir tiap bulan ke luar negeri menghadiri seminar, konfrrensi , dialog dan lainnya, dimana ia adalah anggota organisasi keilmuan tingkat dunia. Kepakarannya sangat diperhitungkan sehingga layaknya dubes keliling dunia. Oleh pemerintah Inggris ia diberi gelar CBE, Commander of the Order of British Empire, yaitu gelar kehormatan tertinggi yang diberikan Ratu Inggris. Sebab, Azyumardi, yang telah menulis puluhan buku ini, dinilai berjasa sebagai salah satu tokoh pembentukan UK Indonesia Islamic Advisory Group (UK Indonesia AIG) yang bertugas meningkatkan kepahaman Islam di antara kedua negara. Dan, Azyumardi adalah orang pertama di Indonesia dan negara non- persemakmuran yang dapat gelar tersebut. Dengan anugerah tersebut Azyumardi berhak memakai gelar Sir dan mendapatkan hak istimewa antara lain berhak dimakamkan di Inggris kalau mau, dan bisa bepergian ke Inggris bolak balik tanpa visa.

Tentu masih ada intelektual Minang yang lain masih berkiprah, yang tidak mungkin disebut satu-persatu seperti penyair Taufiq Ismail dan Fadli Zon, yang juga berasal dari ranah Minang.

Regenerasi pemikir Minang ke depan

Bagaimanakah regenerasi pemikir Minang ke depan. Siapakah pengganti mereka yang telah berusia lanjut tersebut sehingga ada penerusnya?

Sejarah munculnya kaum intelektual Minang, termasuk para ulama yang dilahirkan sejak abad 19 dan mereka yang dilahirkan era akhir runtuhnya penjajahan Belanda dan masuknya  penjajahan zaman Jepang, boleh dikatakan mereka memiliki  idealisme yang tinggi. Mereka menuntut ilmu bukan semata demi karir, tapi juga untuk berbakti ke masyarakat dan bangsa untuk meraih cita-cita kemerdekaan. Atau bagi ulama untuk berdakwah meningkatkatkan kualitas pemahaman keislaman masyarakat dan pengamalannya. Motivasi kesadaran tersebut  mendorong mereka menuntut ilmu ke mancanegara. Kalau ulama umumnya mereka belajar ke Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya, seperti Mesir. Sedangkan mereka dari latar belakang non-agama mereka belajar ke Belanda, negara induk jajahan.

Karena itu para intelektual Minang yang lahir di era-era tersebut punya kepedulian yang tinggi ke masyarakat, punya kepedulian membangun masyarakat dan menyalurkan harapan-harapan dan keinginan umat.  Tentu, sebagian kepedulian ini juga dimiliki para intelektual yang lahir tahun-tahun 40-an, 50-an dan awal-awal lahirnya orde baru.

Namun, di sini munculnya intelektual Minang yang dikenal di panggung pemikiran nasional dan internasional merupakan suatu   yang spesifik dan tidak semua bisa meraihnya. Tampaknya, figur yang seperti inilah yang belum banyak lahir sekarang ini. Sehingga suatu keprihatinan  peran tokoh-tokoh yang telah meninggal ini dan yang masih hidup dengan usia yang telah sepuh tersebut belum ada yang nampak mampu  menggantikan reputasi mereka.

Secara kuantitas dan kualitas tentu mereka ada  yang belajar di perguruan tinggi baik dalam negeri maupun di luar negeri, namun saat ini tidak semua mampu mengikuti jejak intelektual pendahulu mereka baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup . Bisa saja idealisme generasi sekarang ini telah berubah, karena tawaran profesi yang lebih beraneka ragam dalam masyarakat  yang itu mungkin menjanjikan dari segi materil dan kehidupan. Sementara soal idealisme dan berbuat bagi kemaslahatan masyarakat bukan lagi suatu cita-cita utama sebagaimana di era perjuangan kemerdekaan. Meskipun sebenarnya  suatu perjuangan kebaikan itu akan selalu ada di setiap zaman dengan bentuk dan corak yang berbeda. Soalnya, apakah itu suatu pilihan hidup di generasi milenial sekarang ini?

About the author

Arfendi Arif

Penulis lepas, pernah bekerja sebagai redaktur Panji Masyarakat, tinggal di Tangerang Selatan, Banten

Tinggalkan Komentar Anda