Tasawuf

Meluruskan Salah Paham terhadap Zuhud (3)

Written by Panji Masyarakat

Dalam sejarah kita mengenal Hasan Al-Bashri seorang tokoh sufi terkenal. Dia dalam kehidupan zuhud mendasarkan diri pada khauf dan raja’. Menurut dia antara khauf dan raja’ tak dapat dipisah-pisahkan. Dengan prinsip tersebut ternyata banyak generasi yang mengikutinya.

Dalam masalah zuhud, Rabi’ah Al-Adawiyah mendasarkan diri pada  “cinta”. Sebab cinta yang suci murni kepada Tuhan tak mengharapkan apa-apa. Baginya, soal surga dan neraka adalah nomor dua bukan persoalan lagi, tetapi cinta kepada Tuhan adalah nikmat yang paling lezat.

Pada suatu hari Sufyan bertanya kepada Rabi’ah tentang hakikat imannya. Lalu dinyatakan keputusan:

“aku bukan menyembah-Nya karena takut neraka-Nya, dan bukan karena ingin surga-Nya, sehingga perangiku tak ubahnya dengan seorang penerima upah yang jahat. Tetapi aku menyembah-Nya adalah semata-mata karena cinta kepada-Nya dan rindu-dendam yang tak habis-habis”.

Menurut Harun Nasution, zuhud adalah keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sedangkan menurut Abu al-Qasim Abd al-Karim Hawazan al-Qusyairy,  yang disadur Romdon,  zuhud adalah membelakangkan atau menjauhkan diri dari kehidupan duniawi dengan segala aspeknya, yang oleh Romdon dimasukkan dalam bentuk mortification (penyiksaan diri). Berbeda dengan Al-Ghazali, yang dinukil oleh H.M. Asjwadie Sjukur, yang menyatakan bahwa zuhud adalah mengurangi keinginan kepada dunia, dan menjauh dari padanya dengan penuh kesadaran dan dalam hal mungkin dilakukan.

Dalam masalah ini, saya kurang sepakat dengan pengertian zuhud yang disampaikan oleh Harun Nasution dan Abu al-Qasim, begitu juga Romdon dalam soal mortification.  Saya lebih cenderung dengan pengertian yang disampaikan oleh Al-Ghazali. Menurut saya kata “meninggalkan” berarti memisahkan diri, kalau manusia memisahkan diri dari dunia, ini tak mungkin terjadi sebab dunia itu kompleks. Begitu juga menjauhkan diri dari kehidupan duniawi  dengan segala aspeknya. Kata-kata yang tepat adalah mengurangi keinginan kepada dunia.

Kalau zuhud dimasukkan salah satu bentuk mortification (penyiksaaan diri), maka saya kurang sepakat sebab zuhud itu tidak harus dengan menyiksa. Dalam zuhud itu tidak ada unsur penyiksaan. Kalau zuhud itu merupakan penyiksaan diri, berarti Rasulullah dan para sahabat itu juga menyiksa diri

Zuhud dalam Muslim Modern

Akhir-akhir ini mulai mengalir deras modernisasi terutama di negara Barat, tetapi juga banyak dari mereka yang ke luar untuk mencari penenteram  hati. Hal ini terjadi karena mereka terbentur dengan kebingungan akibat modernisasi. Kemudian mengembara mencari pandangan hidup yang lebih sesuai dengan hakikat kemanusiaannya. Setelah menelusuri sejarah kehidupan manusia, akhirnya diketemukan prinsip-prinsip hidup yang sesuai dengan fitrah manusia yang terdalam. Yaitu hidup yang bersandarkan pada persatuan Theosentris dan Anthroposentris, dengan kata lain “menuju modernitas dari pancaran religius”.

Dimensi tasawuf yang berpangkal pada zuhud inilah yang dapat menghayati agama secara esensial, dan dapat terefleksi pada moral dan akhlak manusia, apalagi di alam modern seperti sekarang. Sesungguhnya, nilai manusia itu terletak pada moral dan akhlaknya, tanpa moral dan akhlak manusia tidak ada nilainya. Mengapa Pendidikan agama sekarang ini kurang berhasl dalam pembinaan moral dan akhlak? Sebab sistem pendidikannya berangkat dari penekanan-penekanan doktrin (syariah), bukan menekankan pada fungsi agama itu sendiri. Apa perlunya beragama?  Bagaimana seharusnya beragama?

Bahkan ada yang menemukan filsafat Islam modern yang disebut dengan “Integralisme”, yaitu ingin mengembalikan tasawuf sebagai dimensi mistik Islam. Dan ini dipakai jalur untuk munculnya kebangkitan Islam. Menurut saya, tasawuf itu sebaiknya tak sampai pada mistik.

Dimensi tasawuf yang tak smapai pada mistik itu seperti apa? Kalau boleh saya mengatakan, yaitu sampai pada zuhud, artinya zuhud yang paling tinggi adalah zuhud “mahabbah”.

Jadi selebihnya dari mahabbah (cinta) ini, seperti fana dan baqa, ittihad, hulul, dan wahdat alwujud – adalah bukan tasawuf, tetapi mistik. Sedangkan ma’rifah tingkatannya sejajar dengan mahabbah, hanya berbeda dari segi pendekatannya. Mengapa paham mistik sampai masuk dalam tasawuf muslim? (seperti yang kita ketahui sekarang) karena terpengaruh dari ajaran mistik di luar Islam.

Zuhud tidak harus meninggalkan keramaian dunia, walaupun dunia yang penuh porak-poranda, walau dunia penuh dengan peradaban dan kebudayaan yang menjulang tinggi. Tetapi zuhud bisa dilakukan bersama mereka, sehingga kalau ini berhasil maka muncullah kehidupan yang makmur tapi adil dan damai.

Penulis: Endah H. (waktu itu mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)  Sumber: Panji Masyarakat, 21-30 November 1987

About the author

Panji Masyarakat

Platform Bersama Umat

Tinggalkan Komentar Anda